Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membaca buku (unsplash.com/@humayardim)
ilustrasi membaca buku (unsplash.com/@humayardim)

Intinya sih...

  • Memoar perempuan membuka mata soal kekerasan domestik

  • In the Dream House, A House in the Sky, Why Does He Do That?, Crazy Love, Not That Bad

  • Buku ini menghadirkan pengalaman korban langsung tanpa filter dan membantu pembaca memahami kompleksitas kekerasan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kekerasan domestik sering kali berlangsung dalam senyap, tersembunyi di balik relasi yang dari luar tampak normal. Banyak perempuan baru menyadari bahwa mereka berada dalam hubungan abusif setelah luka emosionalnya menumpuk dan sulit dijelaskan. Memoar menjadi medium penting untuk membuka realitas tersebut, karena menghadirkan pengalaman korban secara langsung tanpa filter.

Lewat cerita personal, pembaca diajak memahami bagaimana kekerasan bisa hadir dalam berbagai bentuk, tidak selalu lewat pukulan. Lima memoar berikut merekam pengalaman perempuan yang berani bersuara tentang relasi yang menyakitkan dan proses keluar darinya.

1. In the Dream House karya Carmen Maria Machado

In the Dream House karya Carmen Maria Machado (amazon.com)

Memoar ini mengisahkan hubungan abusif yang dialami penulis dalam relasi sesama perempuan. Carmen Maria Machado membedah kekerasan emosional, manipulasi, dan gaslighting dengan pendekatan naratif yang tidak biasa. Ia menggunakan berbagai “bentuk” cerita untuk menunjukkan betapa sulitnya mendefinisikan kekerasan domestik yang tidak selalu kasatmata. Buku ini juga menyoroti minimnya representasi kekerasan dalam hubungan queer. Hasilnya adalah memoar yang tajam, eksperimental, dan sangat relevan.

2. A House in the Sky karya Amanda Lindhout

A House in the Sky karya Amanda Lindhout (amazon.com)

Memoar ini berangkat dari pengalaman penyanderaan Amanda Lindhout, tetapi juga mengulas relasi romantis abusif yang dialaminya setelah bebas. Lindhout menulis dengan jujur tentang bagaimana trauma membuatnya terjebak dalam hubungan yang penuh kontrol dan kekerasan emosional. Buku ini memperlihatkan keterkaitan antara trauma masa lalu dan pola relasi yang tidak sehat. Ceritanya kuat tanpa sensasional. Fokus utamanya adalah proses bertahan dan memahami diri sendiri.

3. Why Does He Do That? karya Lundy Bancroft

Why Does He Do That? karya Lundy Bancroft (amazon.com)

Meski ditulis oleh terapis laki-laki, buku ini banyak memuat kisah nyata perempuan korban kekerasan domestik. Bancroft menguraikan pola perilaku pasangan abusif dan bagaimana kekerasan sering dibungkus dengan dalih cinta atau kecemburuan. Buku ini membantu pembaca mengenali tanda-tanda hubungan berbahaya sejak awal. Pendekatannya lugas dan membongkar mitos seputar pelaku kekerasan. Karena berbasis pengalaman korban, buku ini sering dianggap membuka mata.

4. Crazy Love karya Leslie Morgan Steiner

Crazy Love karya Leslie Morgan Steiner (amazon.com)

Leslie Morgan Steiner menceritakan bagaimana ia terjebak dalam pernikahan yang penuh kekerasan meski berpendidikan dan sukses secara karier. Ia menjelaskan mengapa korban sering sulit pergi dari hubungan abusif, termasuk faktor psikologis dan sosial. Memoar ini juga membongkar asumsi publik bahwa korban “memilih” untuk bertahan. Ceritanya reflektif dan sangat personal. Buku ini banyak digunakan dalam diskusi tentang domestic violence.

5. Not That Bad karya Roxane Gay

Not That Bad karya Roxane Gay (amazon.com)

Buku ini merupakan kumpulan esai personal Roxane Gay tentang kekerasan, trauma, dan relasi kuasa, termasuk pengalaman dalam hubungan yang tidak sehat. Gay menulis dengan gaya jujur dan tanpa kompromi tentang rasa takut, rasa bersalah, dan upaya bertahan. Meskipun tidak fokus pada satu relasi saja, gambaran kekerasan domestik hadir sebagai bagian dari pengalaman hidup perempuan. Buku ini kuat secara emosional dan intelektual. Cocok untuk pembaca yang mencari refleksi mendalam, bukan sekadar kronologi.

Memoar tentang kekerasan domestik tidak hanya berfungsi sebagai pengakuan personal, tetapi juga sebagai pengingat bahwa relasi yang menyakitkan bisa terjadi pada siapa saja. Lewat kisah para perempuan ini, pembaca diajak memahami kompleksitas kekerasan yang sering disamarkan sebagai cinta atau perhatian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team