Kita hidup di dunia yang penuh dengan perbandingan, mulai dari pencapaian akademik hingga popularitas di media sosial. Pola ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang dewasa yang terbiasa menilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan itu terbawa hingga menjadi orangtua.
Banyak orangtua percaya bahwa cara ini dapat memotivasi anak agar berkembang lebih baik. Padahal, membandingkan anak, baik dengan teman sebaya maupun dengan saudara kandung bisa meninggalkan luka emosional yang tidak selalu terlihat secara langsung, lho. Anak mungkin tidak membantah atau menangis, tetapi perasaan terluka itu tersimpan dan memengaruhi caranya memandang diri sendiri. Berikut beberapa luka emosional yang bisa dialami anak jika sering dibandingkan.
