Comscore Tracker

#MahakaryaAyahIbu: Sebuah Sanggar Seni Musik untuk Tunanetra

Setitik bakti dari anak, sejuta bahagia bagi orangtua.

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik. 


Ayah dan Ibuku adalah pemain musik. Ayah adalah seorang gitaris dan ibu adalah seorang pianis. Mereka sekarang bekerja di suatu kursus musik terkenal di kota Bandarlampung. Jika di rumah, aku selalu mendapat lantunan musik gratis dari kedua orang tuaku tersebut. Namun, aku tidak berada di rumah selama tiga bulan ini dikarenakan sedang mengikuti Management Trainee (MT) salah satu perusahaan kontruksi di Jakarta. Aku sekarang sedang mengejar cita-citaku yang ingin menjadi auditor internal di perusahaan konstruksi

Senin malam, ditengah-tengah kesulitanku mengerjakan proyek atas tugas MT-ku, ayahku menghubungiku melalui telepon. Beliau bertanya kepadaku apakah aku sudah mantap menempuh karir disana. Aku sudah berfikir dengan matang terkait masadepanku. Aku pun menjawab dengan mantap,”Ya, tentu saja ayah”. Lalu ayahku mengajak ibuku untuk menghiburku dengan lantunan lagu yang mereka ciptakan sendiri untukku diiringi dengan petikan gitar ayahku.

Selasa pagi itu, aku melanjutkan rutinitasku seperti biasa. Pada siang hari, aku harus mempresentasikan rencana proyek program MT-ku. Tentu, akan menjadi suatu hari yang sibuk hari ini dengan keadaan bahan persentasi yang masih mendapatkan revisi oleh supervisorku. Teleponku yang berdering karena Ibuku pun tidak ku angkat. Dua kali menelepon dan tidak ku angkat, Ibuku pun berhenti. Mungkin beliau hanya ingin mengucapkan “semoga lancar Nak persentasimu”.

Waktuku untuk melakukan persentasi pun tiba. Aku melakukan persentasi bersama timku dengan mantap dan mendapat respon baik dari tim penilai. Setelah itu, aku menelepon Ibuku untuk memberi kabar terkait dengan hasil memuaskan dari persentasiku. Namun, berita duka mengalir setelah berita suka mengenai persentasiku kusampaikan.

Ternyata ayahku kecelakaan.

Aku pun langsung bergegas memesan tiket pesawat tercepat menuju Bandarlampung. Untungnya, tugas utamaku hari itu sudah selesai. Hanya tinggal tugas-tugas kecil yang bisa ku kerjakan sendiri dirumah. Izin meninggalkan tempat kerjapun, mudah kudapatkan.

Sesampainya dirumah sakit, aku melihat Ibuku menangis di sebelah ayahku yang sedang berbaring. Aku sangat senang. Ternyata ayahku sudah siuman. Aku pun langsung menciumi ayahku. Setelah puas, ayahku berkata kepadaku.

"Bapak,  tidak bisa melihat lagi, Nak"

Aku terkejut. Seketika memori ingatanku yang melihat ayahku bermain gitar beliau muncul. Aku sangat mencemaskan keadaan ayahku yang mungkin tidak bisa bermain musik kembali. Aku takut jika ayahku menjadi seorang pesimis dengan keadaan yg akan beliau hadapi.

Namun, ku perhatikan ayahku dengan seksama. Betapa ikhlas wajahnya menerima keadaan yang ditakdirkan Tuhan kepadanya. Betapa kokoh tak tertandingi keluargaku dengan keadaan seperti ini.

-----------------------------------

Keseharian ayahku ternyata tidak berubah. Beliau tetap bermain musik. Walaupun ketidakmampuan melihat menerpa, jari jemari beliau memainkan gitar tetap mengeluarkan suara yang indah. Awalnya, tempat bekerja beliau tidak ingin mempekerjakan beliau dengan keadaan seperti itu. Namun, setelah melihat kemampuan beliau masih baik saat bermain, beliau akhirnya masih diperbolehkan bekerja.

Minggu pagi saat libur, aku mengikuti kegiatan berbagi bersama difabel tunanetra. Saat itu, aku menjadi volunteer disana. Bukan main, mereka sangat kreatif. Bahkan ada yang bisa bermain musik. Hingga akhirnya aku pun memutuskan bahwa aku akan membuat suatu mahakarya berupa sanggar seni musik yang mana disana ayah dan ibuku dan dibantu oleh beberapa orang akan memberikan kesempatan kepada teman-teman difabel untuk belajar bermain musik. Dan aku harap, dengan belajar bermain musik di sanggar itu, dapat menjadi salah satu tempat memunculkan rasa percaya diri bagi mereka.

Dan sanggar itu, akan menjadi suatu hadiah untuk ayah dan ibuku kelak. "Sanggar Sunyoto", begitulah namanya kelak. :)

Annisa Rizkiani Photo Writer Annisa Rizkiani

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya