ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/HiveBoxx)
Ritual tidak harus besar atau terencana untuk membekas dalam. Pelukan sebelum berangkat ke sekolah yang selalu ada setiap pagi, cara orangtua selalu mengucapkan selamat tidur dengan kata yang sama, atau kebiasaan kecil yang hanya ada di antara anak dan orangtuanya adalah hal-hal yang membangun rasa aman secara diam-diam. Anak tidak selalu bisa mengartikulasikan kenapa ritual itu penting, tapi tubuh dan emosinya merespons ketika ritual itu ada dan ketika tiba-tiba tidak ada. Konsistensi dari hal kecil inilah yang membentuk fondasi rasa percaya.
Ketika ritual itu tiba-tiba berhenti karena orangtua sibuk atau lupa, anak merasakannya meski tidak selalu mengungkapkannya. Bukan karena anak dramatis, tapi karena rutinitas kecil itu sudah menjadi bagian dari sistem rasa aman yang mereka bangun. Orang dewasa yang tumbuh dengan ritual kecil seperti ini sering kali menggambarkannya sebagai salah satu hal terbaik dari masa kecil mereka, meski tidak ada yang mahal atau luar biasa dari ritual itu sendiri.
Memori anak tidak menyimpan total pengeluaran orangtua untuk pendidikannya atau berapa banyak les yang pernah diikutinya. Malahan hal kecil yang disepelekan tetapi diingat anak seumur hidup, seperti perasaan, adalah hal yang ia ingat. Perasaan paling kuat justru sering datang dari momen yang tidak ada di dalam agenda apa pun. Itulah kenapa pengasuhan yang paling berpengaruh sering kali tidak terlihat seperti pengasuhan sama sekali.