"The simplest way teens can protect their mental health." Science Daily. Diakses Januari 2026.
Jason T. Carbone and Melynda D. Casement, “Weekend Catch-up Sleep and Depressive Symptoms in Late Adolescence and Young Adulthood: Results From the National Health and Nutrition Examination Survey,” Journal of Affective Disorders 394, no. Pt B (November 3, 2025): 120613, https://doi.org/10.1016/j.jad.2025.120613.
Alasan Tidur Akhir Pekan Penting untuk Kesehatan Mental Remaja

- Remaja dan dewasa muda yang “mengejar tidur” di akhir pekan memiliki risiko gejala depresi 41 persen lebih rendah.
- Pola tidur remaja secara biologis cenderung lebih malam, sehingga kurang tidur di hari sekolah sulit dihindari.
- Tidur cukup dan fleksibel dipandang sebagai strategi sederhana namun realistis untuk melindungi kesehatan mental remaja.
Bagi banyak remaja, akhir pekan mungkin waktunya mereka bangun lebih siang. Kebiasaan ini kerap dianggap malas atau tidak sehat. Namun, riset terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi salah satu cara paling mudah bagi remaja untuk melindungi kesehatan mental mereka.
Penelitian dari University of Oregon dan State University of New York Upstate Medical University, Amerika Serikat, menemukan bahwa remaja dan dewasa muda usia 16–24 tahun yang menambah waktu tidur di akhir pekan memiliki risiko gejala depresi yang jauh lebih rendah. Dibandingkan dengan mereka yang tidak “membayar utang tidur”, kelompok ini menunjukkan penurunan risiko depresi hingga 41 persen.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders ini memperkuat bukti bahwa tidur memegang peran penting dalam kesehatan mental remaja. Di usia yang rentan secara emosional, tidur sering kali menjadi kebutuhan yang paling sulit dipenuhi secara konsisten.
Remaja dihadapkan pada tuntutan yang padat, bikin mereka mengorbankan waktu tidur
Remaja dihadapkan pada tuntutan yang padat: sekolah, tugas akademik, kegiatan ekstrakurikuler, pertemanan, hingga pekerjaan paruh waktu. Semua itu sering “mengorbankan” jam tidur di hari sekolah. Akibatnya, utang tidur menumpuk.
Para peneliti mengakui bahwa anjuran ideal tidur 8–10 jam setiap malam memang sulit diterapkan dalam kehidupan nyata. Ketika target tersebut tidak tercapai di hari kerja atau sekolah, tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi bentuk kompensasi yang masuk akal dan bermanfaat.
Menurut psikolog Melynda Casement, salah satu penulis studi ini, kecenderungan remaja untuk tidur lebih larut adalah hal yang normal secara biologis. Memberi ruang bagi mereka untuk mengejar tidur di akhir pekan, alih-alih melarangnya, justru bisa memberikan efek protektif terhadap kesehatan mental.
Ritme biologis dan kesehatan mental remaja

Perubahan ritme sirkadian selama masa remaja membuat tubuh secara alami lebih sulit tertidur lebih awal. Remaja cenderung menjadi “night owl”, dengan waktu tidur alami bergeser hingga usia akhir remaja atau awal 20-an. Pola ini sering berbenturan dengan jam masuk sekolah yang terlalu pagi.
Bagi banyak remaja, waktu tidur biologis ideal mereka berada di kisaran pukul 23.00 hingga 08.00. Ketika jam sekolah menuntut bangun lebih pagi, kurang tidur menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan. Inilah alasan mengapa banyak pakar kesehatan mendukung penundaan jam masuk sekolah sebagai langkah kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, kesehatan mental remaja merupakan isu serius. Depresi menjadi salah satu penyebab utama gangguan fungsi sehari-hari pada kelompok usia ini, mulai dari kesulitan belajar hingga masalah dalam pekerjaan dan relasi sosial. Dalam konteks tersebut, tidur akhir pekan yang lebih panjang bisa menjadi strategi sederhana guna membantu menjaga keseimbangan mental di masa pertumbuhan yang krusial.
Referensi


















