“Anak-anak mulai bisa membayangkan berbagai hal, meski tidak terlihat langsung di depan mata mereka,” kata Pie Corbett.
Cara Menggunakan Storytelling di Rumah untuk Dukung Imajinasi Anak

Storytelling sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia selama ribuan tahun untuk berkomunikasi dan memahami dunia. Bagi anak, cerita bukan sekadar hiburan, tetapi juga fondasi penting yang membentuk cara berpikir, imajinasi, serta perkembangan emosionalnya.
Menariknya, storytelling tidak harus dilakukan dengan cara rumit atau menggunakan alat khusus. Aktivitas sederhana di rumah justru bisa menjadi ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan ide dan imajinasinya. Berikut beberapa cara menggunakan storytelling di rumah untuk mendukung perkembangan imajinasi anak.
1. Bercerita bersama dari pengalaman sehari-hari

Mengajak anak menceritakan kembali pengalaman sehari-hari merupakan cara paling mudah untuk memulai storytelling. Orangtua bisa memanfaatkan foto di ponsel untuk membantu anak mengingat kegiatan akhir pekan atau momen seru bersama keluarga. Cara ini melatih anak menyusun alur cerita berdasarkan urutan kejadian.
Saat anak bercerita, biarkan mereka memimpin cerita dengan sudut pandangnya sendiri. Pie Corbett, seorang ahli ilmu Pendidikan, dikutip dari BBC, menekankan bahwa, jika orangtua ingin anak berprestasi di sekolah, bacakan cerita, bernyanyilah bersama, dan ceritakan kisah-kisah kepada mereka. Dukungan ini membuat anak merasa aman dan bebas berekspresikan imajinasinya.
2. Membuat cerita bergantian untuk melatih kreativitas

Menyusun cerita secara bergantian bisa jadi permainan simpel namun menyenangkan bersama anak. Setiap orang menyumbang satu kalimat hingga cerita berkembang menjadi dunia imajinatif yang unik. Menurut Kirsty Cunnington, seorang guru kelas di Departemen Pendidikan, dikutip dari BBC, aktivitas ini melatih kreativitas sekaligus kemampuan berpikir abstrak anak.
Selain menyenangkan, metode ini juga mengajarkan anak bahwa tidak ada ide yang salah. Setiap kalimat yang mereka ucapkan patut dihargai, meskipun terdengar lucu atau tidak masuk akal. Dukungan semacam ini penting agar anak berani berimajinasi tanpa rasa takut dinilai.
3. Menggambar cerita untuk mengasah imajinasi dan logika

Anak tidak perlu menunggu bisa menulis untuk mulai bercerita. Melalui teknik story-mapping, anak dapat menggambar rangkaian adegan untuk menyampaikan cerita versinya sendiri. Aktivitas ini membantu anak memahami struktur cerita sekaligus menuangkan ide secara visual.
Pie Corbett menjelaskan teknik ini bentuk awal dari kegiatan menulis. Saat anak menggambar, orangtua bisa mengajukan pertanyaan tentang tokoh dan perasaannya agar anak berpikir lebih dalam. Dengan begitu, imajinasi anak berkembang seiring kemampuannya memahami sebab-akibat dalam cerita.
4. Menggunakan mainan sebagai media storytelling

Mainan favorit anak juga bisa menjadi media storytelling yang efektif. Susun mainan di lantai, lalu ajak anak membuat cerita dengan tokoh-tokoh tersebut sebagai karakter utama. Cara ini membantu anak melihat alur cerita secara konkret dan lebih mudah dipahami.
“Cerita memainkan peran sentral dalam mengembangkan literasi emosional anak, seperti membangun ketahanan diri, empati, dan rasa kasih sayang,” jelas Kirsty.
Menurut Kirsty Cunnington, storytelling memiliki peran besar dalam perkembangan emosi anak. Melalui cerita berbasis permainan, anak belajar memahami perasaan tokoh sekaligus mengenali emosinya sendiri.
Storytelling di rumah bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi investasi penting bagi perkembangan anak. Dengan membiasakan anak bercerita, orangtua turut menumbuhkan imajinasi, empati, dan kepercayaan diri sejak dini.


















