Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Buku yang Mengungkap Celah dalam Choice Feminism
Buku The House of Mirth, The Beauty Myth, dan Right-Wing Women (dok. Penguin/The House of Mirth | dok. Vintage/The Beauty Myth | dok. Penguin/Right-Wing Women)
  • Perdebatan choice feminism mencuat karena pilihan perempuan menjadi ibu rumah tangga atau bekerja tidak selalu berlangsung dalam kondisi akses dan kebebasan yang setara.
  • Lima buku rekomendasi mengkritik pilihan yang tampak personal, termasuk standar kecantikan, emansipasi seksual, peran gender tradisional, serta dampak patriarki dan kapitalisme.
  • Pembahasannya menekankan pentingnya melihat ketimpangan kelas, rasial, perlindungan, dan akses agar feminisme tidak mengabaikan keterbatasan pilihan perempuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beberapa waktu belakangan, media sosial sedang disibukkan dengan perdebatan soal choice feminism, yakni keyakinan bahwa pilihan sadar perempuan harus dihargai. Salah satu pemicunya adalah perdebatan antara perempuan yang ingin jadi ibu rumah tangga dan dinafkahi oleh pasangan dengan perempuan yang bekerja. Keduanya memang terlihat sebagai pilihan dan hak prerogatif, tetapi menjadi debat karena melupakan fakta bahwa tidak semua perempuan punya keleluasaan memilih.

Inilah mengapa choice femisim dianggap punya celah dan harus didiskusikan lebih lanjut. Penasaran soal topik ini? Berikut lima rekomendasi buku yang mengupas choice feminism dan memaksa kita memikirkan kembali keabsahannya untuk dipraktikkan.

1. The Beauty Myth (Naomi Wolf)

The Beauty Myth karya Naomi Wolf (dok. Vintage/The Beauty Myth)

Dalam buku ini, Wolf sebenarnya berargumen tentang standar kecantikan yang mengekang perempuan di ranah publik. Mereka dituntut tampil sempurna dan cantik sesuai standar tertentu hingga akhirnya menjadi target pasar pebisnis kosmetik dan produk perawatan kulit.

Kini, dengan choice feminism, keinginan perempuan untuk tampil sesuai standar kecantikan dominan ini sering direduksi sebagai pilihan pribadi yang harus dihargai. Kita melupakan bahwa standar tersebut awalnya adalah ciptaan kelompok berkuasa. Istilah yang ia pakai adalah “konspirasi kultural”, sehingga melanggengkannya bisa jadi bentuk dukunganmu terhadap opresi dan ideasi-ideasi kecantikan serta kesempurnaan yang tak manusiawi.

2. The Case Against Sexual Revolution (Louise Perry)

The Case Against Sexual Revolution karya Louise Perry (dok Polity Press/The Case Against Sexual Revolution)

Louise Perry akan menantangmu dengan argumennya tentang sisi gelap revolusi seks di kalangan perempuan. Revolusi dalam bentuk emansipasi seksual yang diyakini para penganut choice feminism, menurutnya, pada akhirnya hanya akan menguntungkan laki-laki. Ini karena pada akhirnya perempuan yang akan menanggung risiko lebih besar. Bahkan dalam ranah profesional sekalipun, yakni ketika mereka memilih menjadi pekerja seks yang dibayar.

Pada akhirnya, tanpa perlindungan dan akses yang setara, emansipasi seksual ini jadi senjata makan tuan untuk perempuan. Ia juga menyoroti dilema persetujuan (consent) yang menurutnya terlalu rendah dan rentan untuk dijadikan basis dalam menilai keabsahan sebuah hubungan.

3. Trick Mirror (Jia Tolentino)

Trick Mirror karya Jia Tolentino (dok. Penguin Random House/Trick Mirror)

Trick Mirror adalah kumpulan esai Jia Tolentino yang bernapaskan feminisme. Ia menyorot beberapa istilah yang lekat dengan choice feminism dan mengupasnya dengan sudut pandang kritis. Salah satunya adalah kasus pemerkosaan yang menimpa seorang mahasiswi di kampus Tolentino sendiri, University of Virginia, Charlottesville, AS.

Ia menyoroti perspektif tak berimbang yang dipakai beberapa media saat meliput kasus tersebut. Ada indikasi mereka menyalahkan korban dan menganggap kasus ini sebagai bentuk seks transaksional.

Tolentino kemudian mengkritisi pengabaian faktor lain seperti ketimpangan kelas dan opresi berbasis rasial. Ia juga menyinggung bagaimana kapitalis mengkooptasi feminisme dan mengubahnya jadi ladang bisnis ketimbang agen perubahan sosial.

4. Right-Wing Women (Andrea Dworkin)

Right-Wing Women karya Andrea Dworkin (dok. Penguin/Right-Wing Women)

Choice feminism akan terasa tak relevan ketika kamu membaca buku Right-Wing Women karya Andrea Dworkin. Buku ini sebenarnya mengulik alasan-alasan masuk akal di balik keputusan sebagian perempuan untuk jadi bagian dari patriarki alias mendukung status quo ketimbang mempertanyakannya dan melawannya.

Salah satu alasan yang diulik Dworkin adalah keterbatasan pilihan dan akses yang akhirnya membuat sebagian perempuan melihat pernikahan dan submisi terhadap peran gender tradisional sebagai jalan keluar terbaik.

5. House of Mirth (Edith Wharton)

The House of Mirth karya Edith Wharton (dok. Penguin/The House of Mirth)

Bonus buat pencinta fiksi, kamu bisa memahami bagaimana choice feminism bekerja lewat novel House of Mirth. Novel ini berpusat pada Lily Bart, perempuan yang sudah melakukan apa saja yang masyarakat inginkan dan harapkan darinya. Ia berparas rupawan, lemah lembut, dan bertata krama. Apa pun tentangnya sudah sesuai dengan ekspektasi dan prinsip dominan saat itu, patriarki.

Namun, ternyata ia tetap tak bisa menemukan pria yang bersedia menikahi dan menafkahinya. Apa yang salah dengan Lily? Buku ini jadi demonstrasi ideal tentang keterbatasan pilihan perempuan yang bikin argumen choice feminism tak lagi relevan, terutama bila dihadapkan pada divisi kelas sosial ekonomi.

Dari kelima buku tadi, kita bakal belajar jadi pembaca yang kritis. Akan ada banyak pertanyaan dan bahan kontemplasi baru yang kamu dapatkan. Darinya pula kita bakal sadar tentang pentingnya interseksionalitas (termasuk kesadaran kelas) dalam studi feminisme. Tertarik belajar lebih jauh?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article