Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Pola Komunikasi Orangtua yang Membuat Anak Meragukan Emosi

4 min read
5 Pola Komunikasi Orangtua yang Membuat Anak Meragukan Emosi
ilustrasi ibu dan anak (magnific.com/magnific)
  • Respons orangtua yang berulang kali mengecilkan emosi dapat membuat anak meragukan apakah sedih, marah, kecewa, atau takut adalah perasaan yang wajar.
  • Menyebut anak terlalu sensitif, membandingkan masalahnya, menyangkal kesedihan, atau langsung menasihati dapat membuat anak menyembunyikan emosi dan enggan meminta bantuan.
  • Membuat anak merasa bersalah atas emosinya berisiko mendorong mereka memendam perasaan; orangtua perlu mendengarkan, mengakui emosi, dan berdiskusi dengan hormat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keluarga menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenali dan memahami emosi. Melalui respons orangtua, anak mulai mengerti bahwa rasa sedih, marah, kecewa, atau takut merupakan bagian wajar dari pengalaman manusia. Namun, tidak semua anak mendapatkan ruang yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Ada kalanya respons orangtua justru membuat anak merasa bahwa emosi yang dialaminya berlebihan atau tidak seharusnya muncul.

Jika terjadi berulang kali, pola komunikasi semacam ini dapat memengaruhi cara anak memandang perasaannya sendiri, bahkan ketika sudah dewasa. Anak mungkin terbiasa mempertanyakan apakah dirinya terlalu sensitif atau merasa bersalah karena mengalami emosi tertentu. Berikut lima pola komunikasi orangtua yang perlu diperhatikan.

  1. 1. Menganggap anak terlalu sensitif saat mengungkapkan perasaan

    Seorang ibu dan anak perempuan.
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

    Ketika anak menangis karena diejek teman atau kecewa akibat suatu kejadian, orangtua mungkin merespons dengan mengatakan bahwa anak terlalu sensitif. Kalimat tersebut terkadang dimaksudkan untuk membantu anak agar tidak mudah terpengaruh oleh keadaan. Namun, jika terus diulang tanpa berusaha memahami penyebab kesedihannya, anak bisa menangkap pesan bahwa reaksinya merupakan masalah, bukan sesuatu yang layak didengarkan.

    Akibatnya, anak mungkin mulai menyembunyikan perasaan agar tidak dianggap berlebihan. Ketika menghadapi situasi serupa, ia juga bisa mempertanyakan apakah dirinya memang berhak merasa sedih atau kecewa. Padahal, membantu anak mengelola emosi tidak harus dilakukan dengan mengecilkan perasaannya. Orangtua tetap bisa mengajarkan ketangguhan sambil mengakui bahwa pengalaman emosional setiap orang berbeda.

  2. 2. Membandingkan perasaan anak dengan kesulitan orang lain

    Ibu dan anak.
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Kindel Media)

    Kalimat seperti "Kamu masih beruntung, banyak anak yang hidupnya lebih susah" mungkin sering digunakan untuk mengajarkan rasa syukur. Sayangnya, jika disampaikan setiap kali anak mengeluhkan masalah, pesan tersebut dapat membuat anak merasa bahwa kesulitannya tidak cukup penting untuk dibicarakan. Anak akhirnya belajar membandingkan penderitaannya dengan orang lain sebelum mengizinkan dirinya sendiri merasa kecewa atau sedih.

    Kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Seseorang mungkin merasa tidak pantas mengeluh karena kehidupannya dianggap lebih baik daripada kehidupan orang lain. Ia juga bisa kesulitan meminta bantuan karena selalu meyakinkan diri bahwa masalahnya tidak seberapa. Padahal, mengakui kesulitan pribadi tidak berarti mengabaikan penderitaan orang lain. Rasa syukur dan perasaan tidak nyaman bisa hadir secara bersamaan tanpa harus saling meniadakan.

