Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Tipe Konsumen Berdasarkan Daya Belinya, Murah Bisa Gak Laris!

ilustrasi orang belanja
ilustrasi orang belanja (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya sih...
  • Konsumen kalangan ekonomi bawah- Terbatas daya beli dan pilihan produk- Tantangan: tidak adanya jaminan loyalitas pembeli
  • Kalangan ekonomi menengah- Fleksibilitas daya beli- Tantangan: sulit ditebak ingin produk seperti apa
  • Kalangan ekonomi atas- Prioritas pada kualitas produk- Tantangan: sulit menyasar pasar yang eksklusif
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai sasaran dari produk bisnismu, tentunya peran konsumen memegang kendali yang cukup besar, ya. Baik berupa jasa maupun barang, tak jarang konsumen ini memegang kendali, terlebih jika produkmu itu punya banyak variasi dari brand lain yang menjadi sainganmu.

Alhasil, konsumen jadi punya banyak pilihan, apakah memilih produkmu, setia menjadi pelanggan yang loyal, sekadar coba sekali, pun sama sekali gak tertarik. Nah, berdasarkan daya belinya, konsumen terbagi menjadi 3 jenis, yakni kalangan ekonomi bawah, menengah, dan atas. Sebagai bahan evaluasi, berikut sederet ulasan ketiga tipe konsumen berdasarkan daya belinya lengkap dengan tantangan dari masing-masing.

1. Konsumen kalangan ekonomi bawah

ilustrasi kegiatan belanja
ilustrasi kegiatan belanja (pexels.com/Mike Jones)

Sesuai dengan namanya, kalangan bawah, terbatas secara daya beli, pun terbatas secara pilihan produk. Dengan begitu, konsumen tipe ini gak sebegitu peduli dengan kualitas, asalkan murah, itulah pilihannya.

Logikanya, mereka paham bahwa kemampuan belinya itu rendah. Gak punya banyak kesempatan untuk memilah-milah secara kualitas di saat paham keuangannya terbatas. Jadi, sortir utamanya ialah harga yang terjangkau, paling ekonomis.

Apalagi, jika tipe produk bukanlah kebutuhan pokok sehari-hari. Tentunya akan cukup sulit untuk menembus daya beli kalangan bawah, meski dengan harga yang murah sekali pun. Ketika ekonomi global sedang terganggu pun, kalangan bawah ini lah yang pertama kali hilang daya belinya.

Dengan kata lain, tantangan saat produkmu itu menyasar kalangan ekonomi bawah yakni tidak adanya jaminan loyalitas pembeli. Di saat harga pasaranmu naik atau beda satu sen pun dengan produk sebelah, gak heran mereka langsung berpindah hati.

Mereka gak peduli dengan bahan baku yang naik, atau kualitas produkmu yang ter-upgrade. Mereka hanya ingin tahu hasil akhirnya, mana yang paling murah dengan kuantitas yang sama bahkan lebih besar, maka itulah yang dipilih.

Tentunya hal ini jadi pertimbangan tersendiri untuk menciptakan produk yang bisa menyenangnan kalangan ekonomi bawah dengan karakteristiknya tersebut, ya. Berbagai gimmick paket bundling, discount, cashback, hingga buy 2 get 1 pun bisa menjadi pilihan untuk menstimulasi harga terjangkau di otak mereka.

2. Kalangan ekonomi menengah

ilustrasi kegiatan belanja
ilustrasi kegiatan belanja (pexels.com/Mike Jones)

Bisa dikatakan, kalangan menengah ini yang paling susah dikendalikan, sulit untuk dipuaskan. Kenapa begitu? Di satu sisi, secara daya beli, mereka ini punya kemampuan untuk menjangkau produk kalangan atas.

Tapi, di sisi lain karakter kalangan bawah juga ikut serta dengan masih pilah-pilih untuk mencari yang paling murah. Tentunya, kalangan menengah ini lebih leluasa, lebih punya kesempatan untuk memilih. Jika ditanya uang, ya punya, jika ditanya beli mahal atau murah, ya pilih yang paling murah dengan kualitas yang paling tinggi.

