Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pikiran Kita Mudah Terdistraksi? Ini yang Terjadi!
ilustrasi mencoba untuk fokus (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pernah sedang mengerjakan sesuatu, tetapi tiba-tiba perhatian beralih ke hal lain? Awalnya hanya ingin menyelesaikan satu pekerjaan. Namun, beberapa menit kemudian malah membuka ponsel, memikirkan percakapan sebelumnya, memperhatikan suara di sekitar, atau bahkan melamun tanpa sadar.

Hal seperti ini cukup umum terjadi. Pikiran manusia memang tidak selalu mempertahankan perhatian pada satu hal dalam waktu lama. Dalam psikologi, kondisi ketika perhatian beralih dari tugas utama ke pikiran yang tidak berkaitan dengan tugas tersebut dikenal sebagai mind-wandering. Lantas, mengapa pikiran kita mudah terdistraksi?

1. Otak secara alami bisa beralih dari tugas ke pikiran sendiri

ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Terdistraksi tidak selalu berarti ada sesuatu dari luar yang mengganggu. Terkadang, gangguan justru datang dari dalam pikiran sendiri. Saat sedang membaca atau mengerjakan sesuatu, pikiran bisa tiba-tiba memikirkan rencana besok, percakapan yang sudah terjadi, masalah yang belum selesai, atau hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan dengan tugas saat itu.

Fenomena ini disebut mind-wandering. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas jaringan otak yang disebut default mode network, yang berhubungan dengan berbagai bentuk pikiran yang muncul secara spontan dan terarah ke dalam diri. Jadi, terkadang kita bukan sedang "tidak mau fokus". Pikiran memang dapat berpindah dari perhatian terhadap lingkungan luar menuju proses berpikir internal.

2. Hal yang tiba-tiba muncul lebih mudah menarik perhatian

ilustrasi belajar yang terganggu karena notif ponsel (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Bayangkan sedang membaca artikel, lalu terdengar suara notifikasi. Meskipun tidak langsung mengambil ponsel, perhatian bisa saja beralih sejenak dan muncul keinginan untuk mengetahui apa yang masuk.

Penelitian mengenai attentional capture menjelaskan bahwa rangsangan tertentu yang menonjol dapat memperoleh prioritas perhatian, bahkan ketika rangsangan tersebut tidak berhubungan dengan tujuan yang sedang dikerjakan. Inilah salah satu alasan mengapa lingkungan yang penuh suara, notifikasi, atau perubahan visual dapat membuat seseorang lebih sulit mempertahankan fokus.

3. Notifikasi saja bisa mengganggu, bahkan tanpa membuka ponsel

ilustrasi tidak fokus karena notif ponsel (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Menariknya, gangguan tidak selalu membutuhkan interaksi langsung dengan smartphone. Dalam sebuah penelitian, peserta yang hanya menerima notifikasi ponsel mengalami gangguan pada tugas yang membutuhkan perhatian, meskipun mereka tidak menggunakan ponselnya secara langsung. Peneliti menemukan bahwa notifikasi dapat memicu pikiran yang tidak berkaitan dengan tugas dan mengganggu performa.

Artinya, suara atau getaran kecil yang terlihat sepele dapat menjadi pemicu perhatian. Karena itu, ketika sedang membutuhkan konsentrasi, mematikan notifikasi yang tidak penting bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi gangguan.

4. Semakin lama mengerjakan sesuatu, pikiran bisa semakin mudah melayang

ilustrasi terlalu fokus (pexels.com/George Milton)

Pernah merasa awalnya masih fokus, tetapi setelah cukup lama mengerjakan sesuatu, pikiran mulai ke mana-mana? Hal tersebut juga mendapat perhatian dalam penelitian. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin menemukan bahwa mind-wandering cenderung meningkat seiring bertambahnya waktu yang dihabiskan seseorang dalam mengerjakan suatu tugas.

Dengan kata lain, mempertahankan perhatian bukan sesuatu yang selalu bisa dilakukan dengan intensitas yang sama dari awal sampai akhir. Itulah sebabnya jeda singkat dapat terasa membantu, terutama ketika seseorang sudah mulai kehilangan fokus.

5. Terdistraksi tidak selalu berarti buruk

ilustrasi pikiran yang terdistraksi (pexels.com/Ron Lach)

Meski terdistraksi sering dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu produktivitas, mind-wandering tidak selalu memiliki dampak negatif. Penelitian menunjukkan bahwa pikiran yang mengembara dapat memiliki fungsi tertentu, misalnya berkaitan dengan pemikiran tentang masa lalu, masa depan, diri sendiri, dan berbagai proses mental lainnya.

Masalahnya lebih terasa ketika perhatian terus-menerus beralih pada saat kita membutuhkan konsentrasi. Karena itu, tujuan menjaga fokus bukan berarti memaksa pikiran agar tidak pernah melayang. Yang lebih realistis adalah menyadari ketika perhatian mulai berpindah dan mengembalikannya secara perlahan kepada hal yang sedang dikerjakan.

Konsentrasi bukan sekadar persoalan kemauan. Perhatian manusia dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari rangsangan di sekitar, pikiran yang muncul secara spontan, karakteristik tugas, hingga kemampuan otak mengatur perhatian. Jadi, ketika baru beberapa menit bekerja lalu menyadari pikiran sudah ke mana-mana, tidak perlu langsung menganggap diri sendiri malas atau tidak disiplin.

Yang penting adalah menyadarinya. Setelah itu, kita bisa mengurangi gangguan yang tidak perlu, menjauhkan pemicu distraksi, mengambil jeda ketika memang sudah lelah, lalu kembali mengarahkan perhatian pada satu hal yang ingin diselesaikan. Sebab, mungkin fokus bukan tentang tidak pernah terdistraksi, melainkan tentang seberapa cepat kita menyadari bahwa perhatian telah pergi dan memilih untuk membawanya kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article