Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Cara Ayah Membangun Kedekatan dengan Bayi Sejak Dini

ilustrasi seorang ayah menggendong bayi (pexels.com/lauragarcia)
ilustrasi seorang ayah menggendong bayi (pexels.com/lauragarcia)

Ikatan emosional yang kuat dengan bayi sering kali identik dengan peran ibu. Padahal, ayah juga memiliki kesempatan yang sama untuk membangun hubungan yang hangat sejak dini. Kedekatan ini penting karena berperan besar dalam membentuk rasa aman dan perkembangan emosional anak.

Meski prosesnya tidak selalu instan, ikatan antara ayah dan bayi dapat tumbuh melalui keterlibatan yang konsisten. Setiap sentuhan, percakapan, dan kehadiran ayah memiliki makna tersendiri bagi bayi. Berikut beberapa cara ayah membangun kedekatan dengan bayi sejak dini.

1. Terlibat sejak masa kehamilan

ilustrasi foto USG (pexels.com/gustavo-fring)
ilustrasi foto USG (pexels.com/gustavo-fring)

Kedekatan ayah dengan bayi sebenarnya sudah bisa dimulai bahkan sebelum bayi lahir. Dengan ikut mendampingi ibu saat pemeriksaan kehamilan, ayah dapat memahami proses yang sedang dijalani sekaligus mempersiapkan diri secara mental. Kehadiran ini juga membantu ayah merasa lebih terhubung dengan peran barunya.

Selain itu, ayah bisa mulai berbicara dengan bayi sejak masih dalam kandungan. Bayi sudah mampu mendengar suara sejak usia kehamilan sekitar 16 minggu dan cenderung lebih peka terhadap suara laki-laki yang lebih rendah. Semakin sering bayi mendengar suara ayah, semakin kuat pula fondasi ikatan emosional yang terbentuk.

2. Memulai ikatan sejak kontak kulit ke kulit

ilustrasi bayi memegang jari orang dewasa
ilustrasi bayi memegang jari orang dewasa (pexels.com/pixabay)

Kontak kulit ke kulit merupakan salah satu cara paling efektif untuk membangun kedekatan antara ayah dan bayi. Aktivitas ini membantu bayi merasa tenang, aman, dan mengenali kehadiran ayah secara emosional. Selain itu, sentuhan langsung juga berdampak positif pada regulasi biologis bayi.

Kontak fisik ayah memiliki peran penting dalam proses ini. Selain itu, sentuhan ayah membantu membangun fondasi hubungan yang aman sejak awal. Ini menjadi dasar terbentuknya hubungan keterikatan yang aman antara bayi dan pengasuhnya.

“Kontak kulit ke kulit, atau dikenal sebagai kangaroo time, yaitu membiarkan bayi tidur atau berbaring di dada ayah, ternyata berdampak positif bagi kesehatan dan pengaturan biologis bayi,” jelas , Lauren Knickerbocker, Psikolog anak dari NYU Langone Child Study Center, dikutip dari The Bump.

3. Rutin mengajak bayi berbicara dari hati ke hati

ilustrasi seorang ayah menggendong bayi (pexels.com/lauragarcia)
ilustrasi seorang ayah menggendong bayi (pexels.com/lauragarcia)

Meskipun bayi belum bisa berbicara, mereka tetap menyerap suara dan intonasi orang tuanya. Mengajak bayi berbicara membantu menstimulasi perkembangan bahasa sekaligus memperkuat hubungan emosional. Interaksi sederhana ini membuat bayi terbiasa dengan suara ayah dan merasa diperhatikan.

Lauren Knickerbocker menegaskan bahwa komunikasi verbal berperan penting dalam perkembangan bayi. Berbicara dengan bayi dapat menstimulasi perkembangan bahasa, meski mereka belum mampu merespons. Semakin sering ayah melakukannya, semakin kuat ikatan dan kemampuan komunikasi anak.

4. Menjadi pendongeng favorit bayi

ilustrasi ayah dan anak
ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/josh-willink)

Mendongeng adalah salah satu cara efektif bagi ayah untuk membangun ikatan dengan bayi. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan emosional, tetapi juga membantu perkembangan bahasa anak. Bayi pun akan terbiasa mendengar suara ayah dalam suasana yang menyenangkan.

