Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kebiasaan Main HP Orangtua Ternyata Pengaruhi Perkembangan Bahasa Anak
ilustrasi bonding time antara anggota keluarga (pexels.com/timamiroshnichenko)

Di era serba digital seperti sekarang, ponsel sudah jadi teman setia hampir setiap orang, termasuk orangtua. Mulai dari kerja, hiburan, sampai scrolling media sosial, semua bisa dilakukan dalam satu genggaman. Masalahnya, kebiasaan ini sering terbawa ke momen bersama anak tanpa disadari.

Padahal, masa kecil adalah fase penting untuk perkembangan bahasa dan cara anak berkomunikasi. Interaksi sederhana seperti mengobrol, merespons cerita, atau sekadar kontak mata punya peran besar dalam membangun kemampuan bahasa anak. Nah, apakah kebiasaan main HP orangtua bisa mempengaruhi perkembangan Bahasa anak? Yuk, cari tahu penjelasannya lewat artikel berikut!

1. Interaksi harian jadi tidak maksimal

ilustrasi anak bermain tablet di samping ayahnya (pexels.com/rdne)

Saat orangtua sibuk dengan ponsel, percakapan dengan anak biasanya jadi lebih singkat dan tidak mendalam. Anak yang sedang mencoba bercerita atau bertanya bisa kehilangan momentum karena tidak mendapatkan respons penuh. Lama-kelamaan, hal ini bisa membuat anak lebih pasif dalam berkomunikasi.

Mengutip dari Today’s Parent, Tracy Dennis-Tiwary, profesor psikologi di Hunter College dan City University of New York, meneliti efek ini. Ia menemukan bahwa anak dari orangtua yang lebih sering menggunakan ponsel lebih sulit untuk kembali terhubung dengan orangtua mereka dan menunjukkan lebih sedikit rasa bahagia serta rasa ingin tahu.

Bahkan dalam situasi sederhana seperti makan bersama atau bermain, kehadiran ponsel bisa mengurangi kualitas interaksi. Anak tidak hanya butuh kehadiran fisik, tetapi juga perhatian penuh dari orangtua. Tanpa itu, kesempatan belajar bahasa dari percakapan sehari-hari jadi berkurang.

2. Waktu layar orangtua berkaitan dengan kemampuan bahasa anak

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan orangtua menggunakan layar dengan perkembangan bahasa anak. Semakin sering orangtua terdistraksi ponsel, semakin sedikit percakapan aktif yang terjadi di rumah. Kondisi ini bisa berdampak pada kosakata dan kemampuan tata bahasa anak.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa pola penggunaan layar pada anak mirip dengan pola penggunaan layar pada orangtua mereka. Peneliti bahasa anak menekankan pentingnya interaksi sehari-hari dengan orang dewasa dalam perkembangan bahasa awal, di mana anak-anak terlibat secara aktif," ujar ujar Dr. Tiia Tulviste, University of Tartu, penulis utama studi, dikutip dari Frontiers..

Pada saat yang sama, kita tahu bahwa semua anggota keluarga cenderung menggunakan perangkat layar. Karena waktu itu terbatas, kita perlu memahami bagaimana persaingan yang sangat kuat antara interaksi tatap muka dan waktu layar memengaruhi perkembangan bahasa anak,” tambahnya.

Penelitian juga menemukan bahwa anak yang sering berada di lingkungan dengan distraksi ponsel cenderung lebih sedikit berbicara dan berinteraksi. Bahkan, saat orangtua terdistraksi, anak bisa gagal menyerap kosakata baru yang sedang diajarkan. Ini menunjukkan bahwa gangguan kecil bisa punya dampak yang cukup besar.

3. Dampaknya bisa membentuk pola emosi dan perilaku anak

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Kebiasaan orangtua yang sering fokus ke ponsel bisa memengaruhi cara anak memahami hubungan sosial. Anak bisa merasa kurang diperhatikan dan akhirnya menjadi lebih rewel atau mencari perhatian dengan cara lain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membentuk pola komunikasi yang kurang sehat.

“Jika kita terus mengganggu waktu interaksi satu lawan satu dengan anak karena ponsel, maka mereka akan belajar untuk terputus secara emosional dengan cara yang sama,” ujar Tracy Dennis-Tiwary.

Selain itu, penggunaan ponsel yang berlebihan juga bisa menciptakan siklus dalam keluarga: anak rewel, orangtua stres, lalu kembali lagi ke ponsel sebagai pelarian. Mengutip dari Today's Parent, Brandon McDaniel, peneliti perkembangan anak dari Illinois State University, bahkan menyebut bahwa teknologi kini sudah ikut campur tangan dalam hubungan keluarga dan memengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan.

4. Cara sederhana mengurangi dampaknya di rumah

ilustrasi ibu bermain dengan anak (pexels.com/martproduction)

Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikurangi dengan langkah kecil tapi konsisten. Misalnya dengan membuat waktu khusus tanpa ponsel saat bersama anak, seperti saat makan atau sebelum tidur. Momen ini bisa jadi ruang aman untuk ngobrol tanpa gangguan digital.

Orangtua juga bisa menjelaskan ketika harus menggunakan ponsel agar anak tetap memahami situasi. Hal sederhana seperti mengatakan “Ayah/Ibu lagi balas pesan kerja sebentar” bisa membantu anak merasa tetap dihargai. Dengan cara ini, anak tetap mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan untuk berkembang.

Pada akhirnya, kebiasaan kecil seperti penggunaan ponsel di depan anak bisa berdampak besar pada cara mereka belajar berkomunikasi dan memahami dunia. Dengan sedikit perubahan dalam keseharian, orangtua bisa menciptakan ruang interaksi yang lebih hangat dan bermakna bagi tumbuh kembang anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team