cover buku Frankie: Kucing Abu-Abu Bertelinga Satu Setengah (gramedia.com)
Novel ini berkisah tentang Frankie, seekor kucing abu-abu dengan telinga yang tidak sempurna, yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan seorang pria yang sedang terjebak dalam kesepian, rutinitas, dan kegagalan personal. Pertemuan mereka terjadi tanpa rencana dan tanpa keajaiban besar, justru di situlah kekuatan ceritanya. Frankie bukan kucing manis yang patuh, melainkan makhluk mandiri dengan sikap cuek, keras kepala, dan kebijaksanaan sunyi. Kehadirannya perlahan memaksa sang tokoh utama untuk kembali berinteraksi dengan dunia, menghadapi luka lama, dan melihat hidup dari sudut pandang yang lebih jujur.
Di balik kisah sederhana tentang manusia dan kucing, novel ini berbicara tentang makna kebersamaan, penerimaan diri, dan proses penyembuhan yang tidak instan. Jochen Gutsch dan Maxim Leo menulis dengan humor halus dan empati yang kuat, tanpa drama berlebihan atau dialog sentimentil. Frankie terasa seperti cerita kecil yang berjalan pelan, namun meninggalkan jejak emosional yang dalam. Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah hangat, reflektif, dan penuh rasa pulang, terutama bagi mereka yang percaya bahwa kadang, makhluk dengan luka kecil justru datang untuk menyembuhkan luka yang lebih besar.