Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Novel Kehidupan Agraria Era Kolonial dari Penulis Asia-Afrika
Bleeding Sun dan Max Havelaar (dok. Penguin/Bleeding Sun | dok. Mizan/Max Havelaar)
  • Lima novel dari Asia dan Afrika menggambarkan kerasnya kehidupan agraria di era kolonial, menyoroti eksploitasi petani oleh penjajah dan tuan tanah yang memperkaya diri sendiri.
  • Karya-karya seperti Bleeding Sun, The Preying Birds, dan Max Havelaar menampilkan ketimpangan sosial serta penderitaan rakyat akibat sistem kolonial yang menindas.
  • Weep Not, Child dan The Country of Others menunjukkan konflik keluarga dan identitas yang muncul ketika tanah serta kebebasan hidup dirampas oleh kekuasaan kolonial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pertanian atau agraria adalah salah satu aktivitas utama pada era kolonial. Tak hanya di Indonesia (dahulu Hindia Belanda), tetapi juga di banyak negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sektor itu yang menghidupi, bahkan memperkaya pelaku penjajahan dan di sisi lain melanggengkan eksploitasi dan perbudakan warga lokal.

Ingin tahu seberapa kejam kehidupan agraria pada era kolonial? Lengkapi wawasanmu dengan membaca lima novel asal Asia dan Afrika berikut. Tentu ada yang berlatar negeri sendiri.

1. Bleeding Sun (Rogelio R. Sikat)

Bleeding Sun karya Rogelio Sicat (dok. Penguin/Bleeding Sun)

Bleeding Sun adalah cerita Simon, pemuda yang dibesarkan oleh seorang petani miskin di Filipina era kolonial. Simon tak pernah mengenal ibunya yang meninggal saat melahirkannya.

Dari Simon, kita bakal dipaksa melihat kehidupan keras petani yang dieksploitasi dan dimiskinkan secara sistemik, sementara penjajah dan tuan tanah menikmati hasil kerja keras mereka. Novel ini sederhana, tetapi tragis dan membuka mata. Singkat pula, ketebalannya gak sampai 150 halaman.

2. The Preying Birds (Amado V. Hernandez)

The Preying Birds karya Amado V. Hernandez (dok. Penguin/The Preying Birds)

Masih dari Filipina, The Preying Birds adalah pengamatan tajam Hernandez yang bila dibaca sekarang masih terasa relevan. Ia mengulik ketimpangan sosial yang menciptakan kelompok petani kelaparan, sementara di sisi lain, para penjilat penjajah makin makmur dan apatis.

Tulisan Hernandez sering disandingkan dengan karya Yasar Kemal dari Turki. Pendekatan dan nilai yang mereka anut hampir sama, begitu pula dengan cara mereka membuat karakter perempuan, yakni cenderung seksis.

3. Max Havelaar (Multatuli)

Max Havelaar karya Multatuli (dok. Mizan/Max Havelaar)

Max Havelaar adalah novel satir berlatar Hindia Belanda yang cukup unik dan seperti dua buku sebelumnya, relevansinya masih tinggi. Multatuli menulis buku ini dengan format cerita dalam cerita.

Dimulai dengan perspektif seorang pengusaha kopi angkuh yang gak sengaja bertemu dengan teman lamanya. Sang teman lama ini punya sebuah naskah yang tak lain adalah pengalaman hidupnya selama bekerja di Hindia Belanda. Ia menyaksikan berbagai ketidakadilan yang menimpa rakyat dan pelakunya tak hanya penjajah Belanda, tetapi juga para pejabat lokal.

4. Weep Not, Child (Ngũgĩ wa Thiong'o)

Weep Not, Child karya Ngugi wa Thiong'o (dok. Penguin/Weep Not, Child )

Weep Not, Child adalah cerita keluarga yang hidupnya berubah ketika lahan yang mereka tempati selama beberapa generasi tiba-tiba diprivatisasi. Hidup mereka tak lagi bebas. Apa yang mereka tanam diatur oleh sang tuan tanah dan pendatang kulit putih yang bekerja sama dengannya.

Ngotho, sang ayah, menaruh harapan pada putranya, Njoroge, sebagai generasi pertama dari keluarganya yang akhirnya mengakses pendidikan. Namun, upaya mereka keluar dari penindasan itu tak sesederhana bayangan.

5. The Country of Others, Leila Slimani

The Country of Others karya Leila Slimani (dok. Faber & Faber/The Country of Others)

The Country of Others adalah cerita tentang Mathilde, perempuan Prancis yang menikahi tentara Maroko, Amine. Ia pindah ke Maroko bersama suaminya yang memutuskan untuk mengolah lahan warisan keluarganya. Di sinilah konflik mulai muncul.

Tanah warisan yang diharapkan bisa jadi sumber rezeki, justru jadi semacam kutukan tiada henti. Amine tak lagi sama seperti yang Mathilde kenal. Sebagai orang Prancis, Mathilde juga harus menghadapi sentimen para pekerja terhadapnya.

Kehidupan petani memang tak mudah. Terpaan cuaca dan hama hanyalah beberapa dari banyak masalah lain yang harus mereka hadapi untuk bertahan. Ditambah eksploitasi dan tekanan dari tuan tanah pada era kolonial, semua berbaur menjadi kombinasi mematikan. Kelima novel di atas agaknya bisa jadi gambaran konkretnya, meski tak bisa diklaim 100 persen akurat

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article