Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Rekomendasi Buku tentang Melepaskan Diri dari Overthinking

seorang wanita membaca buku
ilustrasi seorang wanita membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Buku Don’t Believe Everything You Think mengajak menyadari pikiran tidak selalu layak dipercaya, membantu mengambil jarak dari overthinking.
  • The Power of Now mengajak keluar dari kebiasaan berlebihan mengulang pikiran masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.
  • The Art of Letting Go membahas melepaskan hal-hal yang tidak lagi bisa dikendalikan, menawarkan sudut pandang realistis dan latihan mental sederhana.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah hidup yang serba cepat, pikiran sering kali jadi tempat paling ramai, dipenuhi kekhawatiran, asumsi, dan dialog batin yang tak ada habisnya. Overthinking pelan-pelan menguras energi, membuat kita sulit menikmati momen, bahkan merasa lelah tanpa alasan yang jelas. Tak heran jika banyak orang mulai mencari bacaan yang bukan menggurui, tapi justru menenangkan dan membumi.

Di sini, ada lima rekomendasi buku yang bakal ajak kamu memahami pikiran dengan cara yang lebih lembut. Buku-buku ini tidak menuntut perubahan drastis atau versi terbaik diri, melainkan membantu kamu mengambil jarak dari pikiran, lebih hadir, dan menjalani hidup dengan rasa cukup serta kesadaran yang lebih tenang. Let'scroll down!

1. Don’t Believe Everything You Think – Joseph Nguyen

cover buku Don't Believe Everything You Think
cover buku Don't Believe Everything You Think (amazon.com)

Buku Don’t Believe Everything You Think mengajak pembaca menyadari satu hal penting yang sering luput dalam pikiran, yakni tidak semua pikiran kita layak dipercaya. Joseph Nguyen membahas bagaimana overthinking, kecemasan, dan rasa tidak bahagia sering kali bukan berasal dari situasi hidup itu sendiri, melainkan dari cara kita menafsirkan dan memikirkan situasi tersebut. Dengan bahasa yang sederhana dan langsung ke inti, buku ini mendorong pembaca untuk mengambil jarak dari pikirannya sendiri, alih-alih terus terjebak di dalamnya.

Dalam dua paragraf pembahasan utamanya, Nguyen menekankan bahwa kedamaian batin bukan sesuatu yang harus dikejar, melainkan muncul ketika kita berhenti berperang dengan pikiran. Ia mengajak pembaca untuk lebih sadar akan pola pikir otomatis, mengurangi identifikasi berlebihan dengan suara di kepala, dan kembali hadir pada momen saat ini. Buku ini tidak dipenuhi teori rumit atau istilah psikologi berat, melainkan refleksi singkat yang terasa relevan dengan kehidupan modern, terutama bagi mereka yang sering merasa lelah secara mental akibat pikiran yang tak ada habisnya.

2. The Power of Now – Eckhart Tolle

cover buku The Power of Now
cover buku The Power of Now (amazon.com)

Buku ini sudah jadi klasik dalam dunia mindfulness karena mengajak kita memahami satu hal sederhana tapi powerful, dimana hidup hanya benar-benar terjadi saat ini. Tolle mengajak pembaca untuk keluar dari kebiasaan berlebihan mengulang pikiran masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, yang sering jadi akar overthinking dan tekanan batin.

Dalam bahasanya yang lugas, Tolle menjelaskan bagaimana kita bukan pikiran kita dan bagaimana menyadari kehadiran saat ini saja dapat membawa ketenangan. Pembaca diajak melihat pikirannya dari sudut yang baru, bukan sebagai “bos” yang harus dipercaya, tetapi sebagai alat yang bisa kita gunakan dengan lebih sadar, sehingga hidup terasa lebih ringan dan damai.

3. A New Earth – Eckhart Tolle

cover buku A New Earth
cover buku A New Earth (amazon.com)

Kalau kamu suka The Power of Now, buku ini bisa jadi lanjutannya. Tolle memperluas pandangannya tentang hubungan antara pikiran, ego, dan kehidupan sehari-hari. Ia menunjukkan bagaimana identifikasi berlebihan dengan pikiran dan ego itu yang sering menyebabkan stres, kecemasan, atau situasi emosional yang membuat hidup terasa berat.

