Kolonisasi memang sudah dihapuskan dari dunia, begitu menurut piagam PBB. Namun, nyatanya, praktik yang bertahan beberapa abad itu tak bisa begitu saja dihapuskan. Legasinya tak main-main, baik dalam bentuk ketergantungan ekonomi, bias superioritas, sampai konflik perbatasan. Sebagai warga negara bekas jajahan, sayangnya kita belum benar-benar melakukan dekolonisasi.
Tren Dekolonisasi Bacaan dan Tontonan, Wajib Dicoba WNI

Masih banyak dari kita yang meromantisasi penjajahan, menganggap era itu lebih baik dibandingkan dengan merdeka di bawah pemerintah lokal sekarang. Meski argumen itu tak sepenuhnya salah, tanpa kita sadari, praktik glorifikasi tersebut adalah salah satu manifestasi legasi kolonial. Beruntung, ada salah satu tren positif yang berkembang di media sosial dan berkaitan dengan upaya dekolonisasi.
Tantangannya sederhana, yakni mencoba melihat media yang kita konsumsi dari kacamata dekolonisasi. Kalau dahulu kita mengiyakan dan mengikuti narasi Barat dan Eropa-sentris yang mendominasi budaya lewat film dan bacaan, sekarang kita didorong untuk melihatnya dari sudut pandang antikolonialisme. Bagaimana cara tren dekolonisasi bacaan dan tontonan ini bekerja?
1. Mulai dengan mengonsumsi karya dari tokoh-tokoh non-Barat

Cara paling mudah untuk mulai melakukan dekolonisasi bacaan dan tontonan adalah dengan melirik karya-karya dari tokoh non-Barat. Sebagai warga negara bekas jajahan, kamu bisa mencoba karya seniman dan penulis lokal, terutama yang mengusung genre sejarah. Jika sudah, coba cek rak buku dan daftar film yang kamu tonton, apakah mereka sudah cukup beragam? Jangan-jangan mereka masih didominasi oleh karya-karya yang ditulis dari sudut pandang Barat dan Eropa-sentris.
Coba cari novel terjemahan dari penulis Asia dan Afrika, terutama yang negaranya juga pernah mengalami penjajahan. Begitu pula dengan film, coba sutradara dari dua benua itu dulu untuk memulai, seperti Ousmane Sembène dan Glauber Rocha. Setelah itu, boleh lanjut dengan mencoba film dan buku yang mengekspos eksistensi etnis minoritas. Umumnya mereka adalah orang-orang pribumi yang bernasib sama dengan penduduk negara jajahan. Bedanya, kini mereka tinggal berdampingan dengan para pendatang Eropa tersebut.
2. Petakan elemen kolonial dalam media yang kamu konsumsi

Setelah mengenal karya-karya dari tokoh non-Barat, kamu tak akan jadi pembaca dan penonton yang sama lagi. Buktikan dengan menonton atau membaca ulang film dan buku yang sering disebut legenda. Untuk film, coba, deh, tonton lagi film epik sejarah Lawrence of Arabia (1962) dan Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark (1981). Untuk novel, silakan baca kembali novel-novel klasik macam Robinson Crusoe, Heart of Darkness, dan Jane Eyre.
Niscaya kamu akan menemukan banyak unsur colonial gaze dalam karya-karya tadi. Amat mudah menemukan adegan dan hal yang dipotret serta dikomentari dari perspektif orang kulit putih. Mereka melakukan penghakiman secara langsung dan tak langsung serta senantiasa menempatkan diri sebagai penyelamat atau pihak paling benar. Sementara, warga pribumi atau lokal ditempatkan sebagai objek belaka, tak punya agensi dan dianggap lemah serta kehilangan arah.
3. Pelajari juga konsep interseksionalitas

Setelah berkenalan dengan unsur colonial gaze, kamu bisa melanjutkan tren dekolonisasi dengan belajar konsep interseksionalitas. Konsep ini percaya bahwa manusia itu selalu punya lebih dari satu identitas. Misalnya, kamu perempuan yang juga warga negara bekas jajahan, sehingga pengalamanmu dengan perempuan dari negara penjajah pun akan berbeda. Kamu seorang warga negara bekas jajahan dari keluarga berada, sehingga pengalamanmu akan berbeda dengan yang terlahir dari keluarga sederhana.
Memahami interseksionalitas akan membantumu memahami kolonialisme. Pada praktiknya, ini tidak hanya proyek diskriminasi rasial belaka, tetapi juga ada isu kelas, gender, dan disabilitas di dalamnya. Seperti kita tahu, kolonialisme beririsan dengan kapitalisme, patriarki, dan ableisme yang bila kamu perhatikan lebih detail akan jelas benang merahnya. Konsep ini akan membuatmu melihat kolonial dengan pendekatan yang lebih utuh dan tak lagi ambigu.
Ketika jenuh dengan media mainstream, sebenarnya otakmu sedang memberi sinyal bahwa ia butuh stimulasi baru yang segar. Tren dekolonisasi bacaan dan tontonan bisa jadi jawabannya. Ia akan mengubah caramu mengonsumsi media di tengah banjir konten seperti sekarang.






![[QUIZ] Career Check: Kamu Lagi Burnout, Bosan, atau Memang Sudah Saatnya Resign?](https://image.idntimes.com/post/20250731/pexels-mart-production-7605197_dc361a96-710c-45c2-8241-59436766b720.jpg)