Ayah tidak harus membaca cerita secara kaku dari buku. Menunjuk gambar, menirukan suara, atau membuat cerita sederhana justru membuat bayi lebih tertarik. Kreativitas kecil ini membuat waktu bersama bayi terasa lebih hidup dan bermakna.

5. Terlibat aktif dalam perawatan sehari-hari

ilustrasi orangtua dan bayi
ilustrasi orangtua dan bayi (pexels.com/nappy)

Keterlibatan ayah dalam merawat bayi tidak hanya membantu meringankan peran ibu, tetapi juga mempererat hubungan dengan anak. Mengganti popok, menenangkan bayi, atau menemani waktu tidur memberi kesempatan bagi ayah untuk membangun koneksi emosional. Melalui rutinitas ini, ayah dan bayi belajar saling mengenal satu sama lain.

Dikutip dari The Bump, pakar maternitas dan pendiri Mama Glow, Latham Thomas, menekankan pentingnya inisiatif dari pihak ayah. Ia menyebut bahwa ayah yang menunjukkan kesiapan mengurus bayi tanpa harus diminta memberikan dampak positif bagi keluarga. Menurutnya, hal tersebut memberi ayah lebih banyak waktu satu lawan satu dengan bayi.

“Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan manfaat bagi anak dari interaksi yang dipimpin oleh ibu dan ayah,” jelas Lauren Knickerbocker.

6. Melibatkan bayi dalam aktivitas yang disukai ayah

ilustrasi ayah dan anak
ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/rdne)

Menghabiskan waktu bersama bayi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit. Ayah bisa melibatkan bayi dalam aktivitas sederhana yang ia sukai, seperti berjalan-jalan atau mendengarkan musik. Cara ini membantu ayah tetap menjadi diri sendiri sekaligus membangun kedekatan dengan bayi.

Berbagi pengalaman semacam ini memberi kesempatan bagi bayi untuk mengenal dunia melalui sudut pandang ayah. Kehadiran ayah dalam momen-momen santai membuat bayi merasa aman dan diperhatikan. Ikatan pun tumbuh secara alami melalui kebersamaan yang konsisten.

7. Menjadwalkan waktu khusus untuk bermain bersama bayi

ilustrasi anak dan ayah
ilustrasi anak dan ayah (pexels.com/rdne)

Waktu bermain yang terjadwal membantu ayah tetap konsisten membangun kedekatan dengan bayi. Aktivitas sederhana seperti bermain cilukba, bernyanyi, atau membuat ekspresi lucu memberi stimulasi emosional bagi bayi. Rutinitas ini juga membantu bayi mengenali pola kehadiran ayah.

Dengan waktu khusus ini, ayah dan bayi memiliki momen kebersamaan yang tidak terganggu oleh kesibukan lain. Kedekatan emosional pun terbentuk melalui interaksi yang berulang. Seiring waktu, rutinitas ini menjadi bagian penting dalam hubungan ayah dan anak.

8. Membangun koneksi dengan ayah lain

ilustrasi keluarga kecil (pexels.com/ellyfairytale)
ilustrasi keluarga kecil (pexels.com/ellyfairytale)

Menjadi ayah baru sering kali datang dengan rasa cemas dan kebingungan. Bertemu dan berbagi cerita dengan ayah lain membantu menormalisasi perasaan tersebut. Dari sini, ayah bisa belajar bahwa banyak orang mengalami hal serupa.

“Perkumpulan ini membantu ayah merasa tidak sendirian, mendapatkan saran, atau sekadar didengarkan,” jelas Latham Thomas.

Dukungan dari sesama ayah juga membuat perjalanan membangun kedekatan dengan bayi terasa lebih ringan. Percakapan santai, tawa, dan saling berbagi pengalaman dapat mengurangi tekanan. Dengan kondisi emosional yang lebih baik, ayah pun bisa hadir lebih optimal untuk bayinya.

Itulah beberapa cara ayah membangun kedekatan dengan bayi sejak dini. Ikatan ini tumbuh lewat kehadiran yang konsisten, bukan proses instan. Sentuhan dan keterlibatan sederhana ayah menjadi fondasi hubungan yang hangat dan aman bagi anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Tipe MBTI yang Pandai Menyembunyikan Emosi, Cenderung Menutup Diri

10 Jan 2026, 06:15 WIBLife