Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Hal yang Membuat Mahasiswa Dapat Kesan Buruk dari Dosen
ilustrasi dosen dan mahasiswa sedang bimbingan (unsplash.com/Small Group Network)
  • Dosen menilai mahasiswa bukan hanya dari nilai, tapi juga dari sikap, etika, dan tanggung jawab selama perkuliahan berlangsung.
  • Kebiasaan seperti datang terlambat, telat mengumpulkan tugas, bermain HP di kelas, hingga komunikasi tidak sopan dapat menimbulkan kesan negatif di mata dosen.
  • Reputasi baik dibangun lewat kedisiplinan, kejujuran, serta cara berinteraksi yang menghargai dosen dan proses belajar di kampus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi mahasiswa bukan hanya soal mengerjakan tugas dan mengejar nilai bagus. Selama kuliah, dosen juga mengamati bagaimana sikap, etika, dan tanggung jawab setiap mahasiswanya. Tidak heran kalau ada mahasiswa yang langsung meninggalkan kesan positif, sementara yang lain justru dikenal karena kebiasaan-kebiasaan yang kurang menyenangkan.

Meski dosen tetap dituntut bersikap profesional, kesan pertama maupun kebiasaan sehari-hari mahasiswa tetap bisa memengaruhi cara dosen mengenal mereka. Bukan berarti dosen akan pilih kasih, tetapi memiliki reputasi yang baik tentu bisa memberikan banyak keuntungan, mulai dari komunikasi yang lebih nyaman hingga peluang mendapatkan rekomendasi akademik di kemudian hari. Nah, supaya tidak meninggalkan citra negatif, yuk cari tahu hal apa saja yang sering membuat mahasiswa mendapat kesan buruk dari dosen.

1. Terlalu sering datang terlambat

ilustrasi mahasiswa sedang belajar (pexels.com/Yan Krukau)

Sesekali terlambat memang bisa dimaklumi, apalagi kalau ada keadaan yang benar-benar mendesak. Namun, kalau hampir setiap pertemuan datang belakangan tanpa alasan yang jelas, dosen biasanya akan menilai mahasiswa tersebut kurang menghargai waktu. Kebiasaan ini juga mengganggu jalannya perkuliahan. Saat dosen sedang menjelaskan materi, mahasiswa yang baru datang sering kali membuat konsentrasi kelas terpecah. Lama-kelamaan, keterlambatan yang berulang bisa membentuk kesan bahwa mahasiswa tersebut kurang disiplin.

2. Mengumpulkan tugas melewati tenggat waktu

ilustrasi mahasiswa arsitektur sedang mengerjakan tugas (unsplash.com/Daniel McCullough)

Deadline dibuat bukan tanpa alasan. Dosen biasanya sudah menyusun jadwal penilaian agar proses perkuliahan berjalan sesuai rencana. Karena itu, mahasiswa yang sering terlambat mengumpulkan tugas bisa dianggap kurang bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Lebih buruk lagi jika keterlambatan selalu disertai alasan yang berbeda-beda. Sekali dua kali mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi jika menjadi kebiasaan, dosen tentu akan mempertanyakan keseriusan mahasiswa tersebut dalam mengikuti mata kuliah.

3. Bermain HP saat dosen sedang mengajar

ilustrasi dosen sedang mengajar (unsplash.com/Tra Nguyen)

Saat ini hampir semua materi kuliah memang bisa diakses lewat gadget. Namun, dosen juga bisa membedakan mana mahasiswa yang benar-benar membuka materi dan mana yang sibuk scrolling media sosial atau membalas chat. Terlalu fokus pada HP saat perkuliahan berlangsung memberi kesan bahwa mahasiswa tidak menghargai usaha dosen dalam menyampaikan materi. Padahal, menjaga kontak mata dan sesekali memberikan respons sederhana sudah cukup menunjukkan bahwa kita memperhatikan penjelasan di kelas.

4. Jarang berpartisipasi, tapi banyak protes soal nilai

ilustrasi mahasiswa dan dosen (pexels.com/Yan Krukau)

Tidak semua mahasiswa harus aktif berbicara di kelas. Ada yang memang lebih nyaman belajar dengan mendengarkan. Namun, situasinya berbeda ketika selama satu semester hampir tidak pernah bertanya, berdiskusi, atau menunjukkan keterlibatan, tetapi langsung protes saat nilai ujian keluar. Kondisi seperti ini sering meninggalkan kesan kurang baik. Dosen biasanya lebih menghargai mahasiswa yang berusaha aktif selama proses belajar daripada mereka yang baru muncul ketika nilai dirasa tidak sesuai harapan.

5. Tidak sopan saat berkomunikasi

ilustrasi dosen dan mahasiswa sedang bimbingan (unsplash.com/Small Group Network)

Cara menyampaikan pesan kepada dosen juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Mengirim chat tanpa salam, menggunakan bahasa yang terlalu santai, atau menghubungi dosen pada jam yang kurang pantas bisa memberikan kesan kurang profesional. Sebagai mahasiswa, penting untuk tetap menjaga etika komunikasi. Bahasa yang sopan bukan berarti harus kaku, tetapi cukup menunjukkan rasa hormat kepada orang yang sedang kita ajak berbicara.

6. Sering mencari alasan daripada mengakui kesalahan

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Yan Krukau)

Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana cara menyikapinya. Ada mahasiswa yang berani mengakui kelalaiannya dan meminta maaf, tetapi ada juga yang selalu menyalahkan keadaan atau orang lain. Dosen umumnya lebih menghargai kejujuran daripada sederet alasan yang dibuat-buat. Sikap bertanggung jawab justru menunjukkan kedewasaan dan kemauan untuk belajar dari kesalahan.

Pada akhirnya, reputasi yang baik di lingkungan kampus bukan dibangun dari nilai IPK saja, tetapi juga dari kebiasaan dan sikap sehari-hari. Jadi, kalau masih ada kebiasaan-kebiasaan di atas yang sering dilakukan, tidak ada salahnya mulai memperbaikinya dari sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article