ilustrasi anak bermain ponsel (pexels.com/Katerina Holmes)
Orangtua gemar berbagi foto anak mereka kepada publik, bahkan sebelum anak tersebut lahir. Misalnya dengan pengumuman kehamilan yang menyertakan hasil USG. Melansir laman American Psychological Association, ekosistem digital saat ini tak hanya memanfaatkan foto atau video tersebut sebagai kenangan. Berkat kemajuan teknologi hingga pengaruh algoritma, informasi detail menciptakan jejak digital yang membawa risiko yang mungkin tak dapat diantisipasi oleh orangtua. Sebab, setiap platform media sosial memiliki kebijakan dan algoritmanya masing-masing.
Misalnya AI, meningkatkan pengembangan informasi secara berlebihan. Wajah dan rupa anak yang merupakan data biometrik sensitif dapat disalahgunakan menggunakan fitur kecerdasan buatan. Teknologi meningkatkan kemungkinan terjadinya perundungan siber, pencurian identitas, dan bentuk penyalahgunaan data lainnya.
Yaniv Hanoch, PhD, Professor of decision science di University of Wolverhampton, Inggris menemukan bahwa orangtua pada dasarnya memahami risiko yang dihadapkan dari perbuatan mereka. Namun, melihat teman mereka membagikan konten anak, memperkuat persepsi bahwa mengunggah tentang anak adalah hal yang umum dan bisa diterima.
"Mereka tetap melakukannya meskipun ada risikonya. Mereka mungkin melihat teman, keluarga mengunggah, dan berpikir, semua orang melakukannya, apa yang bisa terjadi?" jelas Yaniv.