Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Batasan Finansial dengan Orang Tua dan Saudara biar Dompet Gak Jebol

ilustrasi uang (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Bagi banyak orang, keluarga adalah segalanya. Dari kecil kita diajari kalau keluarga itu harus saling bantu, saling topang, dan tidak boleh pelit. Namun, di dunia nyata, urusan keuangan sering jadi area abu-abu. Niatnya berbuat baik, eh malah bikin kita sendiri megap-megap. Di sinilah pentingnya bicara soal batasan finansial dengan orang tua dan saudara, meskipun topiknya terasa sensitif dan sering memicu rasa tidak nyaman.

Menetapkan batasan finansial bukan berarti kita jadi anak durhaka atau saudara yang egois. Justru sebaliknya, ini soal menjaga hubungan tetap sehat dalam jangka panjang. Kalau dari awal semuanya serba “iya” tanpa memikirkan kemampuan, lama-lama yang capek bukan hanya dompet, tapi juga mental. Ada rasa terpaksa, ada rasa bersalah, ada juga rasa kesal yang dipendam. Ujung-ujungnya, hubungan yang harusnya hangat malah jadi penuh ganjalan. Padahal, tujuan membantu keluarga itu kan supaya semua merasa lebih ringan, bukan malah menambah beban baru. Supaya hubungan tetap hangat tanpa membuat dompet dan mental jebol, ini beberapa batasan finansial yang penting untuk diterapkan.

1. Bantu sesuai kemampuan, bukan sesuai permintaan

ilustrasi memberikan uang (unsplash.com/Igal Ness)
ilustrasi memberikan uang (unsplash.com/Igal Ness)

Banyak orang terjebak di pola “kalau keluarga minta, ya harus dibantu”. Padahal kenyataannya, kemampuan tiap orang itu berbeda-beda. Kamu boleh sekali membantu orang tua atau saudara, tapi ukur dulu dari kondisi keuanganmu sendiri. Kalau keuanganmu sedang ngepres, wajar sekali kalau kamu bilang belum bisa. Memaksakan diri demi kelihatan baik justru membuatmu kelelahan secara finansial dan emosional.

2. Jangan sampai bantuan berubah jadi kewajiban rutin

ilustrasi mentransfer uang (freepik.com/pch.vector)
ilustrasi mentransfer uang (freepik.com/pch.vector)

Awalnya mungkin hanya membantu sekali dua kali. Lama-lama kok jadi rutin tiap bulan. Tanpa sadar, kamu jadi ikut menanggung hidup orang lain. Di titik ini, batasan mulai kabur. Membantu itu seharusnya bersifat sementara, bukan kewajiban tetap kecuali memang ada kesepakatan jelas. Kalau kamu terus menerus diminta bantuan, kamu berhak bilang, “Aku gak bisa terus seperti ini ya.”

3. Pisahkan antara kebutuhan darurat dan gaya hidup

ilustrasi hangout (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi hangout (pexels.com/Kampus Production)

Ada perbedaan besar antara membantu karena darurat dan membantu untuk menutup gaya hidup. Misalnya, biaya rumah sakit itu darurat. Namun, kalau minta uang untuk liburan, ganti gadget, atau nongkrong mahal, itu sudah masuk ranah pilihan hidup. Kamu tidak wajib membiayai pilihan gaya hidup orang lain, meskipun itu saudaramu sendiri.

4. Kamu tidak wajib membocorkan semua detail keuanganmu

ilustrasi buku rekening (vecteezy.com/Thanapon Paulsukmanokul)
ilustrasi buku rekening (vecteezy.com/Thanapon Paulsukmanokul)

Terkadang, orang tua atau saudara merasa berhak tahu gaji, tabungan, sampai saldo rekening. Padahal, itu sudah masuk ranah privasi. Kamu boleh jawab secara umum tanpa harus menyebut angka. Semakin banyak orang tahu detail keuanganmu, semakin besar juga potensi ekspektasi dan tuntutan yang muncul.

5. Jangan jadikan dirimu ‘ATM keluarga’

ilustrasi memberikan uang (freepik.com/freepik)
ilustrasi memberikan uang (freepik.com/freepik)

Kalau setiap ada masalah finansial, semua mata langsung tertuju padamu, itu tanda kamu sudah diposisikan sebagai penyelamat. Lama-lama, orang lain jadi tidak belajar mandiri karena merasa selalu ada kamu yang siap membantu. Padahal, setiap orang dewasa seharusnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, termasuk urusan uang.

6. Utamakan masa depanmu juga, bukan hanya hari ini

ilustrasi menabung (pexels.com/Dany Kurniawan)
ilustrasi menabung (pexels.com/Dany Kurniawan)

Punya tabungan, dana darurat, dan rencana hidup itu penting. Kalau semua penghasilanmu habis untuk bantu orang lain, masa depanmu bisa terancam. Kamu berhak memikirkan dirimu sendiri tanpa harus dicap egois. Keluarga yang sehat justru mendukung satu sama lain untuk sama-sama kuat, bukannya malah menuntut satu orang untuk terus berkorban.

Menetapkan batasan finansial dengan orang tua dan saudara memang tidak mudah, apalagi di budaya yang penuh rasa sungkan. Namun, kalau kamu tidak mulai dari sekarang, beban itu bisa kamu pikul seumur hidup. Bantu tetap boleh, sayang tetap jalan, tapi diri kamu juga harus dijaga. Karena hubungan yang sehat itu bukan tentang siapa paling banyak memberi, tapi siapa yang paling bisa saling menghargai batas masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Pilih Tokoh Upin Ipin, Kamu Jago Hadapi Masalah atau Menghindar?

08 Feb 2026, 22:20 WIBLife