Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Anak Pertama Punya Ekspektasi Diri yang Lebih Tinggi?

ilustrasi anak pertama
ilustrasi anak pertama (pexels.com/Brayan Chul)
Intinya sih...
  • Anak pertama sering menerima kepercayaan sebelum siap, memunculkan ekspektasi internal yang tinggi.
  • Merasa wajib berhasil karena melihat perjuangan keluarga, namun tidak semua anak pertama merasakan hal tersebut.
  • Perbandingan lebih sering dialami sulung daripada bungsu, namun banyak juga sulung yang menolak perbandingan dan membuat jalurnya sendiri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang percaya ekspektasi pada anak pertama hadir otomatis sejak hari lahirnya, seolah posisi tertua langsung memasang standar tertentu tanpa perlu aturan tertulis. Pandangan ini sering muncul karena anak pertama mengalami masa keluarga yang masih mencoba segala hal untuk pertama kalinya.

Namun, tidak semua anak sulung tumbuh dengan jalan cerita yang sama karena tiap rumah punya cara sendiri mendampingi tumbuh kembang anaknya. Topik mengenai anak pertama punya ekspektasi diri yang lebih tinggi ini menarik karena pengalaman si sulung kadang tidak sesuai bayangan masyarakat. Berikut sudut pandang yang lebih luas soal ekspektasi pada anak pertama.

1. Anak pertama sering menerima kepercayaan sebelum siap

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Any Lane)

Anak pertama biasanya menjadi orang pertama yang dicoba orang tua dalam hal pengasuhan sehingga berbagai tugas kecil sering dilemparkan ke mereka lebih awal dibanding adik-adiknya. Kepercayaan ini bukan selalu datang dari instruksi langsung tetapi dari kebiasaan sehari-hari seperti diminta belajar sendiri, membantu memegang keputusan kecil, atau menjaga adik sebentar saat orang tua sibuk. Dari situ muncul anggapan bahwa anak pertama tidak banyak pilihan selain tahu caranya, meski kenyataannya mereka sama bingungnya dengan anak lain pada usia serupa. Banyak sulung kemudian belajar memperbaiki diri diam-diam agar terlihat siap di mata keluarga.

Di sisi lain ada pula anak sulung yang tidak pernah dituntut apa pun karena orang tua sadar mereka pun sedang belajar. Lingkungan seperti ini membuat si sulung tumbuh santai sehingga ekspektasi internal tidak cepat terbentuk. Bahkan adik bisa saja menjadi pihak yang lebih dominan karena kemampuan atau kepribadian yang lebih vokal. Situasi seperti ini mengingatkan bahwa posisi kelahiran tidak otomatis menentukan karakter maupun ambisi. Kepercayaan memang bisa membentuk rasa tanggung jawab, tetapi rasa itu bisa tumbuh ringan bila dukungan keluarga juga setara.

2. Merasa wajib berhasil karena melihat perjuangan keluarga

ilustrasi kebanggan keluarga
ilustrasi kebanggan keluarga (pexels.com/Feedyourvision)

Sebagian besar anak pertama menjadi saksi awal perjalanan orang tua membangun keluarga dari nol sehingga mereka menyaksikan fase paling repot dan serba menyesuaikan. Dari situ muncul dorongan dalam hati untuk membalas usaha tersebut, walau tidak pernah diminta. Ketika keinginan ini tumbuh terus, anak sulung bisa salah mengira bahwa mereka wajib mencapai banyak hal agar layak dibanggakan. Ekspektasi ini lahir bukan dari tekanan, tapi dari rasa tidak ingin mengecewakan.

Namun tidak semua anak pertama merasakan hal tersebut karena banyak keluarga yang membebaskan anak untuk berkembang sesuai pilihan tanpa ada harapan tertentu. Ada pula orang tua yang menegaskan bahwa perjuangan hidup mereka bukan tanggungan anak sehingga si sulung tumbuh lebih realistis. Anak seperti ini melihat keberhasilan sebagai perjalanan pribadi, bukan ajang pembuktian. Perbedaan pengalaman ini menegaskan bahwa ekspektasi tinggi tidak bawaan sejak lahir melainkan hasil kesimpulan anak terhadap situasi yang ia lihat.

