Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jurusan Kuliah Ternyata Tidak Sesuai Ekspektasi? Harus Gimana?
ilustrasi mahasiswa (unsplash.com/javier trueba)
  • Rasa kecewa terhadap jurusan kuliah sering muncul karena ekspektasi dan realitas berbeda.

  • Tidak semua rasa capek berarti salah jurusan karena bisa jadi hanya masa adaptasi.

  • Jika benar-benar tidak cocok, pindah jurusan bukan keputusan yang buruk.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Waktu masih SMA, banyak orang membayangkan jurusan kuliah favorit mereka sebagai sesuatu yang menakjubkan. Ada yang masuk jurusan impian karena suka sejak lama, ada juga yang memilih jurusan karena kata orang punya prospek kerja bagus. Namun, saat sudah benar-benar menjalani perkuliahan, ternyata realitasnya tidak selalu sesuai bayangan.

Awalnya mungkin masih semangat. Namun, makin lama, mulai muncul pikiran, “Kok ternyata gak seseru itu, ya?”, “Kenapa materinya susah dipahami?”, atau bahkan, “Aku salah jurusan, gak, sih?” Kalau sedang ada pada fase ini, tenang, kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa juga mengalami hal yang sama, bahkan sejak semester awal.

1. Ekspektasi dan kenyataan kuliah memang sering berbeda

ilustrasi mahasiswa sedang kuliah (pexels.com/Yusuf Çelik)

Salah satu penyebab utama rasa kecewa terhadap jurusan ialah ekspektasi yang terlalu tinggi atau kurang realistis. Kadang, kita memilih jurusan hanya dari gambaran luarnya, misalnya ada yang masuk jurusan Psikologi karena mengira akan belajar membaca pikiran orang. Ada juga yang masuk teknik karena suka hitung-hitungan, tapi ternyata lebih banyak praktikum dan tugas proyek. Bahkan, jurusan yang terlihat santai dari luar pun bisa ternyata penuh tenggat.

Belum lagi, waktu SMA kita sering hanya tahu nama jurusan, bukan isi kuliah secara detail. Jadi, ketika sudah benar-benar masuk, muncul culture shock akademik yang lumayan membuat bingung. Sebenarnya, itu normal, lho.

2. Coba bedakan ini memang salah jurusan atau hanya kaget?

ilustrasi mahasiswa jurusan Kehutanan (vecteezy.com/Saranyoo Chantawong)

Ini penting sekali dipahami karena tidak semua rasa capek berarti salah pilih jurusan. Kadang, yang terjadi sebenarnya ialah masih masa adaptasi. Apalagi pada semester awal, mahasiswa biasanya masih kaget dengan sistem kuliah, tugas yang menumpuk, dosen yang berbeda-beda, sampai lingkungan baru.

Kalau masih penasaran dengan materinya meski sering ngeluh capek, bisa jadi kamu sebenarnya masih cocok. Hanya saja kamu belum terbiasa. Namun, kalau setiap belajar rasanya kosong terus, tidak ada ketertarikan sama sekali, bahkan makin lama makin tertekan, mungkin memang ada ketidakcocokan yang perlu dipikirkan lebih serius.

3. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri

ilustrasi mahasiswa merasa lelah (pexels.com/Andy Barbour)

Banyak mahasiswa merasa gagal hanya karena ternyata tidak menikmati jurusan impian mereka. Padahal, manusia bisa berubah. Minat waktu umur 17 tahun belum tentu sama ketika umur 20 tahun. Dulu, kamu mungkin suka sesuatu karena terlihat keren, tapi sekarang mulai sadar ternyata renjanamu ada di bidang lain.

Itu bukan berarti kamu bodoh atau tidak konsisten. Kadang, kita baru benar-benar mengenal diri sendiri setelah menjalani sesuatu secara langsung. Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri, ya!

4. Cari tahu bagian mana yang membuatmu tidak nyaman

ilustrasi mahasiswa sedang belajar (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Sebelum mengambil keputusan besar, coba evaluasi dulu lebih spesifik. Apakah kamu tidak suka seluruh jurusannya? Apa sebenarnya hanya tidak cocok dengan mata kuliah tertentu?

Ada juga mahasiswa yang ternyata suka ilmunya, tapi tidak tahan dengan lingkungan kompetitifnya. Ada yang suka teorinya, tapi tidak nyaman saat praktik. Bahkan, ada yang sebenarnya kuat kuliah, hanya saja sedang burnout karena tugas terlalu banyak. Semakin spesifik kamu memahami masalahnya, semakin mudah menentukan langkah berikutnya.

5. Diskusi dengan orang yang pernah ada di posisi serupa

ilustrasi belajar bersama (unsplash.com/Keisha Kim)

Kadang, kita terlalu tenggelam dalam pikiran sendiri sampai merasa semua sudah hancur. Padahal, belum tentu seperti itu. Coba ngobrol dengan kakak tingkat, alumnus, teman dekat, atau orang yang pernah merasa salah jurusan juga. Bisa jadi mereka punya pengalaman yang mirip.

Menariknya, banyak mahasiswa yang awalnya merasa salah jurusan ternyata mulai menikmati kuliah mereka setelah menemukan bidang yang cocok untuk mereka. Sebab, satu jurusan punya banyak cabang yang bisa dipelajari lebih dalam. Arah karier juga sering kali lebih luas dari yang dibayangkan saat pertama masuk kuliah.

6. Kalau memang sudah sangat tidak cocok, pindah juga bukan hal buruk

ilustrasi mahasiswa sedang belajar (pexels.com/olia danilevich)

Ada kalanya, seseorang memang benar-benar salah memilih jurusan. Kalau setelah dipikir matang-matang kamu merasa pindah adalah pilihan terbaik, itu sah-sah saja. Daripada memaksakan diri bertahan sambil terus merasa tertekan, kadang memulai ulang justru lebih sehat. Yang penting, keputusan itu diambil karena pertimbangan matang, bukan sekadar panik sesaat setelah dapat nilai jelek atau sedang capek kuliah.

Jadi, kalau sekarang merasa jurusan kuliah tidak sesuai ekspektasi, kamu tidak perlu langsung panik. Coba pahami dulu apa yang sebenarnya membuat kamu merasa tidak nyaman selama kuliah. Setelah itu, evaluasi pelan-pelan dan tentukan langkah yang paling masuk akal sesuai kondisi diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article