Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
seorang wanita yang sedang membaca buku
ilustrasi seorang wanita yang sedang membaca buku (pexels.com/Edgar Colomba)

Intinya sih...

  • The Book Thief – Markus Zusak: Kisah tentang kekuatan kata-kata dan perlawanan di Jerman Nazi.

  • Homegoing – Yaa Gyasi: Melacak sejarah perbudakan, kolonialisme, dan rasisme dari Ghana hingga Amerika.

  • The God of Small Things – Arundhati Roy: Kritik tajam terhadap struktur sosial India Selatan melalui kisah keluarga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Novel dengan latar budaya dan sejarah yang kuat tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca memahami dunia dari sudut pandang manusia yang hidup di dalamnya. Perang, kolonialisme, perbudakan, migrasi, dan struktur sosial menjadi latar yang membentuk pilihan serta luka para tokohnya.

Tujuh rekomendasi novel berikut ini mampu menghadirkan kisah personal yang intim, sekaligus potret sejarah dan budaya yang kompleks, membuat pembaca belajar tanpa merasa sedang diajar. Yuk, simak rekkmendasinya di bawah ini!

1. The Book Thief – Markus Zusak

cover buku The Book Thief (amazon.com)

Novel ini berlatar Jerman pada masa Perang Dunia II dan diceritakan dari sudut pandang yang unik yakni kematian. Kisah berpusat pada Liesel Meminger, seorang gadis kecil yang menemukan pelarian dari kekejaman perang melalui buku dan kata-kata. Markus Zusak merangkai cerita tentang keluarga angkat, persahabatan, dan keberanian kecil di tengah kehancuran besar.

Konteks sejarah Nazi Jerman digambarkan melalui kehidupan sipil biasa, bukan medan perang. Budaya ketakutan, propaganda, dan pengawasan terasa nyata dalam detail keseharian. Novel ini menunjukkan bagaimana kata-kata bisa menjadi alat kekuasaan, sekaligus bentuk perlawanan yang sunyi.

2. Homegoing – Yaa Gyasi

cover buku Homegoing (amazon.com)

Homegoing mengikuti dua saudari tiri dari Ghana abad ke-18 yang hidup dalam nasib berlawanan, satu dinikahkan dengan pejabat kolonial Inggris, sementara yang lain dijual sebagai budak. Cerita berkembang lintas generasi, mengikuti keturunan mereka di Afrika dan Amerika selama lebih dari 300 tahun.

Yaa Gyasi menghadirkan sejarah perbudakan, kolonialisme, dan rasisme melalui kisah keluarga yang terfragmentasi. Budaya Afrika, trauma lintas generasi, dan dampak panjang sejarah menjadi inti novel ini. Pembaca diajak melihat bagaimana masa lalu membentuk identitas hingga hari ini.

3. The Nightingale – Kristin Hannah

cover buku The Nightingale (amazon.com)

Berlatar Prancis yang diduduki Nazi, novel ini mengisahkan dua saudari dengan karakter dan pilihan hidup yang sangat berbeda. Satu memilih bertahan demi keluarga, sementara yang lain terlibat dalam perlawanan bawah tanah. Kristin Hannah menyoroti pengalaman perempuan dalam perang, sebuah sudut pandang yang sering terpinggirkan.

Konteks sejarah Perang Dunia II disajikan melalui kehidupan sipil, kelaparan, ketakutan, dan dilema moral. Budaya Prancis di masa pendudukan digambarkan penuh tekanan, memperlihatkan bagaimana perang memaksa orang biasa mengambil keputusan luar biasa.

4. American Dirt – Jeanine Cummins

cover buku American Dirt (amazon.com)

Novel ini mengikuti perjalanan Lydia dan putranya yang melarikan diri dari kekerasan kartel di Meksiko menuju Amerika Serikat. Ceritanya penuh ketegangan, menggambarkan perjalanan migran yang berbahaya dan penuh ketidakpastian.

Konteks sosial tentang migrasi, kemiskinan, dan kekerasan sistemik menjadi latar utama. Novel ini membuka perspektif tentang krisis kemanusiaan di balik isu perbatasan, menghadirkan sisi manusiawi yang sering hilang dalam diskusi politik.

5. The God of Small Things – Arundhati Roy

cover buku The God of Small Things (amazon.com)

Novel ini berfokus pada kehidupan keluarga di Kerala, India, dengan cerita yang bergerak maju-mundur. Kisahnya dipenuhi kenangan masa kecil, rahasia keluarga, dan tragedi yang lahir dari pelanggaran norma sosial.

Arundhati Roy menghadirkan konteks budaya India Selatan, sistem kasta, dan politik lokal dengan sangat kuat. Novel ini merupakan kritik tajam terhadap struktur sosial yang menindas, disampaikan melalui kisah personal yang puitis dan menyayat.

Ketujuh novel ini mengupas cerita sejarah dan budaya bukan sekadar latar, melainkan napas yang menggerakkan cerita. Melalui kisah individu dan keluarga, pembaca diajak memahami dampak besar peristiwa sejarah terhadap kehidupan manusia.

Novel-novel ini layak dibaca bagi siapa pun yang ingin merasakan bagaimana sastra mampu menjadi jembatan empati lintas waktu dan budaya. Jadi, novel mana yang bikin kamu tergugah untuk membacanya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team