"Mereka tetap melakukannya meskipun ada risikonya. Mereka mungkin melihat teman, keluarga mengunggah, dan berpikir, semua orang melakukannya, apa yang bisa terjadi?" jelas Yaniv.
Pentingnya Melindungi Privasi Anak di Medsos, Bolehkah Ngontenin Anak?

Unggahan tentang anak dapat meninggalkan jejak digital dan membawa risiko terhadap data biometrik, identitas, serta keamanan mereka.
Orangtua perlu mempertimbangkan motivasi, risiko masa depan, nilai keluarga, dan kesediaan anak sebelum membagikan konten.
Melibatkan anak dalam keputusan privasi sejak dini membantu membangun kebiasaan menghormati perasaan dan batasan emosional mereka.
Sebagai orangtua, kamu mungkin senang berbagi momen keseruan anak di media sosial. Membagikan potret si kecil, tingkahnya yang lucu, bahkan membagikan perkembangannya kepada publik. Namun, setiap unggahan juga menyimpan informasi pribadi yang dapat dilihat, disimpan, bahkan disebarluaskan oleh orang lain.
Menjaga privasi anak di media sosial memang sebaiknya menjadi concerns yang tidak boleh diabaikan oleh orangtua. Sebaiknya keduanya bisak dalam menentukan foto, video, maupun informasi tentang anak yang layak dibagikan ke publik. Berikut adalah beberapa poin yang tidak boleh diabaikan terkait perlindungan privasi anak di media sosial.
1. Apakah aman membagikan foto dan video anak ke media sosial?

ilustrasi anak bermain ponsel (pexels.com/Katerina Holmes) Orangtua gemar berbagi foto anak mereka kepada publik, bahkan sebelum anak tersebut lahir. Misalnya dengan pengumuman kehamilan yang menyertakan hasil USG. Melansir laman American Psychological Association, ekosistem digital saat ini tak hanya memanfaatkan foto atau video tersebut sebagai kenangan. Berkat kemajuan teknologi hingga pengaruh algoritma, informasi detail menciptakan jejak digital yang membawa risiko yang mungkin tak dapat diantisipasi oleh orangtua. Sebab, setiap platform media sosial memiliki kebijakan dan algoritmanya masing-masing.
Misalnya AI, meningkatkan pengembangan informasi secara berlebihan. Wajah dan rupa anak yang merupakan data biometrik sensitif dapat disalahgunakan menggunakan fitur kecerdasan buatan. Teknologi meningkatkan kemungkinan terjadinya perundungan siber, pencurian identitas, dan bentuk penyalahgunaan data lainnya.
Yaniv Hanoch, PhD, Professor of decision science di University of Wolverhampton, Inggris menemukan bahwa orangtua pada dasarnya memahami risiko yang dihadapkan dari perbuatan mereka. Namun, melihat teman mereka membagikan konten anak, memperkuat persepsi bahwa mengunggah tentang anak adalah hal yang umum dan bisa diterima.
2. Hati-hati dengan predator online

ilustrasi anak dan ibu memegang ponsel (pexels.com/Kampus Production) Mengunggah foto anak dengan audiens publik menciptakan risiko seperti kontak yang tidak diinginkan atau paparan predator online, menurut laman Social Media and Youth Mental Health. Tak ada yang dapat memastikan keamanan anak di media sosial, namun juga bukan berarti menampilkan foto atau video anak adalah hal yang buruk.
Untuk itu, setiap orang perlu mempertimbangkan motivasi mereka untuk mengunggah foto anak. Selain itu, pertimbangkan pula potensi risiko untuk yang akan terjadi di masa mendatang. Pertimbangkan keputusan manakah paling sesuai dengan nilai keluarga dan tidak mempengaruhi pemenuhan kebutuhan anak saat ini dan masa depan.
3. Pertimbangkan risiko dan kesediaan anak

