ilustrasi siswa membaca buku bersama (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
Mengulang kelas tetap dapat menjadi salah satu pilihan apabila siswa belum menguasai kompetensi penting yang diperlukan untuk mengikuti pembelajaran di tingkat berikutnya. Namun, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa. Jika siswa kembali mempelajari materi dengan pendekatan yang sama tanpa mengatasi kesulitan sebelumnya, pengulangan kelas berisiko tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Karena itu, sekolah perlu mengevaluasi proses pembelajaran dan menyesuaikan pendekatan yang digunakan dengan kebutuhan siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian The Impact of Formative Assessment on K-12 Learning: A Meta-Analysis (2024), yang menganalisis 118 penelitian primer dan menemukan bahwa asesmen formatif memberikan dampak positif terhadap pencapaian akademik siswa.
Asesmen formatif membantu guru memperoleh informasi mengenai pemahaman siswa selama pembelajaran. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut, misalnya dengan menjelaskan kembali materi yang belum dipahami, memberikan latihan tambahan, atau menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda.
Selain aspek akademik, keputusan mengulang kelas juga perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan emosional siswa. Perubahan lingkungan pertemanan dan pengalaman belajar dapat menjadi tantangan bagi sebagian anak. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap siswa, sehingga perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing.
Dengan demikian, keputusan mengulang kelas sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hasil evaluasi akademik, tetapi juga diikuti dengan upaya untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Sekolah perlu memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar menjadi bagian dari upaya membantu siswa memenuhi kompetensi yang dibutuhkan, bukan sekadar konsekuensi atas nilai yang belum mencapai standar.