Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Media Sosial Bisa Membuat Hubungan Parasosial Makin Kuat
ilustrasi komunitas penggemar (magnific.com/tirachardz)

Media sosial membuat kita semakin mudah mengikuti kehidupan figur publik yang dikagumi. Mulai dari melihat unggahan sehari-hari, menonton siaran langsung, hingga membaca cerita pribadi yang mereka bagikan, semuanya bisa dilakukan hanya melalui layar ponsel. Tanpa disadari, paparan yang terjadi secara terus-menerus ini dapat membuat seseorang merasa semakin dekat dengan idolanya, meskipun mereka sebenarnya tidak saling mengenal.

Fenomena tersebut berkaitan dengan hubungan parasosial, yaitu keterikatan yang dirasakan seseorang terhadap figur publik, kreator konten, atau karakter fiksi tanpa adanya hubungan timbal balik yang setara. Hubungan parasosial tidak selalu berdampak negatif karena bisa memberikan hiburan dan rasa nyaman. Yuk, simak lima alasan kenapa media sosial bisa membuat hubungan parasosial semakin kuat, di bawah ini. Keep scrolling!

1. Konten sehari-hari membuat figur publik terasa lebih akrab

ilustrasi seorang perempuan ketagihan main sosmed (magnific.com/KamranAydinov)

Salah satu alasan media sosial bisa memperkuat hubungan parasosial adalah karena kita dapat melihat sisi kehidupan figur publik yang terasa lebih personal. Jika dahulu penggemar hanya mengenal idolanya melalui film, wawancara, atau penampilan di televisi, sekarang mereka bisa mengikuti aktivitas sehari-hari melalui Instagram, TikTok, maupun platform lainnya.

Unggahan tentang makanan favorit, rutinitas pagi, hewan peliharaan, hingga cerita saat sedang merasa lelah dapat membuat sosok tersebut terasa lebih dekat dan familier. Semakin sering kita melihat konten semacam ini, semakin mudah pula muncul perasaan seolah-olah sudah mengenal kepribadiannya. Padahal, konten yang dibagikan tetap merupakan sebagian kecil dari kehidupan mereka.

2. Interaksi digital menciptakan ilusi kedekatan

ilustrasi mengecek ponsel saat bangun tidur (magnific.com/jcomp)

Media sosial memungkinkan figur publik berinteraksi langsung dengan penggemar melalui kolom komentar, sesi tanya jawab, siaran langsung, atau balasan pesan. Ketika seorang idola membacakan komentar penggemar atau menjawab pertanyaan yang dikirimkan, pengalaman tersebut dapat terasa sangat personal bagi orang yang menerimanya.

Meskipun interaksi itu mungkin berlangsung di depan banyak orang, penggemar bisa merasa seolah-olah sedang berkomunikasi secara pribadi dengan sosok yang dikagumi. Pengalaman tersebut berpotensi memperkuat perasaan dekat, terutama ketika terjadi berulang kali. Namun, interaksi singkat di media sosial tetap tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan personal yang mendalam.

3. Algoritma terus menampilkan konten yang kita sukai

seorang cewek memegang ponsel (freepik.com/benzoix)

Pernahkah kamu membuka satu video aktor favorit, lalu mendapati halaman rekomendasi dipenuhi video tentang dirinya? Hal ini berkaitan dengan cara platform media sosial menggunakan berbagai sinyal, seperti riwayat tontonan, interaksi, dan minat pengguna, untuk merekomendasikan konten yang dianggap relevan.

Ketika seseorang sering menonton konten tentang figur tertentu, ia mungkin semakin sering menemukan video, foto, wawancara, dan pembahasan mengenai sosok tersebut. Paparan berulang ini dapat membuat figur yang dikagumi semakin menonjol dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, penggemar bisa merasa semakin mengenal sosok tersebut karena terus-menerus melihat berbagai konten tentangnya.

4. Cerita pribadi memicu empati dan keterikatan emosional

ilustrasi perempuan sedang mengecek sosial media (magnific.com/jcomp)

Banyak figur publik membagikan cerita mengenai perjalanan karier, kegagalan, kesulitan hidup, atau pengalaman pribadi yang menyentuh. Ketika penggemar mengikuti cerita tersebut, mereka bisa ikut merasakan sedih, bangga, khawatir, atau bahagia seolah-olah sedang menyaksikan perjalanan seseorang yang dekat dengan mereka.

Keterikatan emosional ini bisa semakin kuat ketika cerita yang dibagikan terasa relevan dengan pengalaman pribadi penggemar. Misalnya, seseorang yang sedang menghadapi masa sulit mungkin merasa terinspirasi oleh kisah perjuangan idolanya. Pengalaman tersebut dapat memberikan kenyamanan dan motivasi, meskipun penting untuk diingat bahwa memahami cerita seseorang di media sosial tidak sama dengan mengenalnya secara utuh.

5. Komunitas penggemar memperkuat perasaan terhubung

ilustrasi komunitas penggemar (magnific.com/tirachardz)

Hubungan parasosial juga bisa semakin kuat ketika seseorang bergabung dengan komunitas penggemar yang memiliki ketertarikan serupa. Di dalam komunitas tersebut, penggemar dapat bertukar informasi, membicarakan konten terbaru, membuat teori tentang karya favorit, hingga merayakan pencapaian figur yang mereka dukung.

Percakapan yang berlangsung setiap hari membuat sosok idola terus menjadi bagian dari aktivitas sosial mereka. Selain itu, dukungan dari sesama penggemar dapat memperkuat antusiasme dan keterikatan emosional terhadap figur tersebut. Meski demikian, komunitas fandom juga bisa memberikan manfaat sosial yang nyata karena memungkinkan anggotanya membangun pertemanan berdasarkan minat yang sama.

Jadi, media sosial memang bisa membuat hubungan parasosial lebih mudah berkembang karena menghadirkan figur publik secara rutin melalui konten personal. Berbagai pengalaman tersebut dapat menumbuhkan perasaan akrab dan keterikatan emosional, meskipun hubungan yang terbentuk belum tentu bersifat timbal balik. Yang terpenting adalah tetap menyadari batas antara perasaan dekat dan hubungan nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article