Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Risiko Menjadi Strict Parents untuk Anak, Rentan Tertekan!
ilustrasi memarahi anak (unsplash.com/Keren Fedida)
  • Pola asuh strict parents menuntut anak selalu patuh, namun jika berlebihan bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak sulit mengambil keputusan sendiri.

  • Anak yang tumbuh dalam aturan terlalu ketat rentan merasa stres, takut berpendapat, serta kehilangan kehangatan emosional dengan orangtuanya.

  • Ketegasan berlebih dapat memicu pemberontakan dan melemahkan bonding keluarga, sehingga keseimbangan antara disiplin dan kebebasan menjadi hal penting.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pola asuh orangtua ternyata memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, kepribadian, hingga mental yang dimiliki anak. Salah satu gaya yang mungkin kerap diterapkan adalah strict parents atau pola asuh yang sangat ketat, yaitu di mana aturan dibuat dengan tegas dan anak pun dituntut untuk selalu patuh setiap waktu.

Meski mungkin terlihat baik karena disiplin yang diterapkan sejak dini, namun pola asuh ini tetap saja akan membawa dampak negatif apabila dilakukan secara berlebihan. Berikut ini merupakan beberapa dampak negatif yang akan muncul pada saat orangtua menjadi strict parents untuk anak-anaknya.

1. Anak kehilangan rasa percaya diri

ilustrasi anak sedih (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Pada saat orangtua terlalu ketat dan selalu mengatur setiap langkah yang dimiliki anak, maka mereka cenderung merasa tidak mampu dalam membuat keputusannya sendiri. Kondisi ini akan secara otomatis menurunkan kepercayaan diri karena anak terbiasa selalu mengikuti arahan tanpa diberikan kesempatan untuk mencoba.

Dalam jangka panjang, nantinya anak bisa tumbuh menjadi individu yang selalu ragu-ragu takut salah hingga sulit dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa tidak percaya diri inilah yang nantinya bisa membawa dampak buruk terhadap hubungan sosial atau prestasi akademik yang dimilikinya

2. Anak rentan merasa stres dan tertekan

ilustrasi sedih (unsplash.com/mohamad azaam)

Pola asuh yang terlalu ketat sering kali membuat anak jadi mudah merasa takut, bukan segan pada orangtuanya. Mereka akan menjaga jarak karena merasa khawatir akan dimarahi atau tidak didengarkan ketika ingin mengungkapkan pendapatnya.

Kondisi ini akan membuat pola komunikasi antara orangtua dan anak jadi semakin dingin, bahkan ini akan kehangatan emosional. Akibat dari hal ini akan membuat anak sulit untuk menemukan tempat lain untuk bercerita daripada menceritakan pada orangtuanya secara langsung.

3. Anak berisiko memberontak

ilustrasi anak marah (pexels.com/mohamed abdelghaffar)

Pada saat aturan yang diberikan terlalu mengekang, maka anak akan menyimpan perasaan tertekan yang pada akhirnya meledak dalam bentuk pemberontakan. Hal ini dapat terjadi pada saat mereka beranjak remaja dan mulai menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Pemberontakan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari melanggar aturan-aturan kecil, berbohong, hingga mencari pelampiasan pada lingkungan yang kurang sehat. Semua itu merupakan reaksi dari perasaan tidak bebas yang telah mereka alami sejak kecil, sehingga bisa meledak kapan pun.

4. Kurangnya bonding dengan orangtua

ilustrasi anak malas (pexels.com/August de Richelieu)

Pola asuh strict parents nyatanya tidak selalu bisa diterapkan secara efektif pada anak, khususnya untuk anak-anak yang sudah mulai beranjak remaja. Sikap yang lebih protektif dari orangtua kerap kali membuat anak merasa tidak nyaman dan seolah ingin memiliki ruang privasinya.

Tidak mengherankan apabila pola asuh strict parents pada akhirnya sangat rentan menyebabkan penurunan kualitas bonding antara anak dan orangtua akibat paham yang tidak sejalan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka akan menyebabkan hubungan kekeluargaan menjadi tidak harmonis.

Menjadi strict parents memang bisa mendisiplinkan anak, namun juga dilakukan secara berlebihan justru bisa membawa dampak negatif yang berlebihan pada anak. Sebagai orangtua, tentunya penting untuk selalu menemukan keseimbangan antara memberikan aturan dan menawarkan ruang bagi anak untuk terus berkembang. Dengan begitu, maka anak tetap tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, sekaligus memiliki hubungan yang hangat dengan orangtuanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team