Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Biaya Nikah Tanggung Pihak Laki-laki atau Berdua?

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Toàn Văn)
Intinya sih...
  • Pihak laki-laki menanggung biaya nikah sebagai bentuk tanggung jawab awal
  • Pihak perempuan ikut menanggung biaya nikah sebagai bentuk kontribusi bersama
  • Pembagian biaya nikah berdua dianggap lebih masuk akal secara realistis
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nikah masih sering dipahami sebagai momen sakral yang urusannya tidak sekadar soal janji, tetapi juga biaya yang nyata dan tidak sedikit. Di banyak keluarga, pembahasan biaya nikah kerap muncul sejak awal, bahkan sebelum tanggal ditentukan. Ada anggapan lama bahwa pihak laki-laki seharusnya menanggung hampir seluruh kebutuhan acara. Di sisi lain, kondisi hidup sekarang membuat pembagian biaya terasa lebih relevan untuk dibicarakan secara terbuka.

Perubahan gaya hidup, kebutuhan yang makin kompleks, serta ekspektasi yang berbeda ikut memengaruhi cara pasangan memandang urusan ini. Tanpa perlu membandingkan atau menghakimi pilihan siapa pun, pembahasan soal biaya nikah memang layak dilihat dari sudut pandang kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan yang bisa menjadi gambaran sebelum sampai pada kesepakatan bersama.

1. Pihak laki-laki menanggung biaya nikah sebagai bentuk tanggung jawab awal

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/🇻🇳Trường Nguyễn Thanh 🇻🇳)

Dalam praktik yang masih banyak ditemui, pihak laki-laki menanggung mahar, seserahan lengkap, dekorasi, serta catering. Beban ini sering dianggap sebagai simbol kesiapan finansial sebelum membangun rumah tangga. Di beberapa daerah, pembagian tersebut juga berkaitan dengan adat yang sudah berjalan lama. Meski begitu, tanggung jawab ini bukan selalu soal gengsi atau pembuktian diri.

Bagi sebagian pasangan, pembagian tersebut disepakati karena kondisi finansial laki-laki memang lebih siap. Ada pula yang melihatnya sebagai cara menyederhanakan koordinasi agar keputusan lebih cepat diambil. Selama disepakati bersama tanpa paksaan, skema ini masih relevan diterapkan. Masalah biasanya muncul saat pembagian ini dianggap mutlak tanpa mempertimbangkan realitas pasangan yang dijalani bersama.

2. Pihak perempuan ikut menanggung biaya nikah sebagai bentuk kontribusi bersama

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Sam Gibson)

Pembagian biaya nikah yang melibatkan pihak perempuan kini semakin lazim, terutama di lingkungan urban. Dokumentasi, MUA, seragam sarimbit keluarga, hingga souvenir sering menjadi bagian yang ditanggung pihak perempuan. Bukan karena kewajiban, melainkan karena kebutuhan acara juga menyangkut kenyamanan dan representasi keluarga perempuan. Kontribusi ini kerap muncul dari kesepakatan yang lahir secara natural.

Dalam banyak kasus, pembagian tersebut justru membuat perencanaan terasa lebih ringan. Tidak ada satu pihak yang menanggung beban terlalu besar sejak awal. Selain itu, keterlibatan perempuan dalam pembiayaan sering mempercepat proses pengambilan keputusan. Selama dibicarakan dengan terbuka, pembagian ini jarang menjadi sumber masalah di kemudian hari.

3. Pembagian biaya nikah berdua dianggap lebih masuk akal secara realistis

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Jonathan Nenemann)

Menikah adalah keputusan berdua, begitu pula dengan konsekuensi finansialnya. Membagi biaya nikah sering dipandang lebih adil karena pengeluaran yang dihadapi memang tidak kecil. Catering, dekorasi, hingga dokumentasi sama-sama dinikmati dan menjadi bagian dari acara bersama. Logika ini banyak dipakai pasangan yang ingin memulai rumah tangga tanpa tekanan finansial berlebihan.

Dengan pembagian berdua, pasangan bisa menyesuaikan skala acara dengan kemampuan masing-masing. Tidak ada tuntutan untuk memaksakan konsep besar demi memenuhi ekspektasi sekitar. Fokusnya bergeser pada kelancaran acara dan kenyamanan semua pihak. Cara ini juga memberi ruang untuk menabung kembali setelah acara selesai.

4. Kesepakatan biaya nikah lebih penting daripada mengikuti pola lama

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Juliano Goncalves)

Setiap pasangan memiliki latar belakang keluarga dan kondisi keuangan yang berbeda. Mengikuti pola lama tanpa diskusi sering kali justru menimbulkan beban tersembunyi. Kesepakatan yang jelas sejak awal membantu menghindari salah paham di kemudian hari. Hal ini juga membuat proses persiapan nikah terasa lebih tenang.

Kesepakatan bukan berarti harus sama rata, tetapi proporsional sesuai kemampuan. Ada pasangan yang membagi berdasarkan jenis kebutuhan, ada pula yang membagi berdasarkan persentase. Selama kedua pihak merasa nyaman, tidak ada pola yang lebih benar dari yang lain. Urusan biaya nikah seharusnya tidak menjadi ajang pembuktian siapa yang lebih mampu.

5. Biaya nikah sebaiknya disesuaikan dengan tujuan hidup setelah menikah

ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/afiful huda)

Acara nikah hanya berlangsung sehari, sedangkan kehidupan setelahnya berjalan bertahun-tahun. Banyak pasangan mulai menyadari pentingnya menyeimbangkan antara acara dan rencana jangka panjang. Membagi biaya nikah bisa menjadi strategi agar kondisi finansial tetap sehat setelah menikah. Pendekatan ini semakin relevan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Menyesuaikan biaya bukan berarti mengurangi makna acara. Justru, keputusan yang matang sering membuat pasangan lebih siap menghadapi kehidupan bersama. Fokus tidak berhenti pada pesta, tetapi berlanjut pada kebutuhan nyata setelahnya. Dari sini, pembagian biaya menjadi bagian dari perencanaan hidup, bukan sekadar formalitas.

Pada akhirnya, biaya nikah bukan soal siapa yang lebih banyak mengeluarkan uang, melainkan bagaimana kesepakatan itu dibangun. Baik ditanggung pihak laki-laki, perempuan, maupun berdua, semuanya sah selama disepakati dengan terbuka. Setiap pasangan berhak menentukan cara yang paling masuk akal bagi kehidupan mereka sendiri. Jadi, skema mana yang paling sesuai dengan kondisi dan rencana hidup yang sedang kamu siapkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Rekomendasi Baju Imlek 2026 Selain Merah, Bermakna dan Bawa Hoki!

17 Jan 2026, 13:45 WIBLife