Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret anak sering dibandingkan oleh orangtua
potret anak sering dibandingkan oleh orangtua (pexels.com/Mikhail Nilov)

Intinya sih...

  • Anak akan menyimpan emosi negatif terhadap orang terdekatnya

  • Menghambat keunikan dan jati dirinya

  • Sulit mengenali dan menghargai diri sendiri

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kita hidup di dunia yang penuh dengan perbandingan, mulai dari pencapaian akademik hingga popularitas di media sosial. Pola ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang dewasa yang terbiasa menilai diri berdasarkan pencapaian orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan itu terbawa hingga menjadi orangtua.

Banyak orangtua percaya bahwa cara ini dapat memotivasi anak agar berkembang lebih baik. Padahal, membandingkan anak, baik dengan teman sebaya maupun dengan saudara kandung bisa meninggalkan luka emosional yang tidak selalu terlihat secara langsung, lho. Anak mungkin tidak membantah atau menangis, tetapi perasaan terluka itu tersimpan dan memengaruhi caranya memandang diri sendiri. Berikut beberapa luka emosional yang bisa dialami anak jika sering dibandingkan.

1. Ia akan menyimpan emosi negatif terhadap orang terdekatnya

potret anak sering dibandingkan oleh orangtua (pexels.com/RDNE Stock project)

Anak yang sering dibandingkan bisa menyimpan perasaan tidak adil terhadap orangtua maupun lingkungannya. Ia bisa merasa bahwa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup. Ia merasa usahanya selalu kalah dibandingkan orang lain. Perasaan ini kerap tidak ia sampaikan secara terbuka dan justru dipendam dalam waktu yang lama.

Anak akan tumbuh dengan emosi negatif dalam dirinya. Emosi tersebut memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri dan orang lain. Dan ketika ia dewasa, emosi negatif itu bisa semakin menguat. Dan akhirnya bisa merusak kedekatan emosional dalam keluarga.

2. Menghambat keunikan dan jati dirinya

potret anak sering dibandingkan oleh orangtua (pexels.com/Mikhail Nilov)

Setiap anak lahir dengan kekuatan dan kelemahan yang berbeda-beda. Saat kamu membandingkan anak dengan anak lain, sebenarnya kamu tidak melihat gambaran anak secara utuh. Misalnya, ketika anak dianggap kurang karena pendiam dan dibandingkan dengan teman yang lebih ramah, kamu bisa saja mengabaikan kelebihan dari sifat pendiam tersebut. Padanal, anak yang pendiam sering kali lebih mampu fokus, berpikir matang, dan berhati-hati sebelum berbicara.

Selain itu, kamu juga cenderung sulit melihat kekurangan anak lain karena tidak hidup dan mengamati anak setiap hari. Yang terlihat biasanya hanya sisi terbaik anak dalam momen tertentu. Ketika kamu terlalu fokus pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan anak dibandingkan anak lain, kamu lupa melihat potensi yang dimilikinya. Padahal, tujuan pengasuhan bukan untuk mengubah anak menjadi orang lain, melainkan membantu anak berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

3. Sulit mengenali dan menghargai diri sendiri

potret anak sering dibandingkan oleh orangtua (pexels.com/Vika Glitter)

Ketika anak terus dinilai dengan membandingkannya pada orang lain, ia akan kesulitan melihat keunikan dan potensi dalam dirinya sendiri. Ia menjadi bingung mengenali siapa dirinya sebenarnya dan apa yang benar-benar ia sukai. Perlahan, anak mulai meragukan perasaannya sendiri karena merasa harus selalu menyesuaikan diri. Proses mengenal dirinya pun terasa semakin rumit dan membingungkan.

Akibatnya, identitas diri anak terbentuk bukan dari pemahaman personal, melainkan dari perbandingan sosial. Anak cenderung mengikuti standar dan ekspektasi orang lain daripada mendengarkan kebutuhan batinnya. Dalam jangka panjang, hal ini membuatnya mudah goyah saat mengambil keputusan. Anak pun bisa tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah dan kurang yakin pada pilihannya sendiri.

4. Takut gagal dan terlalu perfeksionis

Ilustrasi anak kecewa (Pexels.com/cottonbro studio)

Orangtua yang suka membandingkan anak akan membuat anak merasa bahwa kesalahan adalah hal yang memalukan dan harus dia hindari. Akibatnya, anak menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir hasilnya tidak sebaik orang lain. Anak mulai percaya bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pencapaian dan penilaian orang lain. Perlahan, rasa ingin tahu dan keberaniannya untuk bereksplorasi pun memudar.

Anak akhirnya menekan dirinya sendiri untuk selalu terlihat sempurna demi mendapatkan penerimaan. Tekanan ini membuat anak sulit menikmati proses belajar yang seharusnya alami. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu kecemasan dan stres sejak usia dini. Anak pun kehilangan ruang aman untuk belajar dari kesalahan secara sehat.

Mendidik anak bukan tentang menjadikannya lebih unggul dari orang lain, melainkan membantunya bertumbuh sesuai dengan potensi dirinya. Setiap anak memiliki kecepatan, minat, dan cara belajar yang berbeda. Oleh sebab itu, jangan pernah membandingkan mereka dengan anak yang lain. Ini dikarenakan berpotensi munculnya luka emosional yang bisa dialami anak jika sering dibandingkan. Saat orangtua berhenti membandingkan dan mulai mendengarkan, anak akan merasa lebih dihargai dan diterima. Dari rasa aman itu, anak dapat berkembang dengan lebih sehat, percaya diri, dan bahagia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team