Keluarga menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenali dan memahami emosi. Melalui respons orangtua, anak mulai mengerti bahwa rasa sedih, marah, kecewa, atau takut merupakan bagian wajar dari pengalaman manusia. Namun, tidak semua anak mendapatkan ruang yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Ada kalanya respons orangtua justru membuat anak merasa bahwa emosi yang dialaminya berlebihan atau tidak seharusnya muncul.
Jika terjadi berulang kali, pola komunikasi semacam ini dapat memengaruhi cara anak memandang perasaannya sendiri, bahkan ketika sudah dewasa. Anak mungkin terbiasa mempertanyakan apakah dirinya terlalu sensitif atau merasa bersalah karena mengalami emosi tertentu. Berikut lima pola komunikasi orangtua yang perlu diperhatikan.
