Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tekanan dan Ekspektasi Tinggi Picu Impostor Syndrome pada Maba

Tekanan dan Ekspektasi Tinggi Picu Impostor Syndrome pada Maba
Seorang mahasiswa mengerjakan tugas kuliah sambil mengelola pekerjaan sampingan sebagai upaya memenuhi kebutuhan ekonomi dan mengembangkan keterampilan di era modern
Intinya Sih
  • Impostor syndrome adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak pantas atas keberhasilannya dan terus meragukan kemampuan diri, meski prestasinya nyata.
  • Sindrom ini bisa muncul akibat tekanan lingkungan baru, pola asuh perfeksionis, sifat ambisius berlebihan, hingga lingkungan kompetitif yang menimbulkan rasa cemas dan rendah diri.
  • Maba jalur undangan rentan mengalaminya karena label anak berprestasi, ekspektasi tinggi dari sekitar, serta culture shock akademik yang memicu perasaan tidak layak dan takut gagal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menjadi mahasiswa baru atau maba merupakan impian bagi banyak orang di tahun ini. Apakah kamu juga termasuk? Apalagi kalau kamu berhasil menembus kampus impian lewat jalur undangan alias tanpa tes. Tentu, hal itu jadi kebanggaan tersendiri, baik bagi dirimu sendiri maupun orang-orang terdekatmu. Ucapan selamat lantas berdatangan dengan senyuman bahagia.

Namun, di balik euforia yang ada, pernah gak kamu overthinking dengan berkata pada dirimu sendiri: “Aku cuma beruntung kali ya, karena aslinya aku gak sepintar itu,” atau “Gimana kalau nanti aku gak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang terhadapku?” Kalau kamu merasa cemas dan insecure, kamu mungkin saja terjebak dalam impostor syndrome.

1. Apa itu impostor syndrome atau impostor phenomenon?

ilustrasi orang merasa tertekan
ilustrasi orang merasa tertekan (pexels.com/Monstera Production)

Istilah impostor gak asing lagi ya di telinga kita. Sebab, istilah ini memang populer belakangan ini karena game Among Us yang banyak dimainkan oleh anak muda. Fenomena impostor sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Psikolog Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Sindrom ini bisa terjadi pada siapa pun, baik itu laki-laki maupun perempuan, terutama pada mereka yang harus menunjukkan performa pencapaian intelektualnya.

Lantas, apa itu impostor syndrome? Di game Among Us, impostor adalah sebutan bagi pemain yang tugasnya menipu atau mengecohkan permainan tanpa ketahuan. Nah, impostor syndrome atau dikenal juga dengan sebutan impostor phenomenon adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa dirinya adalah penipu yang gak pantas mendapatkan keberhasilan yang telah dicapai.

Menurut Tri Hayuning Tyas, S.Psi, M.A., Psikolog Klinis UGM, orang yang mengalami impostor syndrome selalu mempertanyakan dirinya sendiri atas pencapaian atau prestasi yang telah diraih. Individu dengan kondisi ini gak pernah berhenti meragukan dirinya sendiri dan mempersoalkan apakah keberhasilan tersebut merupakan cerminan dari kemampuannya atau sekadar faktor keberuntungan semata.

2. Impostor syndrome terbentuk dari lingkungan baru dan tekanan

ilustrasi orang membaca buku
ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Валерій Волинський)

Kondisi ini tentunya gak muncul begitu saja. Secara umum, impostor syndrome terbentuk dari lingkungan yang baru atau dari tekanan yang ada. Hal itu membuat individu dengan sindrom ini merasa dirinya gak berharga, gak berdaya, dan merasa rendah diri.

Dilansir laman Alodokter, ada sejumlah penyebab terjadinya impostor syndrome.

