Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/rdne)
ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/rdne)

Gaya pengasuhan anak terus berubah seiring pergantian generasi. Setelah milenial lekat dengan gentle parenting, orangtua Gen Z mulai menunjukkan pendekatan berbeda. Mereka tak lagi terpaku pada satu pola asuh, melainkan memilih cara mengasuh anak yang lebih fleksibel dan realistis.

Sejumlah riset menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam pola asuh Gen Z. Alih-alih meninggalkan gentle parenting sepenuhnya, mereka mengombinasikannya dengan pendekatan lain. Dari sinilah pola asuh hybrid muncul sebagai tren baru. Berikut penjelasannya!

1. Gen Z tidak lagi terikat satu gaya pengasuhan

ilustrasi anak dan ayah (pexels.com/rdne)

Berbeda dengan generasi sebelumnya, orangtua Gen Z cenderung menolak anggapan bahwa hanya ada satu cara terbaik dalam mengasuh anak. Mereka menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Menurut Gen Z, gaya pengasuhan perlu disesuaikan dengan kondisi, bukan mengikuti satu metode secara kaku.

Dilansir Parents, Casey Miller, CEO Kiddie Academy, menjelaskan bahwa mayoritas orangtua sepakat bahwa tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua anak dalam pengasuhan. Selebihnya memilih menggabungkan beberapa gaya parenting sekaligus. Fleksibilitas ini menjadi ciri utama cara mengasuh anak ala Gen Z.

2. Gaya hybrid dinilai lebih relevan dengan dunia nyata

ilustrasi ayah dan anak bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Banyak orangtua Gen Z menilai gentle parenting tidak selalu efektif dalam semua situasi pengasuhan. Anak juga perlu memahami konsekuensi nyata dari tindakan yang mereka lakukan sejak dini. Karena itu, pendekatan sebab-akibat mulai banyak diterapkan dalam pola asuh sehari-hari.

Dalam praktiknya, gaya parenting hybrid memadukan empati dengan batasan yang jelas. Anak tetap divalidasi emosinya, tetapi aturan tetap ditegakkan. Pendekatan ini dinilai membantu anak belajar tanggung jawab dan kemandirian.

“Orangtua muda percaya gaya pengasuhan sebaiknya dipadukan dan digunakan sesuai situasi,” kata Miller.

3. Fokus pada kebutuhan anak, bukan label parenting

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)

Alih-alih mengejar label seperti gentle parenting, permissive parenting, atau authoritative parenting, orangtua Gen Z lebih fokus pada kebutuhan anak. Keberhasilan pengasuhan dinilai dari perkembangan anak, bukan dari kesesuaian dengan tren. Pendekatan ini membuat proses mengasuh anak terasa lebih relevan dan personal.

Cara pandang ini juga membantu mengurangi tekanan untuk menjadi orangtua yang sempurna. Gen Z cenderung menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar bersama anak. Hubungan orangtua dan anak pun menjadi lebih sehat dan autentik.

“Daripada mengejar label, orangtua sebaiknya fokus pada perilaku apa yang ideal di rumah tangga mereka,” jelas Cynthia Vejar, PhD, LPC, direktur program dan profesor madya Konseling Kesehatan Mental Klinis di Lebanon Valley College, dikutip dari Parents.

4. Gentle parenting dinilai melelahkan secara emosional

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/rdne)

Meski populer, gentle parenting dianggap menuntut kerja emosional yang besar dari orangtua. Menurut Lexi Berard, MA, AMFT, psikoterapis, dikutip dari Parents, dibutuhkan kemampuan regulasi emosi dan kesabaran tinggi dalam setiap situasi. Tidak semua orangtua mampu menjalankannya tanpa kelelahan mental.

Beberapa studi bahkan menunjukkan lebih dari sepertiga orangtua yang menerapkan gentle parenting mengalami burnout. Kondisi ini mendorong Gen Z mencari gaya pengasuhan yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Mereka ingin tetap empatik tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Gentle parenting itu sangat sulit dan sering membuat orangtua frustrasi,” kata Lexi Berard.

5. Hybrid parenting dianggap lebih seimbang dan manusiawi

ilustrasi grocery shopping bareng anak (pexels.com/greta-hoffman)

Pola asuh hybrid memungkinkan orangtua bersikap tegas sekaligus hangat dalam mendidik anak. Anak diajarkan memahami emosi, tetapi juga belajar menghormati batasan dan aturan. Kombinasi ini menciptakan struktur yang jelas tanpa menghilangkan rasa aman.

Bagi orangtua, gaya pengasuhan hybrid dinilai lebih realistis untuk dijalani dalam jangka panjang. Mereka tidak dituntut selalu tenang atau sempurna di setiap kondisi. Pengasuhan pun menjadi proses yang lebih manusiawi bagi orangtua dan anak.

“Ini lebih berkelanjutan dan memberi kejelasan bagi anak, sekaligus memungkinkan orangtua tetap menjadi manusia,” ujar Emily Guarnotta, PsyD, psikolog klinis berlisensi dan spesialis kesehatan mental perinatal, dikutip dari Parents.

Pergeseran pola asuh orangtua Gen Z menandai bahwa parenting tak lagi soal mengikuti satu pakem ideal. Lewat pendekatan hybrid yang lebih fleksibel dan realistis, Gen Z berupaya membesarkan anak yang tangguh tanpa mengorbankan kesehatan mental orangtua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team