Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ayah dan anak laki-lakinya (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi ayah dan anak laki-lakinya (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kisah dalam memoar Broken Strings karya Aurélie Moeremans membuka mata banyak orang tentang bagaimana luka emosional, manipulasi, dan kekerasan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Relasi yang abusif sering kali berakar dari pola asuh dan dinamika keluarga, terutama pada anak laki-laki. Cara seorang anak dibesarkan, bagaimana ia diajarkan memandang diri sendiri, perempuan, kekuasaan, dan emosi, akan sangat menentukan sosoknya saat dewasa.

Dari cerita Aurélie, kita belajar bahwa parenting bukan sekadar soal kasih sayang, tetapi juga tentang batasan, tanggung jawab, dan keberanian orangtua untuk tidak membenarkan perilaku salah. Anak laki-laki yang dibesarkan tanpa empati dan kesadaran emosional berisiko tumbuh dengan sikap posesif bahkan abusive. Karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami bagaimana membesarkan anak laki-laki dengan sehat. Bukan untuk menjadi 'raja kecil', tetapi menjadi pribadi yang aman, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Yuk, simak di bawah ini, beberapa tips parenting untuk anak laki-laki!

1. Hindari parenting dengan gaya otoriter yang terlalu permisif

ilustrasi ayah dan anak laki-lakinya (pexels.com/August de Richelieu)

Penelitian Psikoislamedia Jurnal Psikologi bertajuk Pola Asuh Otoriter dan Perilaku Agresi Verbal pada Siswa (2022) menunjukkan bahwa cara orangtua mendampingi anak sangat berpengaruh pada bagaimana anak mengelola emosi dan bersikap pada orang lain. Pola asuh yang terlalu keras, penuh kontrol, dan minim ruang dialog kerap membuat anak tumbuh dengan kemarahan yang terpendam. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu membebaskan tanpa batasan juga berisiko, karena anak tidak terbiasa memahami konsekuensi, empati, maupun rasa hormat terhadap orang lain. Dalam jangka panjang, dua ekstrem ini sama-sama bisa memicu perilaku agresif.

Karena itu, penelitian menjadi pengingat bahwa pengasuhan adalah proses belajar bersama. Ketika anak, terutama anak laki-laki, dibesarkan dengan kombinasi kasih sayang, batasan yang jelas, dan komunikasi yang sehat, mereka lebih punya peluang tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengelola emosi tanpa melampiaskannya secara kasar. Parenting yang reflektif dan mau berbenah justru menjadi langkah penting untuk memutus pola kekerasan sejak dini.

2. Keterlibatan atau kehadiran figur ayah menjadi hal yang penting

Ilustrasi anak dan ayah saling memandang (freepik.com/freepik)

Penting untuk dipahami sejak awal bahwa tidak semua anak tumbuh dalam struktur keluarga dengan dua orangtua, atau dengan figur ayah yang hadir secara fisik. Namun, berbagai riset yang dilansir Psychology Today menunjukkan bahwa kehadiran figur ayah, baik secara langsung maupun dalam peran yang konsisten dan bertanggung jawab, memberi kontribusi positif bagi perkembangan anak laki-laki. Kehadiran ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang contoh sehari-hari tentang bagaimana bersikap, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan secara berulang.

"Penelitian longitudinal menunjukkan adanya korelasi antara perilaku ayah dan anak laki-lakinya, terutama dalam hal kepatuhan terhadap hukum dan norma sosial. Anak laki-laki dengan figur ayah yang taat aturan secara signifikan lebih kecil kemungkinannya terlibat perilaku menyimpang," tulis Daniel Flint Ph.D., pediatric psychologist, melalui Psychology Today.

Meski begitu, contoh ayah bukanlah takdir mutlak, banyak anak tetap tumbuh menjadi pribadi baik meski ayahnya memiliki rekam jejak buruk. Namun, data ini menegaskan satu hal penting: figur ayah berperan sebagai referensi awal tentang bagaimana menjadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab di tengah masyarakat.

Keterlibatan ayah juga sangat krusial dalam komunikasi yang sensitif, termasuk soal relasi, seksualitas, dan batasan. Riset menunjukkan bahwa dalam banyak keluarga, ayah menjadi pihak yang memulai 'the talk' dengan anak laki-laki, meski ironisnya banyak ayah merasa tidak percaya diri melakukannya. Padahal, anak sangat membutuhkan figur yang aman untuk bertanya. Bahkan ketika ayah tidak tinggal serumah, keterlibatan yang konsisten tetap memberi dampak positif.

3. Ajarkan regulasi emosi, bukan represi emosi

ilustrasi keakraban ayah anak (pexels.com/Nathan Cowley)

Orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak mengenali dan mengelola emosinya sejak dini. Alih-alih langsung melarang anak menangis, marah, atau kecewa, pendekatan yang lebih sehat adalah menjadi emotion coach. Hal ini disampaikan oleh Kristin A. Buss Ph.D., Tracy Winfree and Ted H. McCourtney Professor in Children, Work, and Families lewat Psychology Today. Menurutnya, emotion coach ini caranya dengan mendampingi anak untuk memahami apa yang sedang ia rasakan lalu membimbing cara mengekspresikannya dengan aman. Ketika emosi tidak ditekan atau diabaikan, anak belajar bahwa perasaan mereka valid dan bisa dikelola, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa kemampuan regulasi emosi yang dibangun sejak kecil berkaitan erat dengan kesehatan mental dan relasi sosial di masa depan. Anak yang terbiasa diajak mengenali emosinya cenderung lebih mampu mengelola stres, berempati, dan membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, represi emosi justru berisiko membuat anak kesulitan memahami dirinya sendiri. Represi emosi juga bisa menyebabkan ledakan agresi di kemudian hari. Karena itu, mengajarkan regulasi emosi bukan soal memanjakan perasaan, melainkan membekali anak dengan keterampilan hidup yang akan mereka bawa hingga dewasa.

4. Pola asuh terlalu permisif bisa membuat anak tumbuh bak superior

Ilustrasi Type C Parenting (pexels.com/Elina Fairytale)

Pola asuh yang terlalu permisif sering kali berangkat dari niat baik: ingin anak merasa dicintai, dilindungi, dan bahagia. Namun, ketika kehangatan tidak diiringi dengan batasan yang jelas, anak (termasuk anak laki-laki) bisa tumbuh tanpa pemahaman tentang tanggung jawab, empati, dan konsekuensi. Mereka terbiasa diprioritaskan, dibela, atau 'dimaklumi' apa pun perilakunya, sehingga tanpa sadar belajar bahwa kebutuhan dan keinginannya selalu harus didahulukan dibanding orang lain.

Hal ini sejalan dengan temuan Psychology Today yang ditulis oleh Jeffrey Bernstein Ph.D., parent coach and psychologist, yang menyebutkan bahwa, "Children of permissive parents may… feel entitled and be more interested in taking rather than giving in their own relationships."

Ketika anak tidak diajarkan batas sejak dini, ia berisiko membawa rasa berhak itu ke dalam relasi dewasa. Mereka cenderung merasa sulit menerima penolakan, kritik, atau batasan dari pasangan. Karena itu, memberikan batas bukan berarti kurang sayang. Melainkan bentuk kasih yang sehat, membantu anak memahami bahwa ia berharga, tetapi bukan pusat dari segalanya.

Itu dia beberapa tips parenting yang bisa diterapkan kepada anak laki-laki agar tumbuh lebih baik dan tidak abusive. Semoga bermanfaat!

Editorial Team