  1. Pola asuh yang menuntut kesempurnaan. Misalnya, kamu dibesarkan oleh orang tua yang suka membanding-bandingkan, mengkritik tajam tiap kali kamu berbuat salah, dan cuma peduli sama hasil alih-alih proses.
  2. Peran atau posisi baru. Kalau kamu masuk ke peran atau lingkungan baru, seperti momen transisi dari siswa SMA ke mahasiswa baru (maba), rasa cemas biasanya muncul.
  3. Adanya sifat perfeksionis dan ambisi yang berlebihan. Tuntutan yang tinggi dari diri sendiri bisa membuat kamu overthinking dan cemas. Hal ini justru berbalik jadi tekanan bagi dirimu sendiri alih-alih motivasi yang sehat.
  4. Kencenderungan kepribadian neuroticism. Kalau kamu punya kepribadian ini, rasa cemas, ketidakpercayaan diri, dan rasa bersalah memang lebih mudah muncul.
  5. Fobia sosial. Ini berarti kamu takut secara berlebihan untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Jika demikian, impostor syndrome bisa cepat muncul karena kamu merasa selalu dinilai dan dihakimi.
  6. Lingkungan yang kompetitif dan diskriminatif.

3. Mengapa maba jalur undangan rentan terkena impostor syndrome?

ilustrasi orang sedang belajar
ilustrasi orang sedang belajar (pexels.com/www.kaboompics.com)

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, impostor syndrome memang dapat dialami oleh siapa saja, termasuk maba jalur undangan. Kenapa maba jalur undangan rentan mengalaminya?

Sindrom ini biasanya dipicu karena beberapa hal, di antaranya:

  1. Label anak berprestasi yang menekan. Orang yang berhasil lolos menjadi maba lewat jalur undangan tentu bukanlah orang yang biasa-biasa saja, melainkan orang yang istimewa. Maba jalur undangan adalah orang pilihan yang punya akumulasi nilai rapor yang konsisten dan memuaskan selama masa sekolah. Nah, label anak berprestasi yang melekat inilah yang kerap menjadi beban menekan bagi mereka.
  2. Ekspektasi lingkungan yang terlalu tinggi. Orang-orang dan lembaga pendidikan tentunya menaruh ekspektasi lebih dong kepada maba jalur undangan. Ekspektasi yang besar ini bisa saja memicu ketakutan untuk berbuat salah dan gagal. Sebagai maba jalur undangan, kamu mungkin merasa gak boleh gagal dan mendapat nilai jelek agar gak mengecewakan.
  3. Culture shock akademik. Dunia perkuliahan itu berbeda dengan dunia sekolah. Di perkuliahan, kamu akan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa hebat dari berbagai daerah, orang-orang yang kamu temui akan lebih bervariasi. Hal ini membuat kamu mulai membanding-bandingkan diri dan muncullah impostor syndrome itu.

4. Cara mengatasi impostor syndrome bagi maba jalur undangan

ilustrasi orang belajar bersama (pexels.com/Armin Rimoldi)
ilustrasi orang belajar bersama (pexels.com/Armin Rimoldi)

Mengatasi impostor syndrome itu memang gak mudah, apalagi di tengah status kamu sebagai mahasiswa baru yang ada dalam tahap transisi dan fase adaptasi. Lantas, bagaimana caranya kamu bisa mengatasi impostor syndrome ini?

Perasaan negatif yang timbul akibat kondisi ini bisa kamu kendalikan dengan beberapa cara.

  1. Akui dan validasi perasaanmu, kamu juga bisa menceritakan perasaanmu ke orang terdekat yang kamu percaya, jangan disimpan sendiri, ya.
  2. Catat pencapaian ataupun prestasi yang telah kamu raih sebagai pengingat bahwa kamu memang se-capable itu.
  3. Fokus pada tujuanmu, jangan biarkan perasaan ini mengganggumu terus menerus, ya. Ingat, kamu punya masa depan yang harus diperjuangkan.
  4. Ubah pola pikirmu terhadap kegagalan, bahwa kuliah itu tempat untuk belajar dan berproses.
  5. Kamu juga bisa membantu orang-orang sekitarmu yang mengalami kesulitan, menjadi manfaat bagi orang lain.

Nah, kalau cara-cara itu belum banyak membantumu juga, jangan ragu untuk menjalani psikoterapi dengan psikolog atau psikiater, ya. Psikoterapi bisa membantu kamu menenangkan diri saat cemas. Selamat menjadi mahasiswa baru dan menjalani perkuliahan dengan semangat baru.

Ingat, kamu ada di titik ini karena kamu memang layak dan mampu. You’ve got this, and you always matter!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More