3. Perbandingan lebih sering dialami sulung daripada bungsu

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Ron Lach)

Bukan rahasia bahwa anak pertama kerap menjadi pembanding internal keluarga sehingga setiap langkahnya diamati lebih detail, baik oleh orang tua maupun keluarga besar. Ketika pencapaian belum tampak, komentar ringan seperti “nanti pasti menyusul” bisa terasa berat karena menimbulkan kesan harus sukses lebih dulu daripada saudara lain. Tanpa sadar anak pertama mulai menilai keberhasilan menggunakan tolok ukur luas, mulai dari sekolah hingga career path. Perbandingan kecil ini kemudian berubah menjadi ekspektasi pribadi.

Namun banyak juga sulung yang menolak perbandingan dan membuat jalurnya sendiri. Mereka bisa memilih bidang yang berbeda total, mengambil waktu istirahat panjang, atau menjalani hidup tanpa agenda besar. Anak seperti ini membuktikan bahwa urutan lahir tidak memutuskan siapa yang memimpin lomba dan siapa pengikutnya. Dengan semakin beragamnya pilihan hidup masa kini, gambaran anak sulung yang selalu unggul sudah tidak lagi cocok untuk semua cerita.

4. Anak pertama sering menjadi tempat belajar komunikasi keluarga

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Monstera Production)

Karena menjadi anak pertama, mereka menghadapi gaya bicara, keputusan, dan aturan yang belum teruji sehingga banyak pesan terasa lebih tegas atau lebih kaku. Cara ini kadang membuat si sulung menyerap pandangan bahwa kesalahan sebaiknya dihindari agar suasana tetap terkendali. Kebiasaan seperti ini kemudian berkembang menjadi standar diri, yaitu selalu ingin melakukan hal yang tepat dan mengurangi risiko membuat orang lain bertambah repot. Dari luar terlihat seperti ekspektasi tinggi, padahal lebih tepat disebut kebiasaan menyesuaikan situasi.

Namun saat keluarga makin matang, cara komunikasi membaik dan anak pertama bisa ikut berubah. Mereka mungkin mulai melepas kebiasaan terlalu berhati-hati dan membiarkan ruang untuk mencoba. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ekspektasi bukan karakter baku, melainkan hal yang bisa bergeser seiring hubungan dan pemahaman antaranggota keluarga. Perubahan kecil dalam cara berbicara dan mendengar bisa melonggarkan beban yang sebelumnya mereka rasa wajib dipikul.

5. Ekspektasi tinggi tidak selalu berujung tekanan

ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Kampus Production)

Sisi menarik lain adalah bahwa ekspektasi pada anak pertama kadang mereka gunakan sebagai titik tolak menata hidup. Ada yang merasa termotivasi karena terbiasa memulai duluan, mencoba duluan, dan mencari solusi sendiri. Mereka nyaman mengambil first step dan merasa penasaran terhadap banyak hal karena sudah terlatih menghadapi ketidakpastian sejak kecil. Dalam kasus ini ekspektasi berubah menjadi bahan bakar untuk berani mengambil keputusan.

Akan tetapi tidak sedikit pula yang memilih jalur tenang dan tidak mengejar pencapaian besar karena menemukan nilai hidup bukan dari perlombaan. Anak pertama yang seperti ini justru merasa lebih aman tanpa target tinggi dan menikmati rutinitas sederhana yang stabil dan memuaskan. Pilihan mereka sah, sama bernilainya, dan tidak menentukan kualitas seseorang. Dengan begitu jelas terlihat bahwa ekspektasi, tinggi ataupun rendah, hanyalah bagian kecil dari gambaran besar kehidupan.

Tak selalu anak pertama punya ekspektasi diri yang lebih tinggi. Pada kenyataannya, mereka berbeda dari satu keluarga ke keluarga lainnya dan tidak semua sulung merasakannya. Banyak faktor membentuk perjalanan seseorang, bukan semata urutan lahir. Kalau begitu, menurut kamu sendiri apakah label ini masih relevan untuk semua anak sulung?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Menerima Perjodohan dari Orangtua Tanpa Tertekan dan Drama

14 Jan 2026, 20:18 WIBLife