Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Toxic Positivity dalam Pertemanan Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Toxic Positivity dalam Pertemanan Bisa Ganggu Kesehatan Mental
ilustrasi seorang wanita menenangkan sahabtanya yang sedih (pexels.com/www.kaboompics.com)
Intinya Sih
  • Toxic positivity dalam pertemanan membuat seseorang merasa emosinya tidak valid dan sulit mengekspresikan kesedihan, sehingga meningkatkan stres serta tekanan mental.
  • Sikap terlalu menuntut positif dapat memicu kebiasaan memendam masalah, menurunkan kualitas komunikasi, dan menciptakan jarak emosional antar teman.
  • Dorongan untuk selalu bahagia menghambat proses pemulihan mental, menimbulkan rasa bersalah atas kesedihan, serta berisiko menyebabkan overthinking dan kelelahan emosional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Dalam hubungan pertemanan, dukungan emosional seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk bercerita. Namun, tidak semua respons yang terdengar positif benar-benar menenangkan, justru membuat seseorang merasa emosinya tidak valid.

Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu terlihat bahagia dan berpikir positif dalam situasi apa pun. Saat peringatan mental health awareness month, isu toxic positivity semakin sering dibahas karena dampaknya cukup besar terhadap kesehatan mental. Supaya lebih waspada, berikut beberapa bahaya toxic positivity dalam hubungan pertemanan yang perlu dipahami.

1. Membuat seseorang merasa emosinya tidak valid

seroang wanita yang merasa sedih
ilustrasi seroang wanita yang merasa sedih (pexels.com/Liza Summer)

Toxic positivity sering membuat seseorang merasa tidak punya ruang untuk sedih, kecewa, atau marah. Ketika teman selalu merespons curhatan dengan kalimat positif tanpa empati, orang yang bercerita bisa merasa emosinya dianggap berlebihan. Padahal, setiap emosi memiliki alasan dan perlu diproses dengan sehat.

Lama-kelamaan, seseorang jadi terbiasa memendam perasaan demi terlihat “baik-baik saja”. Kebiasaan ini dapat meningkatkan stres emosional dan membuat kondisi mental semakin berat karena tidak ada ruang aman untuk mengekspresikan diri.

2. Memicu kebiasaan memendam masalah

seroang wanita yang merasa sedih
lustrasi seroang wanita yang merasa sedih (pexels.com/RDNE Stock project)

Lingkungan pertemanan yang terlalu menuntut sikap positif dapat membuat seseorang enggan terbuka tentang masalahnya. Mereka takut dianggap lemah, negatif, atau kurang bersyukur saat menunjukkan kesedihan. Akibatnya, banyak masalah emosional dipendam sendirian.

Padahal, berbagi cerita dengan orang terpercaya merupakan salah satu cara menjaga kesehatan mental. Dalam momentum mental health awareness month, penting untuk mengingat bahwa mendengarkan tanpa menghakimi jauh lebih berarti dibanding memaksa seseorang cepat merasa bahagia.

3. Menurunkan kualitas hubungan pertemanan

hubungan pertemanan wanita
ilustrasi hubungan pertemanan wanita (pexels.com/Anastasiya Gepp)

Pertemanan yang sehat dibangun lewat rasa aman dan saling memahami. Namun, toxic positivity justru membuat komunikasi terasa dangkal karena seseorang hanya diperbolehkan menunjukkan sisi ceria saja. Hubungan pun menjadi kurang tulus dan penuh batas emosional.

Jika terus terjadi, teman yang merasa tidak didengarkan bisa mulai menjaga jarak. Mereka merasa kehadirannya hanya diterima saat sedang bahagia, bukan ketika sedang berada di titik terendah dalam hidup.

4. Membuat seseorang merasa bersalah atas kesedihannya

seroang wanita yang merasa sedih
lustrasi seroang wanita yang merasa sedih (pexels.com/Alena Darmel)

Kalimat seperti “kamu harusnya tetap bersyukur” sering terdengar sederhana, tetapi bisa memicu rasa bersalah pada orang yang sedang terpuruk. Mereka jadi merasa sedih adalah sesuatu yang salah dan tidak pantas dirasakan.

Perasaan bersalah ini dapat memperburuk kondisi emosional karena seseorang terus menekan emosinya sendiri. Alih-alih pulih, mereka justru semakin lelah secara mental karena harus berpura-pura kuat di depan orang lain.

5. Menghambat proses pemulihan mental

seorang wanita sedang merasa sedih
ilustrasi seorang wanita sedang merasa sedih (pexels.com/Polina Zimmerman)

Setiap orang membutuhkan waktu berbeda untuk pulih dari masalah hidup. Toxic positivity membuat proses tersebut terasa terburu-buru karena seseorang didorong untuk segera bangkit tanpa benar-benar memproses luka emosionalnya.

Dalam banyak kasus, emosi yang ditekan justru bisa muncul kembali dalam bentuk stres berkepanjangan, burnout, atau ledakan emosi. Karena itu, mental health awareness month menjadi pengingat penting bahwa menerima emosi negatif juga bagian dari menjaga kesehatan mental.

6. Membuat dukungan terasa tidak tulus

seorang wanita menenangkan sahabtanya yang sedih
ilustrasi seorang wanita menenangkan sahabtanya yang sedih (pexels.com/SHVETS production)

Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi atau nasihat panjang. Mereka hanya ingin didengarkan. Namun, toxic positivity sering membuat respons terasa seperti formalitas motivasi yang minim empati.

Alih-alih merasa tenang, orang yang curhat justru merasa sendirian. Dukungan yang terlalu dipaksakan untuk selalu positif dapat menciptakan jarak emosional dalam pertemanan dan membuat komunikasi menjadi kurang nyaman.

7. Meningkatkan risiko overthinking dan emotional exhaustion

seorang wnaita yang overthinking
ilustrasi seorang wnaita yang overthinking (pexels.com/MART PRODUCTION)

Saat seseorang terus menahan emosi demi terlihat positif, pikirannya bisa menjadi lebih penuh dan melelahkan. Mereka cenderung overthinking karena tidak memiliki tempat aman untuk meluapkan perasaan yang sebenarnya.

Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini dapat memicu emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Karena itu, penting untuk membangun lingkungan pertemanan yang lebih suportif, realistis, dan penuh empati, bukan sekadar dipenuhi kata-kata motivasi instan.

Toxic positivity sering muncul tanpa disadari karena dibungkus dengan niat baik dan kata-kata positif. Namun, jika dilakukan terus-menerus, sikap ini bisa membuat seseorang merasa sendirian, tidak dipahami, bahkan kesulitan memproses emosinya sendiri.

Dengan memahami dampak dari toxic positivity ini, kamu bisa lebih mengerti bahwa dukungan yang sehat bukan tentang memaksa orang untuk selalu kuat, melainkan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi.diharapkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More