Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu Pick Me Mom? Simak 5 Ciri-cirinya!
ilustrasi pick me mom (unsplash.com/Vitolda Klein)
  • Istilah 'pick me mom' menggambarkan ibu yang tanpa sadar menonjolkan pilihannya sendiri dengan cara membuat ibu lain merasa kurang baik atau salah dalam mengambil keputusan.
  • Ciri khasnya antara lain suka membandingkan pilihan hidup, mengalihkan empati ke pengalaman pribadi, serta mencari validasi dengan menempatkan diri lebih benar dari ibu lain.
  • Artikel ini mengajak pembaca mengenali perilaku tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai refleksi agar lebih sadar dan tidak terjebak dalam pola komunikasi yang merendahkan sesama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di media sosial, tidak susah menemukan ibu yang komennya bikin ibu lain merasa kurang baik. Bukan bermaksud jahat, tapi caranya bicara soal pilihan hidupnya sendiri sering kali menyakitkan tanpa disadari. Perilaku seperti ini punya sebutannya sendiri di komunitas parenting, yakni pick me mom.

Pick me mom bukan karakter yang muncul tiba-tiba dan mudah dikenali. Ciri-cirinya halus dan kadang terasa wajar sampai kamu perhatikan lebih dekat. Kenali supaya kamu bisa lebih sadar, termasuk apakah karakter ini pernah muncul di diri sendiri.

1. Pilihan hidupnya selalu masuk ke percakapan orang lain

ilustrasi pick me mom (unsplash.com/Walls.io)

Pick me mom tidak sekadar nyaman dengan pilihannya sendiri. Mereka aktif membawa pilihan itu ke obrolan orang lain meski tidak diminta. Komentar seperti "aku, sih, milih resign daripada nitip anak ke daycare" muncul bukan sebagai cerita atau berbagi pengalaman, tapi sebagai perbandingan.

Ibu yang sekadar berbagi pengalaman bercerita karena konteksnya memang relevan atau karena ditanya. Pick me mom menyisipkan pilihan hidupnya ke situasi orang lain untuk menegaskan bahwa mereka ada di posisi yang lebih benar. Bedanya tipis, tapi terasa menyakitkan.

2. Empatinya cepat berbelok ke cerita tentang dirinya sendiri

ilustrasi pick me mom (unsplash.com/Tati Odintsova)

Saat ibu lain sedang kesulitan, respons pick me mom jarang berhenti di "aku ikut prihatin atas apa yang menimpa kamu." Mereka cepat sekali beralih ke pengalaman pribadi yang seolah jadi bukti bahwa mereka lebih siap atau lebih bijak. Komentar seperti "bersyukurnya aku punya pasangan yang gak menyuruh aku harus kerja apalagi harus titip anak" itu bukan empati, tapi pengalihan.

Platform yang harusnya jadi tempat saling mendukung jadi terasa seperti kompetisi. Ibu yang sedang susah malah menerima beban tambahan berupa rasa tidak cukup baik bahwa pilihan yang ia ambil merupakan dosa besar. Pick me mom tidak selalu sadar kalau mereka melakukan ini, tapi dampaknya tetap terasa.

3. Rasa puas yang mereka rasakan butuh pembanding

ilustrasi pick me mom (unsplash.com/Alexey Elfimov)

Kebanyakan ibu merasa cukup kalau anaknya tumbuh dengan baik dan keluarganya baik-baik saja. Pick me mom butuh satu lapisan lagi, yaitu merasa bahwa pilihannya lebih baik daripada pilihan ibu lain. Kepuasan itu baru lengkap kalau ada yang terlihat kurang di sebelahnya.

Makanya mereka cenderung aktif justru di momen-momen di mana ibu lain sedang rentan. Bukan untuk mendukung, tapi untuk menunjukkan posisi. Hal-hal semacam ini yang bikin terasa tidak nyaman meski kata-kata yang diucapkan tidak secara eksplisit menyerang.

4. Pilihan disampaikan dengan nada yang menempatkan pilihan lain salah

ilustrasi pick me mom (unsplash.com/BRUNO CERVERA)

Tidak ada yang keliru dengan memilih tidak bekerja, memasak sendiri untuk anak, atau tidak pakai daycare. Semua itu pilihan yang sah. Tapi, perihal pick me mom ini masalahnya bukan di pilihan hidup mereka, tapi bagaimana cara mereka menyampaikannya kepada orang lain.

"Aku gak mungkin titip anakku ke orang lain, sih" terdengar seperti pernyataan biasa. Tapi dalam konteks tertentu, kalimat itu adalah kritik terselubung untuk ibu yang melakukan sebaliknya. Pick me mom ahli membungkus penilaian sebagai cerita pribadi, tapi yang mendengar biasanya langsung bisa merasakannya.

5. Dukungan yang diberikan selalu ada syaratnya

ilustrasi pick me mom (unsplash.com/Michael Pointner)

Saat sesama ibu sedang dalam situasi berat, pick me mom tidak hadir dengan dukungan yang tulus. Ada syarat tidak tertulisnya, yaitu mereka harus tetap terlihat lebih bijak atau lebih benar dalam situasi itu. Dukungan mereka sering diikuti ucapan seperti "tapi seharusnya kamu bisa..." atau "kalau aku sih gak akan..."

Ibu yang benar-benar mendukung tidak perlu menegaskan bahwa hidupnya lebih baik untuk bisa merasa peduli. Solidaritas tidak butuh posisi menang-kalah. Pick me mom belum sampai di sana karena rasa amannya masih bergantung pada perbandingan dengan orang lain untuk merasa bahwa dirinya lebih unggul.

Ciri-ciri ini bukan checklist untuk menghakimi orang lain di sekitar kamu. Justru paling berguna kalau dijadikan cermin untuk diri sendiri sesekali. Semua orang bisa tergelincir ke pola ini tanpa sadar, dan mengenalinya lebih awal itu sudah jadi langkah yang cukup berarti. Semoga siapa pun kita tak berubah menjadi pick me mom menyebalkan di internet atau di dunia nyata itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team