Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Tidak Naik Kelas Merupakan Solusi Tepat untuk Siswa?

6 min read
Apakah Tidak Naik Kelas Merupakan Solusi Tepat untuk Siswa?
ilustrasi siswa sekolah dasar (pexels.com/muallim nur)
  • Wacana siswa tidak otomatis naik kelas bagi yang belum memenuhi standar akademik direncanakan berlaku mulai 2027, namun efektivitas pengulangan kelas masih perlu dikaji.
  • Meta-analisis 84 studi menunjukkan dampak pengulangan kelas rata-rata tidak berbeda dengan tidak mengulang; prestasi juga dipengaruhi faktor pribadi, keluarga, sekolah, dan sosial.
  • Sekolah dapat mengutamakan remedial, tutoring, asesmen formatif, serta metode belajar yang disesuaikan kebutuhan siswa sebelum atau saat memutuskan pengulangan kelas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beberapa waktu lalu, muncul wacana bahwa siswa yang belum mencapai standar akademik tidak otomatis naik kelas. Wacana ini direncanakan mulai diterapkan pada 2027. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menanggapi usulan tersebut dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII di Universitas Pendidikan Ganesha pada 2 Oktober 2026. Gagasan ini antara lain dipandang berpotensi mendorong siswa untuk lebih rajin belajar dan memiliki jiwa kompetitif.

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran memang penting. Meski demikian, apakah tidak naik kelas merupakan solusi tepat untuk siswa yang belum mencapai standar akademik? Atau justru ada pendekatan lain yang perlu dipertimbangkan untuk membantu mereka memahami materi pelajaran? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak sejumlah penelitian mengenai pengulangan kelas dan alternatif pendampingan belajar lainnya.

  1. 1. Mengulang kelas tidak selalu menjamin peningkatan kemampuan akademik

    ilustrasi siswa sedang melaksanakan ujian sekolah
    ilustrasi siswa sedang melaksanakan ujian sekolah (pexels.com/Haidar Azmi)

    Mengulang kelas kerap dipandang sebagai kesempatan bagi siswa untuk mempelajari kembali materi yang belum dikuasai. Dengan mengulang pembelajaran pada tingkat yang sama, siswa diharapkan dapat memperbaiki pemahamannya sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya. Namun, tambahan waktu belajar tidak serta-merta menjamin peningkatan prestasi akademik.

    Penelitian berjudul Effectiveness of Grade Retention: A Systematic Review and Meta-Analysis yang diterbitkan dalam jurnal Educational Research Review (2021) meninjau 84 studi mengenai efektivitas pengulangan kelas. Penelitian tersebut membandingkan berbagai hasil perkembangan siswa yang mengulang kelas dengan siswa yang tidak mengulang kelas.

    Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa secara rata-rata, dampak pengulangan kelas terhadap perkembangan siswa cenderung tidak berbeda dibandingkan dengan tidak mengulang kelas. Meski demikian, hasilnya bervariasi bergantung pada konteks pendidikan, karakteristik penelitian, dan aspek perkembangan yang diukur.

    Temuan ini bukan berarti mengulang kelas selalu merugikan atau tidak berguna. Namun, hasil tersebut menunjukkan bahwa pengulangan kelas saja belum tentu cukup untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Jika siswa kembali mempelajari materi tanpa mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya, kesulitan belajar yang dialami sebelumnya berpotensi tetap muncul.

  2. 2. Prestasi akademik dipengaruhi berbagai faktor

    ilustrasi siswa sedang mengerjakan soal
    ilustrasi siswa sedang mengerjakan soal (pexels.com/Muhaimin Abdul Aziz)

    Ketika siswa memperoleh nilai rendah atau belum mencapai standar kompetensi, hal tersebut tidak selalu berarti mereka kurang berusaha dalam belajar. Pencapaian akademik dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari karakteristik pribadi dan motivasi hingga dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kondisi sosial.

    Hal ini sejalan dengan penelitian Determinants of Academic Achievement from the Middle to Secondary School Education: A Systematic Review (2024). Penelitian tersebut meninjau 35 studi dan mengidentifikasi berbagai faktor yang berkaitan dengan prestasi akademik siswa, termasuk faktor pribadi, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

    Temuan tersebut menunjukkan bahwa prestasi akademik perlu dipahami dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Karena itu, sebelum memutuskan bahwa seorang siswa harus mengulang kelas, sekolah perlu mengevaluasi penyebab kesulitan belajarnya.

    Evaluasi tersebut penting agar sekolah tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa nilai, tetapi juga memahami kendala yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran. Dengan begitu, sekolah dapat menentukan bentuk dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

  3. 3. Pendampingan belajar bisa menjadi alternatif selain mengulang kelas

    ilustrasi guru dan siswa
    ilustrasi guru dan siswa (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

    Sebelum memutuskan bahwa siswa harus mengulang kelas, sekolah dapat mempertimbangkan alternatif lain, seperti program remedial dan pendampingan belajar secara individual atau dalam kelompok kecil. Pendekatan ini bertujuan membantu siswa memahami materi yang belum dikuasai sekaligus mengidentifikasi kesulitan yang mereka hadapi selama proses pembelajaran.

