5 Keterampilan Hidup yang Sering Diabaikan Padahal Dibutuhkan Anak

- Kemampuan dalam mengekspresikan emosinya secara sehat, seperti mendengarkan dan memahami perasaan anak
- Kemampuan mengungkapkan emosinya dengan kata-kata untuk memudahkan komunikasi dan pengenalan diri
- Kemampuan membuat pilihannya sendiri untuk belajar berpikir, bertanggung jawab, dan merasa dihargai
- Kemampuan untuk memberdayakan dirinya sendiri dengan menghadapi kehidupan secara mandiri dan bermakna
- Kemampuan untuk mengetahui dan menerima keterbatasannya dengan dukungan orangtua agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia
Banyak orangtua cenderung fokus pada hal-hal besar, seperti prestasi akademik anak. Padahal, tanpa disadari masih ada berbagai keterampilan hidup penting yang sering terlewat untuk diajarkan.
Keterampilan inilah yang menjadi bekal utama anak saat menghadapi dunia nyata. Anak tidak cukup hanya pintar secara teori, tetapi juga perlu kuat secara mental dan sosial. Oleh karena itu, sebelum terlambat, mari mulai ajarkan keterampilan hidup ini sejak dini agar anak tumbuh mandiri dan tangguh di masa depan.
1. Kemampuan dalam mengekspresikan emosinya secara sehat

Salah satu hal penting yang sering terlupakan untuk diajarkan orangtua, terutama kepada anak laki-laki, adalah cara membicarakan perasaan. Saat anak menunjukkan emosi yang kuat, orangtua kerap hanya menyuruh mereka untuk tenang. Ada juga yang justru membujuk anak agar melupakan perasaan tersebut. Padahal, cara ini membuat anak merasa emosinya tidak penting.
Yang seharusnya dilakukan adalah meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan anak selama beberapa menit. Setelah itu, ulangi apa yang orangtua tangkap dari cerita mereka agar anak merasa dipahami. Ketika anak sudah merasa didengarkan, baru gali perasaannya lebih dalam. Dengan pendekatan ini, anak dapat melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan belajar menemukan solusinya sendiri.
2. Kemampuan mengungkapkan emosinya dengan kata-kata

Kemampuan mengungkapkan emosi dengan kata-kata membantu anak menjelaskan perasaannya secara jelas tanpa harus melampiaskannya lewat perilaku negatif, seperti marah berlebihan atau menarik diri. Anak yang terbiasa menyampaikan perasaannya secara verbal akan lebih mudah dipahami oleh orangtua, guru, dan teman sebayanya. Hal ini membuat anak merasa lebih diterima dan tidak sendirian saat menghadapi emosi tertentu. Selain itu, anak juga belajar bahwa berbicara adalah cara yang aman untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan.
Keterampilan ini melatih anak mengenali berbagai jenis emosi yang muncul dalam dirinya. Dengan begitu, anak tidak mudah bingung atau frustrasi terhadap perasaannya sendiri. Anak pun memahami bahwa setiap emosi yang dia rasakan itu valid dan layak didengarkan. Sehingga, ketika anak tumbuh dewasa, kemampuan ini bisa membantunya membangun komunikasi yang sehat serta hubungan sosial yang positif.
3. Kemampuan membuat pilihannya sendiri

Anak-anak sering kali hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan tanpa diberi kesempatan untuk memilih. Hal ini dapat membuat mereka merasa tidak mampu mengambil keputusannya sendiri. Oleh karena itu, orangtua perlu mulai menciptakan ruang agar anak bisa belajar membuat pilihan. Dengan begitu, anak akan terbiasa berpikir dan bertanggung jawab atas keputusannya.
Sebagai contoh, biarkan anak menentukan menu makan malam yang mereka inginkan selama masih dalam batas wajar. Orangtua juga bisa membiarkan anak memilih pakaian sekolahnya sendiri meskipun pilihannya berbeda dari keinginan orangtua. Selain itu, beri anak pilihan kegiatan setelah sekolah, seperti pergi ke taman atau menonton film di rumah. Cara ini dapat membantu anak merasa dihargai, berdaya, dan lebih percaya diri.
4. Kemampuan untuk memberdayakan dirinya sendiri

Salah satu keterampilan hidup yang juga sering diabaikan adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan. Banyak orangtua, terutama yang memiliki anak kecil, lebih fokus melindungi anak dari berbagai hal. Perlindungan ini memang penting, tetapi tidak bisa dilakukan terus-menerus. Seiring anak tumbuh dan semakin mandiri, orangtua perlu mengubah peran dari sekadar melindungi menjadi memberdayakan.
Memberdayakan anak berarti mengajarkan mereka cara menghadapi kehilangan, kesedihan, kekecewaan, dan memaafkan. Anak juga perlu belajar menghadapi perasaan tidak nyaman yang pasti muncul dalam hidup. Ketika orangtua membantu anak memahami bahwa perasaan tidak nyaman, bahkan yang menyakitkan, adalah bagian dari proses bertumbuh, anak akan lebih kuat secara emosional. Dengan cara ini, orangtua sebenarnya sedang membekali anak untuk menjalani hidup dengan lebih utuh dan bermakna.
5. Kemampuan untuk mengetahui dan menerima keterbatasannya

Anak memiliki pengalaman hidup yang masih terbatas, sehingga cara pandang mereka terhadap berbagai hal juga belum luas. Mereka belum sepenuhnya memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana menyikapi berbagai situasi. Oleh karena itu, anak membutuhkan pendampingan dari orangtua untuk mengenal kehidupan secara bertahap. Bantuan ini penting agar anak dapat membentuk cara berpikir dan bersikap yang tepat sejak dini.
Dengan menerima keterbatasan anak, orangtua dapat hadir sesuai dengan kebutuhan mereka. Sikap ini membuat orangtua lebih sabar dalam membimbing dan memahami proses belajar anak. Dari sinilah anak bisa belajar menghadapi tantangan tanpa merasa tertekan. Dukungan yang tepat akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan bahagia.
Mengajarkan keterampilan hidup sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Nilai akademik memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks.
Dengan membekali anak keterampilan hidup, orangtua membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Karena, anak yang siap secara emosional, sosial, dan mental akan lebih mampu menjalani hidup dengan percaya diri dan seimbang.



















