Hubungan dengan orangtua sering kali dianggap sebagai tempat paling aman untuk pulang, berbagi cerita, dan mencari dukungan. Namun, tidak semua hubungan berjalan mulus. Perbedaan nilai, ekspektasi, luka lama yang belum sembuh, atau konflik yang terus berulang dapat membuat hubungan dengan orangtua menjadi retak. Situasi ini tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak disikapi dengan bijak.
Ketika hubungan dengan orangtua memburuk, banyak orang merasa terjebak antara rasa bersalah, marah, sedih, dan keinginan untuk melindungi diri sendiri. Tekanan sosial yang menuntut untuk “tetap berbakti” sering membuat perasaan ini dipendam sendirian. Padahal, menjaga kesehatan mental di tengah hubungan keluarga yang bermasalah adalah hal yang penting dan sah untuk dilakukan, demi keseimbangan emosi dan kualitas hidup yang lebih baik.
