6 Hal yang Diam-Diam Bikin Orangtua Kecewa pada Anak

Orangtua bisa kecewa jika anak tidak jujur, sekecil apa pun kebohongan sang anak.
Mengabaikan komunikasi dan tidak menghargai pengorbanan orangtua bisa membuat mereka sedih.
Sikap kasar atau membandingkan orangtua dengan orang lain menimbulkan luka emosional.
Setiap orangtua tentu menaruh harapan pada anak. Ini tidak melulu perihal prestasi akademik atau karier mentereng. Akan tetapi, ini lebih ke sikap, tanggung jawab, dan cara menjalani hidup.
Sayangnya, ada beberapa hal yang tanpa disadari justru sering bikin orangtua merasa kecewa. Bukan karena mereka tidak sayang, tapi karena ekspektasi yang pelan-pelan runtuh. Menariknya, banyak anak yang merasa tidak melakukan kesalahan besar, tetapi dari sudut pandang orangtua sikap-sikap kecil ini cukup menyakitkan. Agar kamu tidak menyakiti orangtua tanpa sengaja, yuk, kita lihat hal-hal apa saja yang membuat orangtua kecewa pada anak!
1. Kurang jujur, sekecil apa pun alasan anak

Bohong "kecil-kecilan" sering dianggap hal sepele, apalagi kalau tujuannya agar tidak dimarahi orangtua. Padahal, bagi orangtua, kejujuran itu fondasi utama kepercayaan. Sekali orangtua tahu sang anak menyembunyikan kebenaran, mereka akan mulai bertanya-tanya apakah anak masih bisa dipercaya? Yang bikin kecewa bukan hanya kebohongannya, tapi fakta bahwa anak merasa lebih aman berbohong daripada jujur pada orangtua sendiri.
2. Tidak menghargai pengorbanan orangtua

Banyak orangtua tidak menceritakan lelah, stres, atau pengorbanan mereka. Namun, bukan berarti mereka tidak mengalami semua itu. Saat anak bersikap cuek, tidak perhatian, boros, atau mengeluh terus tanpa rasa syukur, di situlah rasa kecewa muncul. Ini bukan soal minta dibalas budi, melainkan ingin dihargai. Ucapan sederhana seperti, “Terima kasih, Pak/Bu,” atau sikap bertanggung jawab sering kali sudah cukup.
3. Sulit dinasehati dan selalu merasa paling benar

Seiring bertambahnya usia, anak akan belajar mandiri dan punya pendapat sendiri. Itu wajar. Namun, ketika setiap nasihat dianggap sebagai serangan dan orangtua selalu diposisikan sebagai pihak yang ketinggalan zaman, rasa kecewa bisa muncul. Orangtua bisa menerima perbedaan pendapat, tapi akan sangat sedih jika anak sama sekali menutup telinga dan hati.
4. Mengabaikan komunikasi dengan orangtua

Sesibuk apa pun, orangtua tetap ingin tahu kabar anak. Sekadar chat singkat, telepon sebentar, atau bertanya balik, “Ayah ibu gimana?” bisa berarti besar bagi mereka. Saat anak tiba-tiba menghilang, jarang memberi kabar, atau hanya muncul saat butuh sesuatu, ini akan membuat mereka sering khawatir dan kadang berubah jadi kekecewaan karena merasa diabaikan. Bagaimanapun, orangtua ingin dianggap penting oleh anak-anaknya. Jadi, tetap jaga komunikasi dengan mereka, sesibuk apa pun kamu.
5. Membandingkan orangtua dengan orang lain

Ucapan seperti, “Itu si A orangtuanya kaya dan bisa kasih ini itu," atau, “Orangtua teman-temanku kok bisa, ya, pada pengertian dan gak terlalu protektif?” memang terdengar sepele, tapi bisa berdampak besar. Orangtua bisa merasa kecil hati, gagal, tidak cukup baik, dan tidak dihargai. Setiap orangtua punya keterbatasan dan alasan masing-masing dalam membuat aturan. Dibandingkan justru membuat jarak emosional makin lebar. Jadi, cobalah menjadi anak yang pengertian dan jangan membandingkan mereka dengan orang lain.
6. Bersikap kasar atau tidak sopan

Nada bicara, pilihan kata, dan ekspresi sangat memengaruhi perasaan orangtua. Bentakan, jawaban ketus, atau sikap meremehkan bisa melukai perasaan orangtua lebih dalam dari yang dibayangkan, apalagi jika dilakukan berulang kali. Mungkin bagi anak itu hanyalah luapan emosi sesaat, tapi bagi orangtua itu bisa jadi luka yang diingat lama.
Pada akhirnya, rasa kecewa orangtua sering kali bukan tentang pencapaian besar, tapi hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali. Sikap, komunikasi, dan rasa hormat jauh lebih penting daripada materi yang kamu berikan. Tidak ada orangtua yang sempurna, begitu juga anak. Namun, selama masih mau saling mendengar dan belajar memahami, hubungan itu selalu bisa diperbaiki.