  3. 3. Langsung memberi nasihat tanpa mendengarkan cerita anak

    Seorang ayah berbaju merah muda sedang duduk dan berbicara dengan anak laki-laki berbaju putih.
    ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/August de Richelieu)

    Saat anak menceritakan masalah, orangtua mungkin langsung menawarkan solusi, menyalahkan keputusan yang diambil, atau menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan. Respons ini bisa muncul dari niat baik karena orangtua ingin anak segera menemukan jalan keluar. Namun, jika nasihat selalu diberikan sebelum anak merasa didengarkan, pengalaman emosionalnya bisa terabaikan dan percakapan terasa seperti evaluasi atas kesalahan yang dibuatnya.

    Lama-kelamaan, anak mungkin kesulitan membedakan kebutuhan untuk didengarkan dan kebutuhan untuk mendapatkan solusi. Ia juga bisa terbiasa menganggap perasaannya sendiri tidak penting selama masalahnya belum terselesaikan. Padahal, mendengarkan bukan berarti harus selalu menyetujui tindakan anak. Orangtua dapat terlebih dahulu memahami apa yang dirasakan anak, kemudian mengajaknya mencari solusi ketika ia sudah siap berdiskusi.

  4. 4. Menyangkal perasaan anak karena situasinya terlihat sepele

    Ayah dan anak.
    ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Julia M Cameron)

    Orangtua mungkin menganggap masalah tertentu tidak perlu ditangisi, seperti kehilangan barang kesayangan, tidak diajak bermain oleh teman, atau gagal mengikuti kegiatan yang diinginkan. Karena persoalannya terlihat sederhana dari sudut pandang orang dewasa, respons yang muncul bisa berupa, "Begitu saja kok sedih?" atau "Itu bukan masalah besar." Padahal, sesuatu yang tampak sepele bagi orangtua belum tentu memiliki arti yang sama bagi anak.

    Jika pengalaman semacam ini terus berulang, anak dapat terbiasa mengukur validitas emosinya berdasarkan penilaian orang lain. Ia mungkin merasa perlu memiliki alasan yang cukup besar sebelum berani mengakui kesedihan atau kekecewaannya. Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa membuatnya mengabaikan ketidaknyamanan pribadi sampai terasa semakin berat. Orangtua dapat membantu dengan menanyakan alasan di balik perasaan anak tanpa harus menganggap setiap persoalan sebagai keadaan darurat.

  5. 5. Membuat anak merasa bersalah karena emosinya sendiri

    Seorang ibu dan anak.
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Kindel Media)

    Pola komunikasi lain yang perlu diperhatikan adalah ketika orangtua merespons emosi anak dengan menunjukkan rasa kecewa, tersinggung, atau menyalahkan anak karena telah membuat suasana hati mereka buruk. Contohnya, ketika anak menyampaikan ketidaksetujuan, orangtua justru mengatakan bahwa anak tidak tahu berterima kasih atau tidak menyayangi keluarganya. Akibatnya, anak bisa menghubungkan kejujuran emosional dengan risiko menyakiti orang yang dicintainya.

    Dalam jangka panjang, anak mungkin memilih memendam perasaan demi menjaga suasana tetap tenang. Ia juga dapat merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, bahkan ketika perasaan tersebut bukan sepenuhnya berada dalam kendalinya. Padahal, anak perlu belajar bahwa mengungkapkan kekecewaan atau ketidaksetujuan tidak otomatis berarti tidak menyayangi orangtua. Perasaan dapat dibicarakan dengan hormat tanpa harus membuat salah satu pihak menyangkal apa yang dialaminya.

    Cara orangtua merespons perasaan anak dapat memengaruhi bagaimana anak belajar memahami dirinya sendiri. Karena itu, mengasuh anak bukan hanya tentang mengajarkan perilaku yang benar, tetapi juga memberinya ruang untuk mengenali emosi tanpa merasa malu atau bersalah.

    Orangtua tidak harus selalu memberikan respons yang sempurna. Kesediaan untuk mendengarkan, mengakui kesalahan, dan memperbaiki komunikasi juga dapat membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat dengan perasaannya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More