Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Kebiasaan Orangtua yang Diam-diam Bikin Anak Stres

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Menjadi orangtua kerap dilandasi niat baik agar anak tumbuh optimal. Namun tanpa disadari, kebiasaan yang terlihat sepele justru bisa menjadi sumber tekanan bagi anak, terlebih karena mereka sering memendam perasaan sendiri.

Stres pada anak tidak selalu tampak jelas. Ia bisa muncul lewat perubahan sikap, emosi yang tidak stabil, atau rasa takut berlebihan. Yuk, kenali kebiasaan orangtua yang diam-diam bikin anak tertekan agar lingkungan tumbuhnya tetap aman dan suportif.

1. Terlalu sering membandingkan anak dengan orang lain

ilustrasi anak tidak mau mendengar (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi anak tidak mau mendengar (pexels.com/gabbyk)

Membandingkan anak dengan teman, saudara, atau anak lain sering dianggap sebagai bentuk motivasi. Padahal, perbandingan justru membuat anak merasa tidak cukup baik dan selalu kalah. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya dihargai saat lebih unggul dari orang lain.

Setiap anak memiliki kecepatan dan kelebihan yang berbeda. Saat fokus orangtua hanya pada perbandingan, anak kehilangan kesempatan untuk mengenali potensinya sendiri. Dukungan yang tulus tanpa perbandingan membantu anak membangun rasa percaya diri yang sehat.

2. Jadwal anak terlalu padat

ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi)
ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi)

Sekolah, les, kursus, hingga berbagai kegiatan tambahan sering dianggap sebagai investasi masa depan. Namun jadwal yang terlalu penuh bisa membuat anak kelelahan secara fisik dan mental. Anak pun kehilangan waktu untuk beristirahat dan menikmati masa kecilnya.

“Jika kamu melihat adanya perubahan pada pola tidur, kebiasaan makan, suasana hati, atau perilaku anak, itu bisa menjadi tanda bahwa jadwal mereka terlalu penuh,” jelas Kate Eshleman, PsyD, Psikolog Anak, Cleveland Clinic Children’s, dikutip dari Cleveland Clinic.

Waktu luang penting bagi anak untuk bermain, berimajinasi, dan mengekspresikan diri. Dari situlah kreativitas dan keseimbangan emosional terbentuk. Anak akan berkembang lebih optimal saat memiliki ritme hidup yang seimbang.

3. Bereaksi berlebihan saat anak berbuat salah

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Memarahi anak secara keras karena kesalahan kecil bisa membuat mereka takut mencoba hal baru. Anak jadi lebih fokus menghindari hukuman daripada belajar dari kesalahan. Dalam jangka panjang, ini bisa menumbuhkan rasa cemas berlebihan.

Kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar anak. Pendekatan yang tenang dan suportif membantu anak memahami konsekuensi tanpa merasa terancam. Anak pun belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan rasa aman.

4. Membicarakan masalah orang dewasa di depan anak

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Anak sering kali menyerap suasana sekitar meski tidak sepenuhnya memahami situasinya. Percakapan soal keuangan, konflik, atau tekanan pekerjaan bisa membuat anak merasa tidak aman. Mereka mungkin menyimpan kecemasan tanpa tahu cara mengungkapkannya.

“Anak-anak itu seperti spons, menyerap semua yang mereka dengar,” kata Brianne Billups Hughes, seorang Psikoterapis, dikutip dari Huff Post.

Anak membutuhkan rasa aman secara emosional. Orangtua sebaiknya menyaring informasi sesuai usia anak. Dengan begitu, anak tetap merasa terlindungi dan percaya bahwa orangtuanya mampu mengendalikan keadaan.

5. Mengabaikan atau meremehkan perasaan anak

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Ucapan seperti “jangan lebay” atau “itu bukan masalah besar” sering terlontar tanpa niat buruk. Namun bagi anak, perasaannya tetap nyata dan penting. Saat emosinya diabaikan, anak bisa merasa tidak didengar.

Mendengarkan anak dengan empati membantu mereka mengenali dan mengelola emosinya. Anak belajar bahwa perasaan sedih, marah, atau takut adalah hal yang wajar. Ini menjadi dasar penting bagi kecerdasan emosional di masa depan.

6. Mengontrol semua keputusan anak

ilustrasi mama dan anak melakukan percakapan (pexels.com/rdne)
ilustrasi mama dan anak melakukan percakapan (pexels.com/rdne)

Orangtua memang perlu membimbing, tapi mengatur setiap detail hidup anak bisa menekan kemandiriannya. Anak jadi ragu mengambil keputusan karena takut salah. Akibatnya, kepercayaan diri anak bisa menurun.

Memberi anak ruang untuk memilih mengajarkan tanggung jawab sejak dini. Kesalahan kecil justru menjadi pengalaman berharga. Dengan bimbingan yang tepat, anak belajar berpikir dan mengambil keputusan sendiri.

7. Menunjukkan stres dan emosi negatif yang tidak terkelola

ilustrasi memarahi anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi memarahi anak (pexels.com/gabbyk)

Anak sangat peka terhadap perubahan emosi orangtua. Saat orangtua sering marah atau frustrasi, anak bisa merasa menjadi penyebabnya. Anak pun tumbuh dengan rasa waspada berlebihan.

“Sebenarnya penting bagi anak untuk melihat orang dewasa memproses emosi dengan cara yang sehat,” kata Brianne Billups Hughes.

Mengelola emosi adalah contoh penting bagi anak. Ketika orangtua menunjukkan cara menenangkan diri, anak belajar melakukan hal yang sama. Lingkungan emosional yang stabil membuat anak merasa aman dan nyaman

8. Menuntut anak selalu sempurna

ilustrasi memarahi anak (pexels.com/gabbyk)
ilustrasi memarahi anak (pexels.com/gabbyk)

Ekspektasi tinggi sering dianggap sebagai bentuk kepedulian. Namun tuntutan untuk selalu sempurna bisa menjadi beban berat bagi anak. Anak takut gagal karena merasa harus selalu memenuhi standar tertentu.

Fokus pada proses jauh lebih sehat daripada hasil semata. Mengapresiasi usaha anak membantu mereka menikmati proses belajar. Anak pun tumbuh dengan mental yang lebih kuat dan berani mencoba.

Pada akhirnya, pola asuh bukan soal kesempurnaan, melainkan kesadaran untuk belajar. Perubahan kecil dalam keseharian bisa membuat anak merasa lebih aman, didengar, dan dihargai.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

EJAE di Golden Globes 2026, Gaun Dior Bergaya Old Hollywood

14 Jan 2026, 08:47 WIBLife