Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penelitian Ungkap Orangtua Punya Anak Favorit, Siapa Paling Disayangi?

Penelitian Ungkap Orangtua Punya Anak Favorit, Siapa Paling Disayangi?
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ellyfairytale)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan banyak orangtua tanpa sadar memiliki anak favorit, dengan kecenderungan lebih menyukai anak perempuan karena dianggap lebih mudah diasuh dan jarang bermasalah.
  • Faktor seperti urutan kelahiran, kepribadian yang mudah diatur, serta kesamaan nilai dan pandangan hidup turut memengaruhi kedekatan emosional antara orangtua dan anak.
  • Favoritisme dapat berdampak pada kesehatan mental anak; yang merasa kurang disukai berisiko mengalami kecemasan atau depresi, sehingga penting bagi orangtua bersikap adil dan peka terhadap perasaan tiap anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah gak sih kamu atau saudaramu bercanda soal siapa anak kesayangan orangtua? Biasanya, orangtua akan langsung menjawab, "Mama atau Papa sayang semua anak sama kok". Meski terdengar meyakinkan, ternyata sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak orangtua memang cenderung memiliki anak yang lebih disukai, meskipun mereka sering kali tidak menyadarinya.

Kabar baiknya, favoritisme ini bukan berarti orangtua mencintai anak yang lain lebih sedikit. Namun, penelitian menemukan ada pola tertentu yang membuat sebagian anak lebih sering mendapat perhatian, kepercayaan, atau perlakuan istimewa. Lantas, siapa yang paling sering menjadi "anak favorit"? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Anak perempuan lebih sering menjadi favorit orangtua

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/cottonbro)

Sejumlah penelitian, termasuk meta-analisis peneliti dari Brigham Young University dan Western University terhadap lebih dari 19 ribu partisipan, menemukan bahwa anak perempuan cenderung lebih sering mendapat perlakuan istimewa dibandingkan anak laki-laki. Menurut peneliti Alex Jensen, dikutip dari Parents, pola ini terlihat baik pada ibu maupun ayah.

Jensen menduga salah satu alasannya karena anak perempuan umumnya dianggap lebih mudah diasuh dan lebih jarang menunjukkan masalah perilaku. Meski begitu, temuan ini hanya menunjukkan kecenderungan secara umum, sehingga bukan berarti semua keluarga memiliki pola favoritisme yang sama.

2. Anak sulung biasanya diberi kepercayaan lebih besar

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/ellyfairytale)

Selain jenis kelamin, urutan kelahiran juga memengaruhi perlakuan orangtua. Penelitian menunjukkan, bahwa anak sulung cenderung mendapat lebih banyak kebebasan, kepercayaan, dan otonomi dibandingkan adik-adiknya. Menurut Alex Jensen, kepercayaan tersebut bahkan sering kali tetap diberikan meski anak sudah beranjak dewasa.

Tak sedikit orangtua yang tanpa sadar terus mengandalkan anak sulung untuk membantu keluarga atau memikul tanggung jawab lebih besar. Karena itu, mereka kerap dianggap sebagai "anak andalan" di rumah.

3. Anak yang mudah diatur juga lebih mudah menjadi favorit

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/george-chambers)

Kepribadian anak ternyata ikut memengaruhi kecenderungan favoritisme. Anak yang dikenal ramah, bertanggung jawab, disiplin, dan mudah bekerja sama lebih sering diperlakukan secara positif oleh orangtua.

"Anak-anak yang lebih mudah bekerja sama atau lebih bertanggung jawab memang cenderung lebih disukai. Temuan ini juga konsisten di berbagai kategori," ujar Jensen.

Menurut Jensen, anak-anak dengan sifat ini umumnya memang lebih mudah diasuh sehingga interaksi sehari-hari bersama orangtua terasa lebih nyaman. Sebaliknya, anak yang tidak patuh bisa membuat hubungan menjadi lebih penuh konflik. Meski begitu, setiap anak memiliki karakter yang berbeda dan inilah tantangan dalam mengasuh anak.

4. Kesamaan nilai juga memengaruhi hubungan orangtua dan anak

ilustrasi pengantin perempuan dan ibu memandangi cermin dengan bahagia
ilustrasi pengantin perempuan dan ibu memandangi cermin dengan bahagia (pexels.com/cristian-rojas)

Saat anak beranjak dewasa, faktor yang paling memengaruhi kedekatan dengan orangtua ternyata bukan lagi prestasi atau pekerjaan, melainkan kesamaan nilai dan pandangan hidup. Profesor sosiologi dari Purdue University, Dr. J. Jill Suitor, dikutip dari New York Times, menemukan bahwa orangtua cenderung lebih dekat dengan anak yang memiliki pandangan serupa, termasuk tentang agama, politik, dan nilai-nilai keluarga.

"Yang paling menentukan, tanpa diragukan lagi, adalah apakah orang tua dan anak memiliki nilai-nilai yang sama," ujar Suitor.

Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pencapaian karier, masalah hukum, bahkan kecanduan tidak selalu menentukan apakah seorang anak menjadi favorit atau tidak. Kedekatan emosional justru lebih dipengaruhi oleh rasa saling memahami.

5. Favoritisme orangtua bisa berdampak pada kesehatan mental anak

ilustrasi ibu dan anak berbincang
ilustrasi ibu dan anak berbincang (pexels.com/shkrabaanthony)

Para peneliti menegaskan, bahwa dampak favoritisme lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana anak memandang perlakuan orangtuanya. Artinya, meskipun orangtua merasa sudah bersikap adil, anak bisa saja tetap merasa diperlakukan berbeda.

Menurut Jensen, anak yang menjadi favorit cenderung memiliki kesehatan mental lebih baik, berprestasi di sekolah, dan menjalin hubungan keluarga yang lebih harmonis. Sebaliknya, anak yang merasa kurang disukai lebih berisiko mengalami kecemasan, depresi, hubungan keluarga yang renggang, hingga prestasi akademik yang lebih rendah. Dampaknya pun dapat bertahan hingga mereka dewasa.

Karena itu, penting bagi orangtua agar lebih peka terhadap perasaan setiap anak dan menghindari perlakuan yang bisa dianggap pilih kasih. Meluangkan waktu berkualitas secara seimbang serta menunjukkan kasih sayang sesuai kebutuhan masing-masing anak dapat membantu mereka merasa sama-sama dihargai dan dicintai.

Pada akhirnya, setiap anak ingin merasa dicintai dan diperlakukan adil oleh orangtuanya. Karena itu, menunjukkan perhatian dan kasih sayang secara seimbang bisa menjadi langkah sederhana untuk membangun hubungan keluarga yang lebih hangat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More