Kenapa Sih Kita Susah Chat Tanpa Emoji? Ini Alasannya

- Emoji membantu menghindari salah tafsir nada pesan dan membuat instruksi atau kalimat terasa lebih ramah serta ekspresif.
- Penggunaan emoji mencerminkan kepribadian, memperkuat citra diri agar tidak terkesan kaku, dan menambah kesan kreatif dalam percakapan.
- Emoji mempermudah komunikasi bagi yang kurang mahir menulis, menjaga interaksi tetap seru, serta menarik perhatian di tengah kebiasaan membaca cepat.
Seberapa sering kamu menambahkan emoji dalam chat-mu dengan siapa pun? Bila dirimu gak pernah atau jarang sekali memakai tambahan emoji, pasti cukup kerap menerima pesan dengan berbagai emoji. Bahkan dalam satu kalimat kadang ada beberapa emoji sekaligus.
Mungkin buatmu itu aneh serta menimbulkan berbagai pertanyaan. Apa sih, sebenarnya fungsi emoji dalam percakapan teks? Kenapa banyak dari kita saat ini gemar sekali menggunakannya?
Malah terkadang gak ada kata apa pun dan cuma deretan emoji. Misalnya, tiga emoji tertawa atau menangis. Memang secara umum maksud dari emoji itu mudah ditangkap. Akan tetapi, berikut alasan tambahan ekspresi dalam chat melalui pemakaian emoji dirasa wajib bagi sebagian orang.
1. Takut kalimat dibaca dengan nada berbeda

Walaupun kalimat sudah disertai dengan tanda baca yang tepat sesuai jenis kalimatnya, banyak orang masih mungkin membacanya dengan nada berbeda. Misal, kalimat diakhiri dengan tanda baca titik. Namun, isi pesannya memang tegas atau berisi instruksi.
Beberapa orang dapat membacanya dengan nada tinggi. Seakan-akan ia sedang dimarahi atau disuruh mengerjakan sesuatu saat itu juga. Dengan penambahan emoji, cara penerima pesan dalam membaca kalimat menjadi berbeda.
Sama-sama instruksi pekerjaan, tetapi ada emoji api yang berkobar di akhir kalimat. Orang cenderung membacanya sebagai tambahan penyemangat untuknya menyelesaikan tugas. Kalau emojinya kedua telapak tangan ditangkupkan, rasanya seperti mendapatkan permintaan tolong dari seseorang yang sangat berterima kasih atas kesediaannya. Bukan ia asal memerintah.
2. Khawatir dianggap sebagai pribadi yang kaku

Sedikit banyak manusia suka dan merasa perlu membangun citra diri tertentu di mata orang lain. Jangan sampai orang yang kurang mengenalnya mengambil berbagai kesimpulan keliru tentangnya. Selain dengan rajin bikin unggahan untuk mem-branding diri, mereka juga memanfaatkan efek emoji dalam percakapan teks.
Misalnya, orang yang kerap menggunakan emoji tertawa akan dinilai sebagai sosok yang suka bercanda. Kalimat apa pun yang diketik olehnya diharapkan bakal terasa lebih menyenangkan saat penerima pesan melihat emoji yang digunakan. Tanpa penambahan emoji, kalimat yang sebenarnya lucu pun dapat terbaca garing.
Emoji memang tampak sebagai gambar yang sederhana. Akan tetapi, orang yang memakainya secara bervariasi dinilai lebih imajinatif dan kreatif. Dia memahami arti serta cara pemakaian simbol-simbol secara tepat. Bukan sekadar fokus ke makna kata-kata.
3. Emoji membantu orang yang gak jago menulis pesan

