ilustrasi child grooming (pexels.com/alex)
Child grooming sering kali dilakukan dengan cara yang sangat halus sehingga tidak langsung terlihat sebagai ancaman. Pelaku biasanya memulai pendekatan melalui percakapan ringan, pujian, atau perhatian berlebih yang membuat anak merasa dihargai dan dipahami. Seiring waktu, hubungan tersebut dibangun semakin personal, bahkan disertai pemberian hadiah atau janji tertentu, baik secara langsung maupun melalui media sosial, misalnya online game. Karena dikemas sebagai bentuk kepedulian, banyak orangtua tidak menyadari bahwa anaknya sedang menjadi target manipulasi.
"...kemudian yang sering kali muncul adalah media. Kadang berpikir, ya sudah anak hanya main game atau chat dengan teman-temannya. Padahal media sosial ini sekarang jadi dua mata pisau yang bahaya, media sosial jadi suatu media yang sangat luas dan anak-anak/remaja masih belum bisa punya batasan. Orangtua sering kegocek, anak hanya main game, jadi sering luput," jelas Faza Maulida, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis kepada IDN Times secara daring pada Minggu (11/1/2025).
Di era digital, modus child grooming semakin beragam dan sulit dikenali. Pelaku bisa menyamar sebagai teman sebaya, figur panutan, atau orang yang memiliki minat sama dengan anak. Mereka perlahan mendorong anak untuk menyimpan rahasia, membatasi komunikasi dengan orangtua, hingga menurunkan kewaspadaan terhadap batasan pribadi. Inilah yang membuat orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan kecil dalam interaksi anak, terutama saat aktivitas daring mulai mendominasi keseharian mereka.
Selain itu, Faza juga menyebutkan, terkadang anak-anak di usia menuju remaja sering kali dianggap sudah sangat mandiri dan tak perlu terlalu banyak pengawasan dari orangtua. Padahal, mereka juga masih sangat berpotensial untuk terkenal child grooming.
"Usia remaja ini rentan banget, ada prefrontal cortex yang isinya tentang pengambilan keputusan, berpikir kritis, gimana dia memunculkan perilaku. Kadang ini disalahpahami sama orangtua, kalau anak udah remaja tuh dianggap udah bisa mikir dan mandiri. Padahal, belum sepenuhnya sehingga potensial banget kena grooming tadi. Grooming ini awalnya gak langsung seksual, tapi biasanya emosional dulu," lanjutnya.