    Sebuah penelitian bertajuk The Promise of Tutoring for PreK–12 Learning: A Systematic Review and Meta-Analysis of the Experimental Evidence (2024) meninjau berbagai eksperimen program bimbingan belajar dan menemukan bahwa tutoring memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa.

    Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendampingan belajar dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan akademiknya. Meski demikian, efektivitas program tetap bergantung pada pelaksanaan dan kebutuhan siswa. Hasil penelitian ini juga tidak berarti bahwa semua bentuk remedial atau pendampingan akan memberikan dampak yang sama.

    Pendampingan bukan berarti sekolah harus mengabaikan standar akademik. Sebaliknya, standar kompetensi tetap diperlukan agar siswa memiliki kemampuan yang memadai untuk mengikuti pembelajaran berikutnya. Perbedaannya terletak pada upaya yang diberikan sekolah untuk membantu siswa mencapai standar tersebut.

    Alih-alih hanya menentukan siapa yang boleh naik kelas, sekolah juga perlu memastikan bahwa siswa memperoleh kesempatan dan dukungan yang memadai untuk memperbaiki kemampuan belajarnya.

  4. 4. Mengulang kelas perlu disertai perubahan metode pembelajaran

    ilustrasi siswa membaca buku bersama
    ilustrasi siswa membaca buku bersama (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

    Mengulang kelas tetap dapat menjadi salah satu pilihan apabila siswa belum menguasai kompetensi penting yang diperlukan untuk mengikuti pembelajaran di tingkat berikutnya. Namun, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa. Jika siswa kembali mempelajari materi dengan pendekatan yang sama tanpa mengatasi kesulitan sebelumnya, pengulangan kelas berisiko tidak memberikan hasil yang diharapkan.

    Karena itu, sekolah perlu mengevaluasi proses pembelajaran dan menyesuaikan pendekatan yang digunakan dengan kebutuhan siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian The Impact of Formative Assessment on K-12 Learning: A Meta-Analysis (2024), yang menganalisis 118 penelitian primer dan menemukan bahwa asesmen formatif memberikan dampak positif terhadap pencapaian akademik siswa.

    Asesmen formatif membantu guru memperoleh informasi mengenai pemahaman siswa selama pembelajaran. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut, misalnya dengan menjelaskan kembali materi yang belum dipahami, memberikan latihan tambahan, atau menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda.

    Selain aspek akademik, keputusan mengulang kelas juga perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan emosional siswa. Perubahan lingkungan pertemanan dan pengalaman belajar dapat menjadi tantangan bagi sebagian anak. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap siswa, sehingga perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing.

    Dengan demikian, keputusan mengulang kelas sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hasil evaluasi akademik, tetapi juga diikuti dengan upaya untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Sekolah perlu memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar menjadi bagian dari upaya membantu siswa memenuhi kompetensi yang dibutuhkan, bukan sekadar konsekuensi atas nilai yang belum mencapai standar.

  5. 5. Kebijakan kenaikan kelas perlu berorientasi pada perkembangan siswa

    ilustrasi siswa sedang mengerjakan soal
    ilustrasi siswa sedang mengerjakan soal (pexels.com/Airlangga Jati)

    Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak siswa yang naik kelas atau memperoleh nilai tinggi. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah siswa benar-benar memahami materi, mampu menerapkan pengetahuannya, dan memiliki bekal untuk mengikuti pembelajaran berikutnya.

    Menurut rangkuman berbagai jurnal, anggapan bahwa tidak naik kelas merupakan solusi tepat untuk siswa perlu dikaji ulang. Oleh sebab itu, wacana penguatan kebijakan kenaikan kelas mulai tahun 2027 ini perlu dikaji dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah dalam memberikan dukungan belajar serta melakukan evaluasi secara objektif. Mengulang kelas mungkin menjadi pilihan dalam kondisi tertentu, tetapi bukan satu-satunya cara untuk membantu meningkatkan kemampuan akademiknya.

    Pendampingan individual, evaluasi berkelanjutan, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa juga perlu mendapat perhatian. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar memastikan siswa memenuhi standar sebelum naik kelas, melainkan membantu mereka mencapai standar tersebut melalui proses pembelajaran yang efektif dan adil.

    Referensi

    Costa, A., Moreira, D., Casanova, J., Azevedo, Â., Gonçalves, A., Oliveira, Í., Azevedo, R., & Dias, P. C. (2024). Determinants of academic achievement from middle to secondary school education: A systematic review. Social Psychology of Education. Diakses Oktober 2026.

    Goos, M., Pipa, J., & Peixoto, F. (2021). Effectiveness of grade retention: A systematic review and meta-analysis. Educational Research Review. Diakses Oktober 2026.

    Nickow, A., Oreopoulos, P., & Quan, V. (2024). The promise of tutoring for PreK–12 learning: A systematic review and meta-analysis of the experimental evidence. American Educational Research Journal, 61(1). Diakses Oktober 2026.

    Yao, Y., Amos, M., Snider, K., & Brown, T. (2024). The impact of formative assessment on K–12 learning: A meta-analysis. Educational Research and Evaluation. Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More