Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Ampuh Edukasi Anak Soal Circle Pertemanan yang Gak Sehat

ilustrasi ibu bicara dengan anak dan temannya
ilustrasi ibu bicara dengan anak dan temannya (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Anak perlu mengenali perasaannya sendiri untuk menghindari circle pertemanan yang merugikan.
  • Orangtua harus menjelaskan ciri pertemanan sehat dengan contoh nyata agar anak lebih paham.
  • Komunikasi dua arah dan dukungan tanpa mengontrol berlebihan membantu anak memilih teman dengan bijak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak tumbuh gak cuma dari rumah dan sekolah, tapi juga dari lingkungan pertemanannya. Circle pertemanan jadi tempat belajar empati, kerja sama, dan rasa percaya diri sekaligus memberikan pengaruh yang gak sehat kalau orangtua kurang peka. Masalahnya, anak gak bisa menyadari kalau lingkungan pertemanannya berdampak buruk ke sikap dan emosinya. Kadang sikap merka jadi lebih mudah marah, minder, atau takut jadi diri sendiri karena tekanan dari teman.

Di sinilah pentingnya peran orangtua, bukan untuk mengatur, tapi mendampingi dengan cara yang tepat. Edukasi soal pertemanan gak bisa dilakukan sekali dua kali, tapi di bangun lewat obrolan ringan yang konsisten. Anak perlu merasa aman saat bercerita tanpa takut dihakimi. Nah, biar anak gak salah langkah dalam memilih teman, yuk simak beberapa cara yang bisa orangtua terapin berikut ini!

1. Ajarkan anak mengenali perasaannya sendiri

ilustrasi mengajarkan anak mengenali perasaannya
ilustrasi mengajarkan anak mengenali perasaannya (freepik.com/freepik)

Langkah awal untuk mengedukasi anak soal pertemanan adalah membantu mereka mengenali perasaannya. Anak perlu tahu perbedaan antara nyaman, senang, tertekan, atau takut saat bersama temannya. Orangtua bisa mulai dengan memberi pertanyaan sederhana seperti yang bisa dipahami anak. Dari obrolan ringan ini, anak belajar kalau perasaannya penting dan layak untuk diperhatikan.

Circle pertemanan yang gak sehat bikin anak sering cemas atau rendah diri. Kalau anak terbiasa bisa mengenali emosinya, mereka lebih mudah menyadari tanda pertemanan yang merugikan. Orangtua juga lebih cepat menangkap sinyal masalah tanpa menginterogasi. Kebiasaan ini membantu anak tumbuh dengan emosi yang baik.

2. Jelaskan ciri pertemanan sehat dengan contoh nyata

ilustrasi menjelaskan tentang pertemanan yang sehat
ilustrasi menjelaskan tentang pertemanan yang sehat (freepik.com/pvproductions)

Anak biasanya sulit memahami sesuatu yang masih samar, termasuk soal pertemanan sehat dan gak sehat. Karena itu, orangtua perlu menjelaskan dengan contoh nyata yang dekat dengan kehidupan. Misalnya, teman yang baik gak akan memaksa, gak akan mengejek, dan gak membuat anak merasa bersalah. Tapi, circle yang gak sehat sering menuntut anak mengikuti semua keinginan teman.

Orangtua bisa menggunakan cerita, film, atau pengalaman sebagai bahan diskusi. Dengan cara ini, anak gak merasa digurui, tapi diajak untuk berpikir bersama. Penjelasan yang sederhana lebih mudah dipahami dan diingat anak. Anak jadi lebih paham bahwa pertemanan sehat itu saling menghargai, bukan saling menekan.

3. Bangun kebiasaan komunikasi dua arah

ilustrasi membiasakan komunikasi bertatap muka
ilustrasi membiasakan komunikasi bertatap muka (freepik.com/anna_grant)

Komunikasi yang terbuka menjadi kunci biar anak mau bercerita soal circle temannya. Jangan langsung menyalahkan atau memotong cerita anak saat mereka sedang curhat. Dengarkan dulu dengan penuh perhatian, meskipun ceritanya terlihat sepele. Anak biasanya lebih nyaman terbuka kalau merasa didengar dan dipahami.

Dari komunikasi dua arah ini, orangtua bisa belajar untuk mengenali pola pertemanan anak secara perlahan. Kalau ada sinyal yang menunjukkan circle gak sehat, orangtua bisa memberi masukan dengan bahasa lembut. Bukan melarang secara keras, tapi mengajak anak untuk mempertimbangkan dampaknya. Pendekatan ini membuat anak merasa lebih dihargai.

4. Ajarkan anak berani berkata tidak

ilustrasi mengajari anak untuk berani menolak
ilustrasi mengajari anak untuk berani menolak (freepik.com/pvproductions)

Ciri circle pertemanan yang gak sehat adalah adanya tekanan untuk selalu mengikuti permintaan. Anak takut ditolak kalau menolak ajakan teman. Orangtua perlu mengajarkan bahwa berkata tidak bukan berarti anak egois. Latih anak dengan simulasi sederhana di rumah, seperti menolak ajakan yang membuat dia merasa gak nyaman.

Jelaskan bahwa teman yang baik pasti akan menghargai keputusan tersebut. Dengan latihan ini, anak belajar membangun batasan dirinya sendiri. Keberanian berkata tidak bisa membantu anak terhindar dari pengaruh buruk. Anak jadi lebih percaya diri saat dia harus mengambil keputusan saat dewasa nanti.

5. Tunjukkan dukungan tanpa mengontrol berlebihan

ilustrasi selalu memberi dukungan
ilustrasi selalu memberi dukungan (freepik.com/user18526052)

Saat orangtua mulai melihat circle anak bermasalah, wajar kalau muncul rasa khawatir. Tapi, mengontrol secara berlebihan justru membuat anak menutup diri. Tunjukkan kalau orangtua selalu ada sebagai tempat paling aman untuk pulang dan bercerita. Berikan arahan tanpa memaksa anak untuk menjauhi temannya secara drastis.

Anak perlu belajar caranya berproses, bukan dari larangan sepihak. Dengan dukungan emosional yang konsisten, anak merasa gak sendirian. Orangtua yang nantinya membantu anak mengevaluasi pertemanannya. Pendekatan ini membuat anak bisa lebih dewasa dalam bersikap.

Mengedukasi anak soal circle pertemanan yang gak sehat bukan untuk melarang atau mengatur hidupnya. Peran orangtua adalah menjadi pendamping yang selalu hadir, mendengar, dan memberi arahan dengan bijak. Dengan komunikasi terbuka dan empati, anak belajar mengenali batasannya. Proses ini butuh waktu dan kesabaran dari orangtua.

Tapi, bekal yang diberikan pasti sangat berarti untuk masa depan anak. Anak yang paham pertemanan sehat lebih kuat secara mental dan emosional. Hubungan orangtua dan anak juga jauh jadi lebih hangat. Anak bisa tumbuh dengan lingkungan yang lebih aman dan mendukung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Rekomendasi Baju Imlek 2026 Selain Merah, Bermakna dan Bawa Hoki!

17 Jan 2026, 13:45 WIBLife