Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Efektif Bantu Anak Mengelola Amarah Tanpa Bikin Orangtua Ikut Emosi

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Melihat anak marah bisa bikin suasana rumah ikut tegang. Kadang, tangisan, teriakan, atau pukulan kecil membuat orangtua ikut kehilangan kesabaran. Padahal, kemarahan adalah emosi wajar yang sebenarnya bisa diajarkan cara dikelola dengan baik.

Mengelola emosi anak bukan soal menaklukkan atau menekan mereka, tapi memahami dan membimbingnya. Dengan pendekatan yang tepat, orangtua bisa tetap tenang sekaligus membantu anak belajar mengekspresikan perasaan. Yuk, simak cara-cara efektif supaya amarah anak bisa tersalurkan tanpa bikin orangtua stres.

1. Terima kemarahan anak

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)
ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Saat anak marah, akui perasaannya. Kamu bisa bilang, “Aku melihat kamu sedang marah,” atau menambahkan alasan jika tahu penyebabnya, misalnya, “Aku tahu kamu marah karena ingin main di ayunan dan sekarang harus pulang.” Mengakui perasaan anak membuat mereka merasa aman untuk mengekspresikan emosi, bukan menekannya.

“Anak-anak balita belum selalu bisa mengekspresikan masalahnya, sehingga mereka menunjukkan kemarahan secara fisik. Mereka akan menangis, berteriak, atau menendang,” jelas Meri Wallace, LCSW, pakar parenting dan terapis anak, dikutip dari Parents.

Raoul Lindsay, spesialis kesehatan mental, dikutip dari BBC, menyarankan, kamu juga bisa menunjukkan bahwa kamu mendengarkan dengan mengulang kata-kata anak. Misalnya, kalau anak ingin cokelat, bilang, “Aku mengerti kamu ingin cokelat, tapi saat ini tidak bisa,” lalu jelaskan alasannya.

2. Dorong anak menggunakan kata-kata

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Anak-anak tidak otomatis tahu bagaimana mengekspresikan kemarahan dengan kata-kata. Kamu bisa mengajarkannya sederhana, misalnya, “Kalau marah, katakan ‘Aku marah,’ supaya aku bisa membantumu.” Memberikan contoh kalimat seperti ini membantu anak terbiasa menyampaikan perasaan dengan tepat.

“Orangtua bisa mengajarkan kata-kata untuk menggambarkan emosi, seperti sabar, tenang, bahagia, frustrasi, marah, atau sedih, sambil menjelaskan bagaimana perasaan itu terasa di tubuh mereka,” jelas Mark Greenberg, PhD, profesor emeritus pengembangan manusia dan psikologi di Penn State University, dikutip dari American Psychology Association.

Mengajarkan anak menggunakan kata-kata memperluas kosakata emosional mereka dan memudahkan mereka menjelaskan perasaan. Anak yang bisa mengekspresikan emosi cenderung lebih mudah menghadapi konflik dan lebih percaya diri dalam bersosialisasi.

3. Temukan solusi positif

ilustrasi bermain dengan anak (pexels.com/tatianasyrikova)
ilustrasi bermain dengan anak (pexels.com/tatianasyrikova)

Daripada membiarkan anak terus menangis atau marah, bantu mereka mencari solusi. Misalnya, jika anak tidak mau berbagi mainan, kamu bisa bilang, “Kita simpan mainan ini sebentar, nanti bisa dimainkan lagi.” Strategi ini membantu anak fokus pada hal positif daripada terus frustrasi.

Mengalihkan perhatian atau menawarkan alternatif juga efektif, misalnya, “Kita tidak bisa ke taman karena hujan, tapi bagaimana kalau bermain di tenda di ruang tamu?” Cara ini mengajarkan anak memecahkan masalah tanpa kekerasan atau manipulasi.

4. Perlambat responsmu

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)
Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)

Ketika anak meminta sesuatu, jangan langsung bilang “ya” atau “tidak.” Ambil jeda dan ajak bicara, misalnya, “Coba tarik napas sebentar, lalu ceritakan apa yang kamu mau.” Memberi waktu untuk merespons membantu anak memahami alasan di balik keputusanmu dan menerima penolakan dengan lebih tenang.

Perlambatan ini juga jadi contoh bagi anak bagaimana mengatur emosi. Orangtua yang tetap tenang saat situasi menegangkan mengajarkan anak secara langsung cara mengendalikan perasaan mereka sendiri.

5. Cari ruang tenang

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)
ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)

Kalau sedang di tempat umum, pindahlah ke area yang lebih tenang. Kurangi gangguan agar kamu dan anak bisa fokus menenangkan diri. Ajak anak duduk bersama sambil bicara, misalnya, “Mari duduk sebentar, kita bicarakan ini.”

Lingkungan yang lebih tenang membuat anak merasa aman dan didukung. Meri Wallace menekankan pentingnya menjaga ketenangan diri sendiri, karena anak meniru cara orangtua menanggapi emosi.

6. Tetapkan batas yang tegas

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Mengakui kemarahan anak tidak berarti membiarkan perilaku agresif. Jelaskan batas dengan jelas, misalnya, “Marah itu wajar, tapi menendang atau memukul tidak boleh.” Selanjutnya, arahkan anak pada respons positif sehingga mereka memahami perilaku yang diterima dan yang tidak.

Dengan batas yang jelas, anak belajar bahwa emosi boleh diekspresikan, tetapi tindakan yang menyakiti orang lain tidak diperbolehkan. Penjelasan singkat dan tegas membuat anak lebih mudah mematuhi aturan sambil tetap merasa didengar.

Mengelola amarah anak memang butuh kesabaran, tapi bukan berarti orangtua harus ikut stres. Dengan langkah yang tepat, kamu bisa bantu anak menyalurkan emosinya sambil tetap menjaga ketenangan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

7 Dekorasi Resepsi Ranggaz Laksmana dan Angie, Glamor Berlatar Draperi

09 Feb 2026, 12:31 WIBLife