ilustrasi anak bermain media sosial (pexels.com/Kampus Production) Sebuah penelitian berjudul "Parents’ Sharenting Behaviours' menemukan bahwa alasan orangtua gemar mengunggah foto anak mereka didasari oleh berbagai alasan. Seperti kepuasan emosional, sebagai kenangan atau memori, validasi sosial, meningkatkan tambahan keuangan, atau untuk membentuk kesan publik tentang diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Sementara sebagian anak menghargai ide tersebut, namun ada pula yang merasa keberatan, terlebih tanpa persetujuan.
Riset yang sama juga menunjukkan berbagi foto atau video anak di media sosial dapat membahayakan privasi dan identitas digital anak. Selain itu berpotensi mengakibatkan konflik dengan mengabaikan hak mereka. Tanggapan anak terkait hal ini juga beragam, sebagian menganggap perlunya menyelaraskan niat orangtua dengan menjaga masa depan digital anak dan kesejahteraan secara keseluruhan. Peneliti menyarankan agar orangtua berbagi dengan penuh kesadaran dan perhatian.
4. Menjadikan anak sebagai konten utama, etiskah?

ilustrasi anak dalam pengawasan orang tua saat menggunakan media sosial (freepik.com/freepik) Menurut Psikolog Anak Robyn Koslowitz, PhD, banyak orangtua menjadikan anak sebagai konten sehingga terus-menerus fokus untuk memuaskan algoritma yang rakus. Dalam laman American Psychological Association juga diterangkan bahwa orangtua akan senang ketika unggahan mereka mendapat banyak interaksi dan menjangkau audiens yang lebih luas.
“Algoritma benar-benar mengubah kepribadian kita. Alih-alih orang tua berpikir terutama sebagai orang tua, mereka berpikir sebagai pemilik bisnis atau pembuat konten,” kata Robyn dalam American Psychological Association.
Ketika pendapatan keluarga berkaitan erat dengan keterlibatan anak secara daring, maka potensi eksploitasi meningkat. Maka anak seolah menjadi bintang dari pembuatan konten sebagai cara untuk mencapai tujuan keluarga, terlebih terkait finansial. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang etika dan nilai moral. Meski terdapat undang-undang perlindungan anak berkaitan dengan pekerja anak, namun anak-anak yang tampil di konten media sosial dan diimonetisasi memiliki perlindungan hukum yang lemah. Sebab, 'majikan' mereka adalah orangtua mereka sendiri.
5. Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan terkait privasi mereka

ilustrasi anak-anak yang bermain media sosial (pexels.com/zhang kaiyv) Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan terkait dengan unggahan orangtua sangatlah penting. Pamela Wisniewski, PhD, ilmuwan di International Computer Science Institute menyarankan agar orangtua berbagi pengambilan keputusan tentang apa yang hendak diunggah ke media sosial. Menanyakan anak apakah berkenan foto atau videonya diunggah ke media sosial dapat dilakukan secara bertahap dan perlu bimbingan.
“Kita tidak ingin langsung menyerahkan semua otonomi kepada mereka pada usia 18 tahun. Kita ingin melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan di sepanjang jalan sehingga mereka dapat mulai melakukan perhitungan privasi tentang apa manfaat dari memposting ini atau apa potensi kerugiannya," ujar Pamela.
Orangtua dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini dengan mengajak anak untuk mengambil keputusan kecil tentang apa yang ingin dibagikan dan alasannya. Meski anak tidak dapat memberikan persetujuan sepenuhnya, namun orangtua harus tetap membicarakannya. Meminta persetujuan anak akan membangun kebiasaan menghormati sejak dini. Percakapan yang dilakukan pun harus memprioritaskan perasaan dan batasan emosional mereka.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)









![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Motif Batik? Uji di Hari Batik Nasional](https://image.idntimes.com/post/20241001/kuis-seberapa-jeli-matamu-menebak-batik-1-9fae9f001557d4685f9725b18e4d801a.jpg)












