Comscore Tracker

Perempuan yang Tangguh Itu adalah Kartiniku

#ParaPerempuanHebat Kartiniku bukan hanya ibu, tetapi juga perempuan itu.

Perempuan itu mungkin tidak terlihat lembut seperti sebelumnya. Ada yang berubah, sifatnya yang penyanyang tak tampak lagi. Apalagi sejak ia menikah kemudian berpisah. Padahal sejak dulu ia selalu jadi kebanggan ayah, belum ada ada anak-anak ayah yang sesabar dirinya. Sejak dulu pula ia selalu dipuji ibu, tidak ada anak ibu yang serajin dirinya.

Aku masih ingat saat itu, mungkin sekitar tahun 2000, saat aku masih belum sekolah mungkin jika aku mau harusnya aku sudah masuk TK. Aku berlari keluar rumah dengan gembira menyambut perempuan itu yang baru saja datang dari Jakarta. Ia turun dari bus yang sudah mengangkutnya lalu kemudian tersenyum melihatku yang datang ke arahnya. Dia memelukku dengan erat dan menunjukan satu dus peralatan sekolah. Dan saat itu aku belum mengerti mengapa ia tidak sekolah dan malah memilih untuk bekerja.

Perempuan itu rupanya tidak putus asa, di tahun 2002 ia kembali melanjutkan pendidikanya yang terputus di bangku kelas dua SMP dan sementara itu aku sudah duduk di bangku kelas dua SD. Pernah suatu waktu aku merengek pada ayah meminta uang jajan, tapi ayah tidak memiliki uang dan aku tidak mau mengerti. Untuk pertama kalinya aku melihat perempuan itu marah dan membuatku takut. Ia menyeretku keluar rumah dan menyiramku karena aku tidak henti-hentinya menangis. Aku mulai membecinya, dia tidak sehangat yang aku kira.

Dan hubunganku dengan perempuan itu terasa mulai renggang, tapi dia masih saja ingat hari ulang tahunku dan memeberikan coklat sebagai hadiah. Meski dia selalu meledekku manja dan pemalas, dia tetap mencucikan baju-baju kotorku.  Di tahun 2005 perempuan itu kembali berhenti sekolah saat duduk dibangku kelas dua SMA, ia menikah dengan pria yang aku kurang suka. Di pergi dari rumah besama suaminya sampai kemudian kembali pada kami keluarganya di tahun 2010. Dia sudah sangat berbeda dan entah mengapa aku bisa merasakan sakit yang sama dengannya.

Aku mulai mengerti betapa hebatnya perempuan itu, ketika ia putuskan pergi dan kembali bersekolah menamatkan pendidikannya setelah beberapa kali terputus meski hanya sampai paket C saja. Aku mulai paham mengapa ia banyak berubah, sudah cukup banyak yang ia korbankan demi kami adik-adiknya. Darinya aku belajar banyak hal agar tidak salah melangkah, darinya kau belajar bagaimana caranya untuk tegar dan bertahan. Darinya aku paham bahwa perempuan tidak cukup hanya sekedar diam saja, bahwa perempuan harus cerdas juga memiliki pemikiran sehingga tahu bagaimana caranya menjaga hubungan. Perempuan juga harus berpendidikan sehingga tahu bagaimana caranya mendidik anak-anaknya kelak.

Kini aku sadar, perempuan itu tidak pernah berubah sepenuhnya. Ia hanya mengubah kelembutan menjadi ketegaran, kasih sayangnya justru lebih nyata dengan sikapnya yang tegas. Dia tidak pernah berhenti mencintaiku, dia hanya mengubah caranya dalam mencintai. Aku ingin dunia tahu bahwa perempuan hebat itu bukan hanya ibuku, tetapi dia adalah kakak tertuaku.

Kakak perempuanku yang tangguh kau adalah kartiniku.

Melia Rosalina Photo Verified Writer Melia Rosalina

Menulis untuk belajar.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya