Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠Kenapa Netizen Merasa Berhak Melihat Wajah Anak Figur Publik?
ilustrasi konten sosial media (pexels.com/RODNAE Productions)

Public figure membagikan kehidupan pribadinya di media sosial memang sudah jadi hal biasa. Mulai dari pekerjaan, pasangan, rumah, sampai momen bersama keluarga bisa muncul di timeline kita. Namun, tidak semua public figure memilih memperlihatkan wajah anak mereka kepada publik. Ada public figure yang sengaja menutup wajah anaknya dengan emoji atau stiker, namun ada juga yang bahkan tidak mengunggah foto anak mereka sama sekali. Keputusan ini kemudian sering memunculkan pertanyaan dari netizen tentang seperti apa wajah sang anak. 

Rasa penasaran itu kadang ada yang berhenti sebagai komentar biasa, tetapi ada juga yang berkembang menjadi tuntutan agar wajah anak diperlihatkan. Fenomena ini berkaitan dengan kedekatan semu yang terbentuk antara publik dan figur yang mereka ikuti. Media sosial membuat batas antara kehidupan publik dan pribadi terasa semakin tipis. Lalu, kenapa sebagian netizen merasa punya hak untuk melihat anak dari figur publik?

1. Merasa dekat karena terlalu sering melihat kehidupan figur publik

Ilustrasi scroll sosial media (pexels.com/Cottonbro Studio)

Ketika seseorang rutin mengikuti konten dari public figure, berbagai informasi tentang kehidupan mereka perlahan terasa familiar. Netizen mungkin tahu kebiasaan, pasangan, pekerjaan, sampai cerita dari keluarga public figure tersebut. Intensitas ketika melihat konten ini bisa membuat netizen merasa seperti ada hubungan yang lebih dekat dengan sosok public figure daripada kenyataannya.

Menurut seorang Psikoterapis, Nicholas Rose, “Jika orang memiliki akses terhadap bagian kehidupan seorang selebritas yang terasa pribadi, seperti dapur, anak-anak, taman, atau hobinya, mereka kemudian merasa lebih akrab dengan selebritas tersebut,” dikutip dari The Independent.

Rasa familiar itu bisa membuat netizen berpikir bahwa mereka juga berhak mengetahui bagian lain dari kehidupan public figure. Padahal, mengikuti seseorang bukan berarti otomatis mendapat akses ke seluruh kehidupan pribadinya. Apalagi, anak bukan figur yang memilih untuk hidup di depan publik.

2. Konten keluarga membuat batas privasi terasa lebih tipis

ilustrasi unggahan di media sosial (unplash.com/Thought Catalog)

Public figure yang sering membagikan cerita keluarga memang membuat audiens merasa ikut mengenal kehidupan mereka. Karena hal ini, biasanya batas privasi menjadi tipis antara public figure tersebut dengan publik.

Psikolog Raychelle Lohmann, Ph.D., dalam Psychology Today, menjelaskan ketika kita membagikan foto, cerita, dan berbagai hal tentang keluarga di internet, kita bisa saja tanpa sadar membagikan terlalu banyak informasi pribadi.

Public figure yang memilih membuka satu bagian kehidupan keluarga gak berarti seluruh bagian lainnya otomatis menjadi konsumsi publik. Ketika orangtua memilih menutup wajah anak, keputusan tersebut tetap merupakan batas privasi yang mereka tentukan sendiri.

3. Hal yang sengaja disembunyikan justru bikin makin penasaran

Ilustrasi penasaran suatu hal (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Ketika wajah anak public figure ditutup emoji atau tidak pernah ditampilkan, perhatian netizen justru semakin tertuju pada hal tersebut. Ada semacam rasa ingin tahu untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di balik informasi yang sengaja tidak diperlihatkan. Apalagi, di media sosial, pengguna terbiasa mendapatkan informasi secara cepat dan lengkap. Ketika ada satu bagian yang hilang, sebagian orang terdorong untuk mencari tahu sendiri. Dari sinilah rasa penasaran bisa berubah menjadi komentar seperti meminta orangtua menunjukkan wajah anaknya.

Menurut Elizabeth Bonawitz, psikolog kognitif, “Ada orang yang mudah merasa penasaran ketika menemukan sesuatu yang menciptakan celah informasi dan membuat mereka ingin mencari tahu jawabannya,” dikutip dari Harvard Graduate School of Education.

Hal ini bisa menjelaskan kenapa wajah yang ditutup justru menarik perhatian publik. Namun, rasa penasaran bukan berarti informasi tersebut harus diberikan. Ada perbedaan antara ingin tahu dan memiliki hak untuk tahu, apalagi ketika informasi yang dicari menyangkut anak orang lain.

Media sosial memang membuat kita merasa dekat dengan orang yang sering muncul di layar. Namun, kedekatan itu tetap memiliki batas, terutama ketika menyangkut anak yang tidak memilih menjadi public figure. Mengetahui kehidupan seseorang dari internet bukan berarti kita berhak mengetahui semuanya. Kalau orangtua memilih tidak memperlihatkan wajah anaknya, keputusan tersebut juga bagian dari privasi yang layak dihormati. Rasa penasaran boleh saja muncul, tetapi tidak semua rasa penasaran harus dipuaskan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article