Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
seorang wanita yang sedang membaca buku
ilustrasi seorang wanita yang sedang membaca buku (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com by)

Intinya sih...

  • Nyaman Tanpa Beban – Kim Su Hyun: Membahas melepaskan rasa bersalah saat beristirahat, menerima keterbatasan diri, serta berani berkata “tidak” demi kesehatan mental.

  • Aku Bukan Menyerah, Tapi Sedang Lelah – Geulbaewoo: Berbicara tentang istirahat sebagai bentuk keberanian, bukan kelemahan. Pesannya relevan di bulan Ramadan.

  • Berdamai dengan Insecurity – Sony Adams: Menggali akar dari insecurity dan membangun self-awareness serta mengubah dialog internal yang negatif menjadi lebih sehat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan selalu jadi momen yang tepat untuk memperlambat ritme hidup dan kembali berdialog dengan diri sendiri. Selain memperbanyak ibadah, kita juga bisa mengisi waktu dengan bacaan yang menenangkan hati sekaligus membantu proses refleksi.

Di sini, aku akan rekomendasikan lima buku self development yang wajib kamu baca selama Ramadan. Isinya banyak membahas tentang belajar menerima diri, memeluk rasa lelah, dan menemukan kedamaian batin tanpa harus menjadi sempurna. Langsung cek rekomendasi bukunya di bawah ini, yuk!

1. Nyaman Tanpa Beban – Kim Su Hyun

cover buku Nyaman Tanpa Beban (gramedia.com)

Buku ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari tekanan sosial yang sering kali membuat kita merasa harus selalu kuat, produktif, dan menyenangkan semua orang. Kim Su Hyun menulis dengan gaya yang lembut dan reflektif, membahas bagaimana ekspektasi dari luar, termasuk keluarga, pekerjaan, hingga media sosial, tanpa sadar menjadi beban emosional. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti standar orang lain.

Isi bukunya banyak membahas tentang melepaskan rasa bersalah saat beristirahat, menerima keterbatasan diri, serta berani berkata “tidak” demi kesehatan mental. Cocok dibaca saat Ramadan karena pesannya sejalan dengan makna menenangkan hati dan menyederhanakan hidup bahwa kebahagiaan bisa hadir ketika kita tidak lagi membebani diri dengan tuntutan yang tidak perlu.

2. Aku Bukan Menyerah, Tapi Sedang Lelah – Geulbaewoo

cover buku Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah (gramedia)

Judulnya saja sudah terasa sangat relate. Buku ini berbicara tentang fase hidup ketika seseorang merasa lelah secara emosional dan mental, tetapi belum tentu berarti ia menyerah. Geulbaewoo menulis tentang burnout, overthinking, dan tekanan untuk terus terlihat baik-baik saja di depan orang lain.

Melalui refleksi dan potongan narasi yang personal, pembaca diajak memahami bahwa istirahat adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan. Buku ini membantu membedakan antara menyerah dan memberi diri ruang untuk pulih. Di bulan Ramadan, ketika kita belajar menahan diri dan mengatur ulang ritme hidup, pesan buku ini terasa sangat relevan: tidak apa-apa untuk melambat agar bisa kembali melangkah dengan lebih utuh.

3. Berdamai dengan Insecurity – Sony Adams

cover buku Berdamai dengan Insecurity (gramedia.com)

Sony Adams membahas rasa tidak percaya diri yang sering muncul karena perbandingan sosial, trauma masa lalu, atau standar kesuksesan yang terlalu tinggi. Buku ini tidak sekadar menyuruh pembaca untuk “percaya diri”, tetapi menggali akar dari insecurity itu sendiri dari pola pikir, pengalaman, hingga luka yang belum selesai.

Melalui pendekatan yang praktis dan reflektif, pembaca diajak membangun self-awareness serta mengubah dialog internal yang negatif menjadi lebih sehat. Ramadan menjadi waktu yang pas untuk membaca buku ini karena kita diajak memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, sama seperti kita memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama.

4. How to Respect Myself – Yoo Hong Gyun

cover buku How to Respect Myself (gramedia.com)

Buku ini fokus pada konsep menghargai diri sendiri sebagai fondasi kehidupan yang sehat. Yoo Hong Gyun menekankan bahwa banyak masalah, seperti hubungan toxic, sulit mengambil keputusan, hingga rasa tidak puas, berakar pada kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri.

Isinya mengajak pembaca menetapkan batasan yang sehat, mengenali nilai diri, serta berani memilih hal yang selaras dengan prinsip pribadi. Membacanya di bulan Ramadan bisa menjadi pengingat bahwa menjaga martabat dan harga diri juga bagian dari ibadah dan proses menjadi pribadi yang lebih baik.

5. The Comfort Book – Matt Haig

cover buku The Comfort Book (gramedia.com)

Berbeda dari buku lain yang berbentuk narasi panjang, The Comfort Book disusun dalam potongan refleksi, kutipan, dan catatan pendek tentang harapan, kecemasan, kesedihan, dan makna hidup. Matt Haig menulis berdasarkan pengalaman pribadinya menghadapi depresi, sehingga buku ini terasa jujur dan hangat.

Buku ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan penghiburan dalam kalimat-kalimat sederhana yang mudah direnungkan. Ia mengingatkan bahwa hidup selalu memiliki kemungkinan baru, bahkan setelah masa paling gelap. Dibaca saat Ramadan, buku ini seperti teman sunyi yang menemani waktu sahur atau menjelang berbuka.

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperlambat langkah dan memperkaya hati. Lima rekomendasi buku di atas bukan hanya menawarkan cerita yang menghibur, tetapi juga pesan spiritual yang bisa menemani proses refleksi diri.

Semoga salah satunya atau bahkan semuanya bisa menjadi teman ngabuburit atau sahurmu tahun ini, sekaligus memperkuat makna Ramadan yang sedang kamu jalani. Selamat membaca!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team