Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bayi tidur (Pixabay.com/tung256)
Bayi tidur (Pixabay.com/tung256)

Melatih bayi tidur memang terdengar sederhana, tetapi praktiknya sering membuat orangtua kewalahan. Niat ingin menenangkan si kecil justru bisa berubah menjadi kebiasaan yang mengganggu kualitas tidurnya. Tanpa disadari, beberapa pola ini justru membuat sleep training berjalan lebih lama dan melelahkan.

Agar prosesnya lebih efektif, penting bagi orangtua mengenali kesalahan yang sebaiknya dihindari sejak awal. Berikut hal yang perlu diperhatikan agar sleep training bayi berjalan lebih lancar dan sesuai tahap perkembangannya.

1. Selalu menyusui atau mengayun bayi sampai tertidur

ilustrasi anak balita perhatian dengan adik bayi (pexels.com/kampus)

Pada awal kehidupan bayi, menyusui atau mengayun hingga tertidur adalah hal yang wajar. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi masalah ketika bayi mulai bergantung pada bantuan eksternal untuk bisa tidur. Akibatnya, setiap kali terbangun di malam hari, bayi akan membutuhkan cara yang sama untuk tertidur kembali.

Menurut Ari Brown, M.D., dokter bersertifikasi dan anggota AAP, dikutip dari Parents, di usia awal, bayi belum mampu menenangkan diri dan belum membentuk kebiasaan buruk, tetapi sekitar usia 4 bulan sistem sarafnya mulai matang dan rutinitas tidur terbentuk. Jika kebiasaan menyusui atau mengayun terus berlanjut, bayi bisa kesulitan tidur secara mandiri.

“Satu studi yang baru saya tinjau menemukan bahwa ketika orangtua baru belajar tentang cara bayi tidur, bayi mereka cenderung menjadi tidur lebih baik pada usia 3 dan 6 bulan,” jelas Jodi Mindell, psikolog di Children’s Hospital of Philadelphia, dikutip dari NPR.

2. Menggendong bayi setiap kali ia menangis

ilustrasi bayi menangis (pexels.com/sarahchai)

Naluri orangtua tentu ingin segera menenangkan bayi yang menangis, terutama di malam hari. Namun, seiring bertambahnya usia, bayi perlu diberi kesempatan untuk belajar menenangkan dirinya sendiri. Jika setiap tangisan selalu direspons dengan digendong, bayi bisa membentuk asosiasi bahwa menangis adalah cara untuk mendapatkan perhatian.

Dikutip dari Parents, Heather Wittenberg, Psy.D., seorang psikolog anak, menjelaskan bahwa bayi mampu mengingat pola ini. Bayi usia 9 bulan akan mengingat bahwa semalam ia menangis, lalu Mama membiarkannya bermain sampai tertidur. Karena itu, penting membedakan antara tangisan karena kebutuhan dan tangisan sebagai bagian dari proses belajar tidur.

“Tangisan merupakan bagian dari proses bayi belajar menenangkan dirinya sendiri dan bukan tanda bahwa orangtua mengabaikannya,” kata Dr. Elizabeth Lombardo, Ph.D., psikolog di Lake Forest, Illinois, dikutip dari laman yang sama.

3. Terlalu lama mempertahankan jadwal menyusu tengah malam

Bayi tidur (Pixabay.com/tung256)

Bayi yang terbiasa menyusu di tengah malam bisa terus terbangun meski sebenarnya sudah tidak membutuhkannya secara nutrisi. Kebiasaan ini membuat bayi mengaitkan terbangun di malam hari dengan aktivitas makan. Akibatnya, tidur malam menjadi terfragmentasi dan tidak optimal.

Menurut Ari Brown, M.D., kebiasaan ini bisa memperpanjang masalah tidur. Ketika orangtua menuruti permintaan menyusu tengah malam, hal itu justru mempertahankan pola tidur yang terganggu. Selain itu, asupan kalori malam hari juga dapat mengurangi nafsu makan bayi di siang hari.

4. Membiarkan bayi terbiasa tidur di perjalanan

ilustrasi bayi tidur di dalam stroller (pexels.com/yankrukov)

Tidur di stroller atau car seat memang praktis saat orangtua beraktivitas. Namun, bayi yang terbiasa tertidur sambil bergerak bisa kesulitan tidur di tempat tidur utamanya. Hal ini membuat jadwal tidur menjadi tidak konsisten dan menyulitkan proses sleep training di rumah.

Elizabeth Lombardo juga menekankan pentingnya pola yang jelas bagi bayi. Orangtua perlu membantu bayi mengenali perbedaan antara waktu istirahat dan waktu aktif. Dengan rutinitas yang konsisten, bayi akan lebih mudah memahami kapan waktunya tidur.

5. Membiarkan bayi tidur terlalu larut

ilustrasi ibu, bayi serta anak balita bermain (pexels.com/rdne)

Banyak orangtua mengira bayi yang lebih lama terjaga akan tidur lebih nyenyak. Padahal, bayi yang terlalu lelah justru cenderung sulit tidur dan lebih sering terbangun. Kondisi ini membuat kualitas tidur bayi menurun.

Menurut Jodi Mindell, efeknya bisa berlawanan dari yang diharapkan. Ketika bayi terlalu lama terjaga, mereka menjadi terlalu lelah, sehingga justru lebih lama tertidur dan lebih sering terbangun. Karena itu, jam tidur yang lebih awal dan konsisten justru membantu bayi tidur lebih nyenyak.

Itulah beberapa hal yang perlu dihindari saat sleep training bayi. Bukan soal membiarkan bayi menangis, sleep training bertujuan membantu mereka belajar tidur sesuai tahap perkembangannya agar waktu istirahat terasa lebih tenang bagi bayi dan orangtua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team