Daya beli yang fleksibel dari kalangan ekonomi menengah inilah yang sulit ditebak ingin produk seperti apa. Apakah fokus pada kualitas tinggi, atau harganya yang terjangkau. Hal tersebut lantaran setiap orangnya berbeda prioritasnya.

Misalnya saja tipe orang yang lebih mementingkan penampilan, maka si kalangan menengah satu ini tak akan ragu untuk membeli produk mahal yang biasanya dibeli oleh kalangan atas. Sebaliknya, di sisi kebutuhan pangan, ia justru malah memilih produk kalangan bawah, asalkan sama-sama bikin kenyang, gak apa untuk makan di pinggir jalan biar harganya murah.

Pola tersebut bisa berlaku terbalik, yakni lebih mengutamakan kualitas pangan yang terbaik. Terkait pakaian dan berbagai perawatan tubuh lainnya justru pilih yang paling murah atau bahkan dipangkas maksimal pemenuhannya. Terlepas dari dimensi penampilan dan pangan, orang yang masuk kategori ekonomi menengah akan memiliki pola yang berbeda-beda pada dimensi lain yang lebih luas, ya.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri saat menyasar kalangan ekonomi menengah sebagai target produkmu. Harus spesifik mereka ini tergolong kalangan menengah yang lebih rela keluar banyak uang untuk produk tipe apa. Cobalah mengalih lebih jauh karakter kalangan menengah dengan menyortir dari hobinya, pekerjaanya, dan sejenisnya.

3. Kalangan ekonomi atas

ilustrasi kegiatan belanja
ilustrasi kegiatan belanja (pexels.com/Alexandra Maria)

Menjadi tipe kosumen dengan daya beli yang paling tinggi, tentu kualitas menjadi hal yang utama, ya. Sekali jatuh cinta dengan value akan produkmu, mereka akan terus menjadi pelanggan yang loyal dan royal, lho.

Kalau kategori sebelumnya perlu pikir panjang saat kamu hendak upgrade kualitas barang. Justru kalangan ekonomi atas ini yang selalu menanti ada gebrakan baru apa lagi pada variasi produkmu, nih.

Dengan begitu, bikin mereka senantiasa menunggu dengan rasa penasaran, menanti-menati dengan penuh imajinasi. Tapi ingat, memang mereka loyal dan royal, namun rasa bosan tak jarang tetap berpeluang bikin ingin coba brand lain yang berpotensi membuatmu kehilangan pelanggan, lho.

Lebih lanjutnya, setimpal dengan berapa pun uangnya bisa dikatakan tak ada masalah bagi kalangan ekonomi atas. Hal ini juga setimpal dengan sulitnya menyasar kalangan atas, mereka gak akan mudah coba-coba hal baru, yang belum kuat terbukti kualitasnya.

Berangkat dari jam terbang pengalamannya sebagai konsumen yang eksklusif. Produk barang atau jasa yang berkualitas tentu menjadi konsumsi mereka dalam keseharian. Jadi, pastikan produkmu benar-benar punya kualitas yang layak bersaing.

Bisa jadi apa yang kamu klaim sudah paling berkualitas itu justru taste-nya gak ada apa-apanya dengan kepuasan yang pernah mereka dapatkan. Sehingga, uji coba untuk mendapatkan hasil produk barang maupun jasa yang berkualitas tinggi itu memegang kendali utama, ya.

Mengingat setiap konsumen punya target nilai produk yang berbeda, tentu sebagai pebisnis harus paham ingin menyasar pasar yang seperti apa. Jadi, jangan salah target dan puaskan sasaran konsumenmu sesuai dengan klasifikasinya, baik mereka yang mengejar kualitas, kuantitas, pun keduanya, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Hadapi Quarter Life Crisis karena Salah Pilih Pekerjaan

11 Jan 2026, 19:14 WIBLife