Tidak semua orang piawai menulis. Bahkan sekadar menulis pesan teks yang tak seberapa panjang. Bukan menulis cerita pendek apalagi buku sekian halaman. Orang dengan kemampuan menulis kurang, tiap kalimatnya rentan memicu kesalahpahaman dengan orang lain.
Kalimatnya dapat dimaknai berbeda-beda tergantung siapa yang membaca. Di sinilah orang merasa perlu memakai emoji. Agar ekspresi yang ditunjukkan oleh emoji tersebut membantu memperjelas isi pesannya.
Lebih simpel pakai emoji ketimbang orang dengan kemampuan menulis pesan rendah mesti menjelaskan sesuatu berulang-ulang. Bukannya penerima pesan menjadi lebih mudah memahami, malah boleh jadi tambah bingung. Buat orang yang kemampuannya memilih kata sangat buruk, menanggapi pesan hanya dengan emoji dapat lebih efektif.
4. Seseorang duluan pakai emoji, masa kita tidak membalasnya?

Kebiasaan menggunakan emoji dalam chat juga kerap dilatarbelakangi sesimpel cara orang lain chat duluan. Bayangkan rasanya menjadi orang yang membanjiri kalimatnya dengan emoji lalu mendapat balasan tanpa emoji sama sekali. Isi balasan 100 persen kata dan tanda baca.
Dia mungkin seketika merasa sedang berhadapan dengan orang yang kurang suka berkomunikasi dengannya. Oleh sebab itu, banyak orang menambahkan emoji dalam chat sebagai balasan atas emoji orang lain. Saling membalas ekspresi digital perlu dilakukan agar percakapan berjalan seru.
Tidak membosankan seakan-akan hanya satu orang yang menunjukkan effort lebih. Mau emoji yang dipilih sama atau berbeda dengan emoji pengirim pesan pertama, yang penting masih nyambung. Jangan emojinya bertolak belakang yang membuat obrolan menjadi canggung. Seperti emoji ketawa dibalas dengan emoji marah.
5. Khusus untuk permohonan maaf, emoji menekankan kesungguhan hati

Emoji yang hampir selalu mengikuti permintaan maaf adalah kedua telapak tangan ditangkupkan. Walau emoji ini juga sering digunakan buat mengekspresikan rasa terima kasih. Namun, tak jarang orang menambahkan tiga emoji yang sama sekaligus ketika meminta maaf.
Ini dilakukan guna menekankan maksud kesungguhan hati orang yang meminta maaf. Jangan sampai kalimat permohonan maafnya dinilai sebatas jajaran kata. Tanpa dibarengi niat dan ketulusan dari lubuk hati.
Akan tetapi, emoji ini biasanya juga gak bisa berdiri sendiri tanpa kalimat permohonan maaf yang jelas. Bila orang cuma mengirim emoji tangan yang ditangkupkan tanpa sepatah kata pun malah disangka gak ikhlas dalam meminta maaf. Permintaan maafnya sekadar formalitas.
6. Orang makin sibuk dan kurang cermat membaca pesan panjang

Kehidupan saat ini bergerak makin cepat. Tidak semua orang memiliki waktu serta fokus yang cukup buat menyimak. Termasuk membaca teks panjang. Sekalipun sepanjang-panjangnya pesan teks tidak seperti novel.
Kalaupun mereka membuka pesan itu cuma dibaca cepat di beberapa bagian. Terlewat satu kata saja bisa bikin orang keliru mengartikan pesan yang diterimanya. Adanya emoji membantu mereka cepat-cepat menyadari kekeliruan dalam memahami chat tersebut.
Atau, orang memilih melihat ada emojinya dulu atau tidak dan apa ekspresinya sebelum memutuskan untuk membacanya hingga selesai. Bila pesan tanpa emoji padahal panjang, mereka kurang tertarik buat membacanya. Jika pesan mengandung emoji apalagi ekspresinya menarik, orang menjadi lebih penasaran.
Emoji tidak bisa menggantikan semua kata. Pikiran atau perasaan perlu dinyatakan dalam kalimat jika orang hendak berkomunikasi via chat. Emoji hanya bersifat melengkapi teks supaya lebih ekspresif dan menggantikan ekspresi wajah yang langsung teramati dalam percakpan face to face.






















