ilustrasi parenting (pexels.com/Kaboompics.com)
Ketika anak mulai jarang bercerita, orangtua tidak harus selalu memulai percakapan dengan pertanyaan serius. Kedekatan justru bisa dibangun melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, menonton film, memasak, atau berjalan-jalan.
Momen santai tersebut dapat membuat anak merasa lebih nyaman untuk berbicara tanpa merasa sedang diinterogasi. Psikolog Lisa Damour, Ph.D., yang dikenal sebagai penulis dan pakar psikologi remaja, menjelaskan dalam panduan UNICEF bahwa mendengarkan dan menunjukkan empati merupakan cara penting untuk mendukung anak ketika mereka sedang mengalami emosi yang sulit.
"Saat remaja mengungkapkan bahwa mereka sedang merasa sedih atau kesal, orang dewasa mungkin tergoda untuk langsung memberikan nasihat, kata-kata penyemangat, atau pertanyaan. Hal-hal tersebut memang bisa berguna, namun sering kali yang paling mereka butuhkan adalah empati," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa remaja tidak selalu membutuhkan solusi. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Orangtua juga bisa mulai menggunakan pertanyaan terbuka yang tidak menuntut jawaban panjang.
"Saat remaja berbagi perasaan yang menyakitkan, cobalah untuk menanggapi dengan penuh pengertian terlebih dahulu. Mengatakan hal seperti 'Aku turut sedih kamu merasa seperti itu' atau 'Wajar saja jika kamu merasa kesal' sering kali memberikan dukungan yang mereka cari sekaligus menjaga saluran komunikasi tetap terbuka," saran Lisa.
Anak yang mulai jarang bercerita kepada orangtua tidak selalu sedang mengalami perubahan hubungan yang buruk. Bisa jadi, mereka sedang belajar mengenali diri sendiri, membutuhkan privasi, atau menghadapi persoalan yang belum siap dibagikan. Namun, orangtua tetap perlu peka terhadap perubahan perilaku yang berlangsung lama dan berpotensi mengganggu keseharian anak.