Buku ini tetap ringan dibaca meskipun idenya dalam, dan memberi pembaca wawasan praktis tentang cara hidup dengan kesadaran yang lebih besar. Ini membantu kamu berpikir tentang diri sendiri tidak sebagai pikiran yang cemas, tetapi sebagai ruang sadar yang lebih luas dan damai.

4. The Book of Joy – Dalai Lama & Desmond Tutu

cover buku The Book of Joy
cover buku The Book of Joy (amazon.com)

Buku ini lahir dari percakapan dua tokoh spiritual besar tentang bagaimana menemukan kebahagiaan sejati meskipun hidup penuh tantangan. Mereka berbagi bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang kita kejar, tetapi sesuatu yang ditemukan saat kita belajar melepaskan rasa takut, marah, atau benci — pola pikiran yang sering jadi sumber overthinking.

Kisah, humor, dan kebijaksanaan mereka membuat buku ini bukan sekadar panduan spiritual berat, tapi juga terasa seperti ngobrol hangat tentang hidup yang damai. Kalau kamu ingin perspektif yang penuh harapan dan kedamaian batin, buku ini sangat direkomendasikan.

5. The Art of Letting Go – Nick Trenton

cover buku The Art of Letting Go
cover buku The Art of Letting Go (amazon.com)

Buku The Art of Letting Go membahas tentang bagaimana melepaskan hal-hal yang tidak lagi bisa kita kendalikan, mulai dari pikiran berulang, emosi negatif, hingga ekspektasi yang membebani diri sendiri. Nick Trenton menulis dengan gaya yang lugas dan praktis, menyoroti kebiasaan mental yang sering membuat kita terjebak dalam overthinking dan kecemasan. Alih-alih menghindari emosi, buku ini mengajak pembaca mengenali, menerima, lalu perlahan melepaskannya dengan cara yang lebih sehat.

Dalam dua paragraf pembahasannya, buku ini menekankan bahwa letting go bukan berarti menyerah, tetapi memilih untuk tidak terus menguras energi pada hal-hal yang tidak membawa ketenangan. Trenton menawarkan sudut pandang realistis dan latihan mental sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cocok untuk pembaca yang ingin hidup lebih ringan, berhenti menyimpan beban emosional berlebih, dan belajar berdamai dengan keadaan tanpa memaksa diri menjadi sempurna.

6. The Magic of Mindful Self-Awareness – Matt Tenney

cover buku The Magic of Mindful Self-Awareness
cover buku The Magic of Mindful Self-Awareness (amazon.com)

The Magic of Mindful Self-Awareness mengajak pembaca memahami diri sendiri melalui kesadaran penuh terhadap pikiran, emosi, dan respons yang muncul dalam keseharian. Matt Tenney menekankan bahwa banyak konflik batin dan stres berasal dari reaksi otomatis yang tidak disadari. Dengan pendekatan mindfulness yang praktis, buku ini membantu pembaca memperlambat respons, mengamati apa yang terjadi di dalam diri, dan mengambil pilihan yang lebih selaras dengan nilai personal.

Pada dua paragraf pembahasan utamanya, Tenney menjelaskan bahwa kesadaran diri bukan tentang mengubah siapa diri kita, melainkan memahami cara kerja pikiran agar kita tidak lagi dikendalikan olehnya. Buku ini terasa menenangkan dan membumi, tanpa bahasa spiritual yang terlalu berat. Cocok untuk kamu yang ingin mengurangi overthinking, memperbaiki kualitas hubungan, dan menjalani hidup dengan rasa damai yang lebih konsisten.

Melepaskan overthinking bukan tentang memaksa pikiran untuk diam, melainkan belajar tidak selalu mempercayai semua yang muncul di kepala. Rekomendasi buku di ataa mengingatkan bahwa ketenangan batin sering datang saat kita berhenti berusaha terlalu keras untuk memperbaiki diri, dan mulai menerima diri apa adanya.

Semoga rekomendasi buku ini bisa menjadi teman refleksi di sela hari-hari yang padat, membantu kamu bernapas lebih lega, berpikir lebih jernih, dan menjalani hidup dengan rasa yang lebih ringan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Rekomendasi Buku tentang Trauma dan Penyembuhan Emosional

07 Feb 2026, 23:30 WIBLife