Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)
ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)

Memberikan reward sering menjadi strategi andalan orangtua untuk memotivasi anak. Namun, tidak semua reward bekerja efektif jika diberikan tanpa pertimbangan yang tepat. Jika salah pilih, reward justru bisa kehilangan makna dan tidak lagi memberi dampak positif.

Setiap anak memiliki karakter, minat, dan cara termotivasi yang berbeda. Karena itu, orangtua perlu memahami bahwa reward bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk apresiasi yang bisa menginspirasi perilaku positif. Lalu, bagaimana cara memilih reward yang tepat agar anak tetap termotivasi? Yuk, cari tahu lewat artikel berikut ini!

1. Sesuaikan reward dengan minat alami anak

ilustrasi orangtua dan anak bermain bersama (pexels.com/gustavofring)

Menurut psikolog klinis Barbara Di Benedetto yang dikutip BBC, memilih reward bersifat sangat individual dan tidak bisa disamaratakan. Orangtua perlu memahami apa yang benar-benar bernilai bagi anak serta relevan dengan dinamika keluarga. Minat alami anak menjadi kunci agar reward terasa bermakna dan tidak dipaksakan.

“Gunakan minat alami anak sebagai dasar pemberian reward dengan memperhatikan hal-hal yang membuat mereka bersemangat dan aktivitas yang paling mereka nikmati,” jelas Barbara.

Ada anak yang termotivasi oleh kegiatan kreatif seperti seni dan kerajinan, sementara yang lain lebih antusias dengan aktivitas fisik seperti bersepeda atau mengunjungi perpustakaan. Karena respons setiap anak berbeda, observasi menjadi langkah awal yang sangat penting.

2. Pilih reward sederhana dan berbasis pengalaman

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Reward tidak harus selalu mahal atau berbentuk barang. Justru reward kecil atau berbasis pengalaman, seperti waktu layar tambahan atau bermain di luar rumah, sering kali lebih efektif. Pengalaman juga cenderung meninggalkan kesan emosional yang lebih dalam bagi anak.

“Pilih reward kecil yang tidak mahal atau berupa pengalaman, seperti waktu layar tambahan atau aktivitas luar ruangan. Reward mahal atau gestur besar bisa membuat anak selalu mengharapkan hadiah besar,” jelas Barbara.

Jika ekspektasi ini terbentuk, motivasi anak bisa bergeser dari usaha ke hadiah semata. Karena itu, reward sederhana justru lebih berkelanjutan untuk jangka panjang.

3. Simpan reward besar untuk pencapaian jangka panjang

Ilustrasi anak-anak tersenyum (pexels.com/xomidov)

Reward besar sebaiknya diberikan untuk proses yang membutuhkan waktu dan konsistensi. Sistem mengumpulkan stiker, token, atau poin dapat membantu anak memahami bahwa pencapaian membutuhkan usaha bertahap. Dengan cara ini, anak belajar menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.

Pendekatan ini juga melatih anak untuk bersabar dan tidak mengharapkan hasil instan. Setiap langkah kecil tetap diapresiasi, meski hadiah utama belum langsung didapat.

“Dan gunakan reward tersebut hanya untuk tujuan itu saja. Anak seharusnya tidak bisa mendapatkan reward yang sama untuk alasan lain,” tambah Barbara.

4. Libatkan anak dalam memilih reward

ilustrasi anak dan bapak di keramaian (pexels.com/brettsayles)

Melibatkan anak, terutama yang sudah lebih besar, dapat meningkatkan efektivitas reward. Anak akan merasa pendapatnya dihargai dan memiliki kendali atas pilihannya. Hal ini membuat reward terasa lebih personal dan bermakna.

Selain itu, diskusi sederhana tentang reward juga bisa menjadi sarana belajar bagi anak. Orangtua tetap memiliki peran untuk mengarahkan agar pilihan reward selaras dengan nilai keluarga. Dengan begitu, motivasi anak tumbuh tanpa kehilangan batasan yang sehat.

5. Jaga makna reward agar tetap sehat

ilustrasi ibu dan anak memeriksa buah (pexels.com/pavel-danilyuk)

Reward perlu disesuaikan dengan usaha yang dilakukan anak. Jika reward terlalu kecil atau terlalu besar, efek motivasinya justru bisa berkurang. Keseimbangan antara usaha dan apresiasi menjadi kunci agar reward tetap efektif.

Orangtua juga disarankan untuk menghindari penggunaan makanan sebagai reward. Kebiasaan ini berisiko membentuk hubungan yang kurang sehat dengan makanan. Variasikan reward dan jaga eksklusivitasnya agar daya tarik tidak cepat memudar.

Memilih reward yang tepat bukan tentang memberi hadiah terbesar, melainkan yang paling bermakna. Dengan memahami kebutuhan dan karakter anak, reward bisa menjadi alat inspiratif, bukan sekadar imbalan. Pada akhirnya, perhatian, konsistensi, dan kehangatan orangtua tetap menjadi motivasi utama bagi anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team