5 Buku Tentang Perempuan untuk Merayakan International Women’s Day

- International Women’s Day dirayakan dengan membaca lima buku yang menyoroti perjalanan, kekuatan, dan suara perempuan dari berbagai latar belakang serta pengalaman hidup.
- Lima buku tersebut mencakup refleksi psikologis, kisah feminis modern, panduan pengembangan diri, hingga novel sosial yang mengangkat isu budaya dan perjuangan perempuan.
- Lewat bacaan ini, pembaca diajak memahami keberanian dan ketahanan perempuan sekaligus merayakan identitas serta kebebasan mereka dalam menghadapi tekanan sosial dan tradisi.
Setiap tanggal 8 Maret, dunia merayakan International Women’s Day sebagai pengingat bahwa perempuan punya perjalanan, perjuangan, dan kekuatan yang luar biasa. Salah satu cara sederhana untuk ikut merayakannya adalah dengan membaca buku tentang wanita yang mengangkat suara, pengalaman, dan sudut pandang perempuan dari berbagai latar belakang.
Lewat buku, kita bisa melihat bagaimana perempuan menghadapi tekanan sosial, menemukan jati diri, hingga memperjuangkan kebebasan hidupnya. Di sini, aku ada lima rekomendasi buku yang menawarkan cerita yang berbeda, mulai dari refleksi psikologis, kisah pemberdayaan diri, hingga novel yang menggambarkan realitas pahit yang sering dialami perempuan. Penasaran, yuk, lihat di bawah ini!
1. Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan - Ester Lianawati

Buku ini mengajak pembaca melihat perempuan dari sisi psikologis yang lebih dalam. Ester Lianawati menggunakan metafora “serigala betina” untuk menggambarkan naluri alami perempuan yang sering kali ditekan oleh norma sosial. Lewat pendekatan psikologi dan refleksi kehidupan sehari-hari, buku ini menunjukkan bagaimana perempuan sebenarnya punya kekuatan batin, intuisi, dan keberanian yang sering tidak disadari.
Bahasanya cukup reflektif, membuat pembaca seperti diajak berdialog dengan diri sendiri. Buku ini cocok untuk perempuan yang sedang mencari pemahaman lebih dalam tentang identitasnya, tentang bagaimana menerima diri, mengenali emosi, dan kembali percaya pada suara hati sendiri.
2. Where The Wild Ladies Are - Matsuda Aoko

Buku ini adalah kumpulan cerita pendek yang unik karena menggabungkan folklore Jepang dengan perspektif feminis modern. Matsuda Aoko menulis ulang kisah-kisah perempuan dalam legenda Jepang yang dulu sering digambarkan tragis atau menyeramkan, lalu memberinya sudut pandang baru yang lebih manusiawi dan berdaya.
Gaya ceritanya terasa quirky, jenaka, tapi tetap menyentuh isu serius seperti patriarki, kesepian, hingga ekspektasi sosial terhadap perempuan. Membaca buku ini terasa seperti melihat dunia mitos Jepang dari kacamata baru, lebih segar, lebih kritis, dan kadang juga menghibur.
3. The Alpha Girl's Guide - Hendry Manampiring

Berbeda dari buku lainnya yang berupa fiksi, buku ini lebih seperti panduan pengembangan diri untuk perempuan muda. Hendry Manampiring membahas konsep “alpha girl” sebagai perempuan yang mandiri, percaya diri, dan punya kendali atas hidupnya sendiri, tanpa harus kehilangan empati atau nilai-nilai personal.
Isinya cukup praktis karena membahas banyak hal, mulai dari karier, keuangan, relasi, hingga pola pikir. Buku ini terasa seperti mentor yang memberi dorongan kepada perempuan agar berani mengambil keputusan, menetapkan tujuan hidup, dan membangun masa depan dengan lebih percaya diri.
4. Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam - Dian Purnomo

Novel ini terinspirasi dari praktik budaya nyata di Sumba yang berkaitan dengan pernikahan paksa. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang perempuan yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika hidupnya diputuskan oleh tradisi yang tidak memberinya pilihan.
Dian Purnomo menulis dengan sangat emosional dan puitis, membuat pembaca bisa merasakan ketakutan, kemarahan, dan harapan tokohnya. Buku ini bukan hanya kisah fiksi, tapi juga kritik sosial tentang bagaimana tubuh dan suara perempuan sering kali diabaikan dalam sistem budaya tertentu.
5. Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut - Dian Purnomo

Dalam novel ini, Dian Purnomo kembali menghadirkan cerita perempuan yang hidup di tengah tekanan sosial dan trauma masa lalu. Tokohnya digambarkan sebagai sosok yang menunggu, bukan hanya secara harfiah, tapi juga menunggu keadilan, pemulihan, dan kesempatan untuk kembali menemukan dirinya.
Cerita dalam buku ini terasa sunyi dan kontemplatif, dengan suasana yang cukup melankolis. Namun justru dari kesunyian itu, pembaca bisa melihat kekuatan perempuan yang perlahan bangkit dari luka dan mencoba berdamai dengan kehidupannya.
Lewat berbagai genre, mulai dari refleksi psikologi, kumpulan cerita pendek, buku pengembangan diri, hingga novel sosial—kelima buku ini menunjukkan betapa beragamnya pengalaman perempuan. Setiap cerita membuka perspektif baru tentang perjuangan, ketahanan, dan keberanian perempuan dalam menghadapi dunia.
Membaca buku tentang perempuan seperti ini juga bisa menjadi cara sederhana untuk merayakan International Women’s Day. Bukan hanya sebagai perayaan, tapi juga sebagai ruang untuk memahami suara perempuan, menghargai perjuangannya, dan melihat dunia dari sudut pandang yang mungkin selama ini jarang kita dengar.